levitra soft 20 mg
Minggu , 21 Desember 2014
INFO
Home / ISLAM / Allah / MELIHAT ALLAH

MELIHAT ALLAH

oleh :Archa (forum-swaramuslim)

Kita berangkat dari cara berpikir umat Kristen apabila ditanya tentang eksistensi Tuhan yang bisa menjelma menjadi manusia dengan jawaban :”Terserah Tuhan donk, Dia khan Maha Kuasa, mau menjelma jadi manusia, mau jadi trinitas atau apapun tentu saja Dia bisa melakukannya”. Maka jawaban tersebut bisa juga dipakai untuk menjelaskan eksistensi Tuhan menurut Al-Qur’an, bahwa Tuhan juga punya Kuasa untuk menjadikan diri-Nya :
[42:11]…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.[112:4] dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Jadi kalau berdasarkan informasi dari sumber lain yang menyatakan bahwa Tuhan bisa saja menjelma menjadi apapun yang Dia mau, maka kita juga harus menerima bahwa Tuhan juga bisa ‘tidak setara dengan apapun’ atau juga ‘tidak menyerupai sesuatupun’, dan itu memang maunya Dia sesuai apa yang disampaikan dalam Al-Qur’an.

Penjelasan kedua ayat ini memastikan bahwa eksistensi/wujud Tuhan tidak bisa dijangkau oleh panca indera kita, karena kalau bisa maka tidak sejalan dengan pernyataan tersebut.Dalam ayat lain, Allah mengkonfirmasikan :
[6:103] Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Logika yang kita pakai untuk menerima Tuhan yang menjelma menjadi manusia karena Tuhan punya Kuasa untuk menjadi apapun yang Dia inginkan, bisa juga kita pakai untuk menerima pernyataan Al-Qur’an ini.

Lalu menjawab pertanyaan : “Mengapa melalui Panca Inderanya tidak dapat mendeteksi KEBERADAAN TUHAN?”, kita robah menjadi :”Mengapa Tuhan tidak memberikan kemampuan kepada manusia untuk bisa melihat-Nya dengan panca indera..?” karena konsisten dengan alasan Kristen soal Kekuasaan Tuhan tadi, maka berdasarkan Kuasa-Nya tentu saja manusia akan bisa melihat wujud Tuhan, namun dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Tuhan tidak memberikan kemampuan panca indera manusia untuk bisa menjangkau eksistensi-Nya. Apa alasannya..???

tentu saja Tuhan tidak perlu menjelaskan apa alasan Dia tidak memberikan kemampuan tersebut, karena berdasarkan Kuasa yang Dia miliki, Tuhan bisa berbuat apapun tanpa perlu repot-repot memberikan alasan.
[7:143] Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”.

Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

Keinginan nabi Musa tersebut karena beliau ingin memperkuat keimanan, namun akhirnya nabi Musa malah bertaubat karena meminta hal tersebut. Disini digambarkan bahwa keinginan untuk bisa melihat Allah dengan panca indera merupakan hal yang tidak baik. Selanjutnya Al-Qur’an menggambarkan keinginan melihat Allah oleh Fir’aun, namun dengan cara yang agak ‘lucu’ :
[40:36] Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,

[40:37] (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.

Dasar dari keinginan Fir’aun ini adalah dalam konteks ‘menantang’ Musa, Al-Qur’an menjelaskan bahwa perbuatan ini adalah perbuatan buruk, sekalipun Fir’aun menganggapnya baik. Selanjutnya Al-Qur’an menjelaskan keinginan manusia lain, yaitu kaum Yahudi umat nabi Musa yang ingin melihat Allah dengan panca indera, dasar dari keinginan ini adalah keingkaran, yaitu setelah Allah memberikan bukti keberadaan-Nya melalui ‘tanda-tanda’ yang disampaikan nabi Musa, namun Yahudi meminta lebih, ingin melihat Tuhan. Al-Qur’an menggolongkan tindakan ini adalah suatu kezaliman dan mendapat hukuman dari Allah :
[2:55] Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”.

[4:153] Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata : “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya,..Kemudian ada satu ayat yang menggambarkan kondisi di akherat, yaitu penyesalan dari orang-orang yang tersesat di dunia :
[25:21] Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”.

Itupun dikatakan Al-Qur’an sebagai suatu kezaliman dan tindakan ‘memandang besar diri sendiri’.Jadi kesimpulannya, Al-Qur’an menyampaikan bahwa Tuhan tidak memilih berdasarkan Kuasa-Nya agar manusia bisa menjangkau eksistensi-Nya dengan panca indera, dan Tuhan juga telah menetapkan bahwa keinginan ataupun permintaan untuk hal tersebut merupakan suatu kezaliman. Dari sisi manusianya sendiri, kita tentu boleh-boleh saja memikirkan apa alasannya, misalnya :”Melihat matahari saja mata kita tidak sanggup, bagaimana pula halnya kalau kita melihat Tuhan yang menciptakan matahari..??”. Tapi itu hanya berdasarkan akal pikiran kita sekalipun memang alasan tersebut masuk akal.

Lalu ada pertanyaan : “Bagaimana Al-Qur’an mengajarkan manusia sehingga dapat mengenal Tuhan yang tidak terdeteksi melalui panca indera manusia..?”. Yang bisa dideteksi dengan panca indera kita adalah tentang ‘tanda-tanda’ keberadaan Tuhan, dan bukan tentang eksistensi/wujud Tuhan itu sendiri. Tanda-tanda tersebut bisa dijangkau oleh panca indera kita dan juga akal pikiran kita. Malah melalui Al-Qur’an, Allah mewajibkan setiap manusia untuk mengamati dengan panca inderanya dan memikirkan dengan akal pikirannya terhadap ‘tanda-tanda’ keberadaan Tuhan ini, agar kita bisa meyakini bahwa Tuhan tersebut memang ada/eksis/wujud.


[41:53] Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

[41:39] Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[40:81] Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?

[40:13] Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).

[2:164] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

[10:24] Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.

[57:17] Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.

Intinya adalah segala yang ada di alam semesta merupakan bukti tentang eksistensi Allah, tapi ini tentu hanya berlaku bagi orang yang melihat dengan ‘hati’ dan mampu berpikir :


[22:46] maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

[6:25] Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.”

[45:23] Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Ternyata yang dikatakan ‘mampu’ melihat tanda-tanda eksistensi Allah itu bukan hanya terbatas pada pandangan mata atau mendengar dengan telinga saja, tapi mata dan telinga yang dibimbing oleh hati yang tunduk dan tulus ingin mengetahui eksistensi Tuhan. Jadi tidak aneh kalau banyak mahasiswa sekolah seminari yang khusus mempelajari Al-Qur’an, sekalipun sudah membaca Al-Qur’an seluruhnya dan berkali-kali, namun karena dasarnya punya niat yang tidak baik, maka Al-Qur’an tidak akan bisa menjadi petunjuk agar mereka kembali kejalan yang benar, malah semakin dibaca semakin tersesat, dan yang rugi tentunya diri mereka sendiri. Sebaliknya bagi orang yang punya niat baik dan tulus, benar-benar ingin mengenal Allah dan ingin mendapat bimbingan-Nya, maka tidak perlu harus melihat Tuhan dengan panca indera, Allah akan memberikan bimbingan pengenalan kepada-Nya melalui tanda-tanda keberadaan Tuhan dan orang tersebut makin mengenal Allah tanpa harus melihat wujud-Nya :


[21:49] (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.

[35:18] Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).

[5:94] Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.

Dengan konsep ketuhanan ini, kita bisa bertanya :”Apa akibatnya terhadap persepsi dan gambaran yang muncul dari seorang Muslim terhadap Tuhannya..?”.

Katakanlah ketika seorang Muslim bersujud di tengan malam, sendirian , mengadu kepada Tuhannya tentang masalah yang tengah dihadapi, atau ketika seorang Muslim terjebak dalam situasi hidup mati dan tidak ada tempat atau sesuatu untuk minta tolong kecuali Allah, lalu Muslim tersebut berteriak :”Yaa..Allah, tolonglah hamba-Mu ini…!!”. Apa yang tergambar di kepalanya tentang wujud Tuhan..??

Saya pastikan TIDAK ADA SATUPUN MUNCUL WUJUD (BENTUK) DALAM PIKIRANNYA…, tapi yang ada adalah suatu keyakinan bahwa Allah itu ADA, Kekuasaan-Nya SANGAT DEKAT, Dia pasti MENDENGAR jeritan minta tolong si Muslim, Dia BERKUASA untuk menolong, kalau Dia sudah menolong TIDAK ADA SESUATUPUN YANG BISA MENGHALANGI. Begitulah eksistensi Tuhan yang selalu ada dalam hati setiap Muslim. Sekarang kita berandai-andai kalau kita menjadi seorang Kristen.

Ketika kita menyeru :” Yesus..!! tolonglah saya..!!”, apa yang tergambar dalam hati dan pikiran kita..??? Tentu saja akan muncul sosok laki-laki, berambut panjang, hidung mancung Eropah, ganteng, pakai janggut, mungkin telanjang cuma pakai sepotong kain. Atau kita berdo’a :”Bapa yang ada di surga..”, apa yang tergambar di kepala kita..?? tentu saja gambaran seorang tua berjanggut putih, pasti berkulit putih, mukanya teduh dan penuh senyum seperti muka pak Harto. Dimanakah Bapa..??

tentu saja bukan berada didepan atau disamping kita, tapi nun jauh di surga, diatas awan, Bapa melihat dari kejauhan. Kalaupun kita meminta :”Yaa Ruh Kudus….!!”, pasti gambaran yang muncul adalah seekor burung merpati yang turun dari langit. Lebih hebat lagi, bagaimana kalau kita menyebut ketiga-tiganya :”Bapa, Yesus dan Ruh Kudus…, tolonglah saya….!!”, gambarang yang muncul dalam hati dan pikiran adalah ketiga-tiganya berjejer dengan wujudnya masing-masing. Dan Kristen akan bersusah-payah menipu dirinya sendiri untuk ‘memblender’ ketiga wujud tersebut menjadi satu…

sumber :forum-swarsmuslim.net

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

9 comments

  1. gooooood, aduh puyeng. macana ^_^@@@@@@@

  2. abah.rajan@yahoo.co.id

    kalau selama ini kita selalu hanya dikenal kan tanda tanda angan angan katanya dan seolah terus kapan tau aslinya…………

    • kalau saya berfikir tentang wujud Tuhan secara logika dari memikirkan ciptaan-Nya : dari sebuah meja, meja dibuat dari kayu, kayu terbuat dari tanaman, tanaman terbuat dari : air, tanah, cahaya matahari (api), udara atau oksigen (angin) yang menyatu menjadi tanaman yang hidup. Lalu air, tanah, cahaya matahari (api), udara/oksigen terbuat dari apa?
      jawabanya pasti dari suatu kumpulan zat-zat.

      Zat-zat itu terbuat dari apa?
      tentunya logikanya dari sesuatu yang satu kesatuan, karena sifatnya yang dapat menyatu menjadi sesuatu kesatuan (makhluk hidup). Gambaran : manusia memakan tumbuhan dan daging hewan yang akhirnya menyatu membentuk suatu protein yang menjadikan sperma dan sel telur yang membuahkan suatu keturunan manusia, kemudian anak manusia itu mati, dikubur dimakan oleh pengurai (cacing, bakteri, dsb) sehingga diurai lagi dan berubah menjadi makanan tumbuhan, kemudian tumbuhan itu dimakan binatang ternak, kemudian binatang ternak itu dimakan lagi oleh manusia (demikian seterusnya zat-zat berputar terus-menerus), FAKTA INI membuktikan bahwa SEMUA ZAT-ZAT YANG ADA DI DUNIA INI berasal dari 1 sumber yang dulunya menyatu, yang terpisah kemudian dapat menyatu kembali, terpisah kembali dan akhirnya menyatu kembali.

      Pertanyaannya apa sumber dari zat-zat tersebut?
      jawabannya Dia adalah Dzat = sumber dari zat-zat.
      Tentunya Dia yang menghendaki pembentukan/ penciptaan segala sesuatu, berkehendak mematikan dan menghidupkan segala sesuatu, berkehendak menumbuhkan segala sesuatu, berkehendak menuakan segala sesuatu, berkehendak mempercepat dan melambatkan segala sesuatu yang dibentuk/diciptakan-Nya, tentunya diluar kemampuan makhluk-Nya termasuk manusia.

      Mungkinkah “Dzat” itu dapat dilihat dengan mata? jawaban logika nya adalah “TIDAK MUNGKIN”
      Jadi Kapan TUHAN dapat dilihat? adalah ketika semua zat-zat dikembalikan dan menyatu kembali dalam 1 kesatuan seperti dulu sebelum adanya alam semesta ini, maka Wujud Tuhan secara utuh dapat terlihat.Tapi apakah itu mungkin? wong mata kitanya saja sudah dikembalikan pada wujud TUHAN yang sebenarnya.

      Jadi Manusia melihat WUJUD ASLI TUHAN dengan MATA itu tidaklah mungkin secara LOGIKA.

      mudah-mudahan bermanfaat…

    • Pertanyaan : Kenapa wujud TUHAN tidak dapat disamakan dengan apapun?
      karena apapun sesuatu seperti makhluk hidup, semisal manusia adalah merupakan wujud sesuatu yang dibentuk dari sebagian zat-zat, sedangkan TUHAN adalah sesuatu yang membentuk dan asal dari zat-zat itu dan Wujudnya yang Maha Sempurna tidak dapat disamakan dengan sebagian zat-zat dari-Nya.

      Dimana kedudukan manusia?
      adalah sesuatu yang dikuasai oleh kumpulan zat-zat itu, yang umur dan kekuatanya ditentukan oleh zat-zat itu (tubuhnya).

      • disini telah dijelaskan dalam injil bahwa kerajaan Tuhan (Allah) adalah ada pada dirimu sendiri, maksudnya adalah zat-zat yang membentuk tubuh manusia dan menguasai manusia.

      • jika karena asal dzat kemudian mengartikan kerajaan Tuhan ada dalam diri manusia, apakah kerajaan tuhan juga ada dalam sebongkah batu?? mengingat segala yang ada di alam semesta berasal dari satu sumber

      • disini telah dijelaskan dalam injil bahwa kerajaan Tuhan (Allah) adalah ada pada dirimu sendiri, maksudnya adalah zat-zat yang membentuk tubuh manusia dan menguasai manusia.
        ======================
        Bisa tolong kemukakan dalilnya? Cukup dari Alkitab saja.
        Sehingga kamu bisa berkesimpulan “maksudnya adalah zat-zat yang membentuk tubuh manusia dan menguasai manusia.”??
        Mudah2an bukan hanya sekedar asumsi belaka ya:)

        Jika memang logika mu seprti itu yakni “kerajaan Allah ada pada diri manusia”, oke kita coba ikuti, sekarang pertanyaannya:
        1. Samakah kerajaan Allah (benda/zat) dengan Allah yang menciptakan kerajaan (benda/zat) itu sendiri?
        2. Jika sama, penjelasannya bagaimana?
        3. Jika tidak sama terus maknanya apa? Masih PANTASKAH
        manusia (yang memiliki sifat2 “kerajaan Allah”) menyamakan dirinya dengan Allah yang menciptakan Kerajaan tsb?
        4. dengan pernyataanmu ini, Apakah kamu juga bermaksud bahwa yang menciptakan itu Satu atau berbilang?

      • disini telah dijelaskan dalam injil bahwa kerajaan Tuhan (Allah) adalah ada pada dirimu sendiri, ……
        ———————————————-
        loooh…..sebetulnya di mana sih Kerajaan Allah itu ?

        “Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?”* Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: /”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Matius 21:31)

      • Ada 2 pernyataan:
        1. disini telah dijelaskan dalam injil bahwa kerajaan Tuhan (Allah) adalah ada pada dirimu sendiri, maksudnya adalah zat-zat yang membentuk tubuh manusia dan menguasai manusia.

        2. sedangkan TUHAN adalah sesuatu yang membentuk dan asal dari zat-zat itu dan Wujudnya yang Maha Sempurna tidak dapat disamakan dengan sebagian zat-zat dari-Nya.

        =================================
        Yang membentuk zat2 yang membentuk manusia (Menciptakan zat2), atau Yang merupakan asal dari zat2 yang membentuk manusia tsb (artinya zat2 pembentuk tsb bergantung pada “asalnya”)

        Hal ini sudah diterangkan dalam Quran 112:1-4
        A’uudzubillahiminassyaithoonirrojiiimm:
        Bismillaahirrohmaanirrohii,..

        1.Katakanlah, “Allah itu Esa”
        2.Allah, Segala sesuatu bergantung pada-Nya (Allah)
        3.Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan
        4.Dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya

        Setara, sekutu, sebanding, setanding, serupa, sama, seimbang, menyerupai, diserupai….

        jadi masih pantaskan manusia mensifatkan dirinya dengan Tuhan? Atauh Tuhan mensifatkan diriNya dengan manusia??

        Dan adakah agama lain yang menerangkan konsep ketuhanan mutlak esa seperti dalam firman Quran diatas?

        Tanpa berbelit2,muter2,memaksakan bahwa manusia bisa menjadi Tuhan yang setara dengan Tuhan yang menciptakannya, dan masih dibilang juga Tuhan itu satu, padahal jelas2 ketika ada sesuatu yang menyerupai lainnya maka yang diserupai sudah TIDAK UNIK lagi dan TIDAK ESA lagi………..

Tinggalkan Balasan