Sabtu , 19 April 2014
INFO
Home / SEJARAH / Palestina / INTIFADHAH

INTIFADHAH

INTIFADHAH

Intifadhah –bahasa Arab untuk “melepaskan diri”– meletus pada 9 Desember 1987, di lingkungan ramai jalur Gaza dan dengan segera menyebar ke Tepi Barat, melibatkan 1,7 juta orang Palestina yang hidup di bawah pendudukan sejak 1967. Penyebab langsung pemberontakan itu terjadi pada 8 Desember, ketika sebuah truk angkatan bersenjata Israel menabrak sekelompok orang Palestina di dekat kamp pengungsi Jabalya di Jalur Gaza, membunuh empat orang dan melukai tujuh orang lainnya. Seorang pedagang Yahudi ditikam hingga mati di Gaza pada 6 Desember, dan orang-orang Palestina curiga bahwa kecelakaan lalulintas itu memang disengaja.1 Para pengamat memperkirakan bahwa orang-orang Palestina juga dimotivasi oleh dua peristiwa dramatis bulan sebelumnya: oleh tindakan berani dari seorang gerilyawan Palestina yang dengan satu tangan berhasil membunuh enam serdadu Israel dalam suatu serangan lewat pesawat layang gantung dan oleh keputusasaan karena tidak adanya dukungan bagi keadaan bangsa Palestina dari negara-negara Arab pada konferensi puncak Liga Arab di Amman.

Yang jelas, intifadhah telah melibatkan konfrontasi antara para serdadu Israel bersenjata berat dengan anak-anak muda dan kaum wanita yang hanya bersenjatakan batu. Metode-metode kekerasan Israel dalam usaha mereka untuk menekan pemberontakan telah menewaskan lebih dari seribu jiwa dan telah mendapat kecaman luas dari seluruh dunia. Sampai kini intifadhah masih terus berlanjut.


OMONG KOSONG

Dalam pandangan kami, Israel bukan hanya mempunyai hak, melainkan juga kewajiban untuk melestarikan atau mengembalikan ketertiban di wilayah-wilayah pendudukan dan menggunakan tingkat-tingkat kekerasan yang sesuai untuk mencapai tujuan itu.” –Richard Schifter, asisten menteri luar negeri untuk hak-hak asasi manusia,19882

FAKTA

Israel telah membunuh, melukai, memotong anggota badan, menyiksa, memenjarakan, atau mengusir berpuluh-puluh ribu orang Palestina dalam usaha untuk menekan pemberontakan Palestina. Ketika pemberontakan itu mencapai tahun kelima pada akhir 1991, Pusat Informasi Hak-hak Asasi Manusia Palestina di Jerusalem dan Chicago melaporkan statistik kumulatif berikut ini: 994 pembunuhan atas orang-orang Palestina oleh pasukan Israel; 119.300 orang terluka; 66 deportasi; 16.000 penahanan administratif; 94.830 acre penyitaan tanah; 2.074 penghancuran atau penyegelan rumah; 10.000 jam malam terus-menerus atas wilayah-wilayah dengan penduduk lebih dari 10.000 orang; dan 120.000 pencabutan pohon-pohon dari akarnya.3

Statistik telah menjadi salah satu subjek kontroversial dari pemberontakan itu. Namun bahkan dengan penghitungan yang lazim dari Kementerian Luar Negeri AS, paling sedikit 930 orang Palestina telah terbunuh oleh pasukan Israel dalam empat tahun pertama intifadhah.4

Kebrutalan usaha-usaha Israel untuk menekan intifadhah semula dikemukakan oleh Menteri Pertahanan Yitzhak Rabin. Pada 19 Januari 1988, dia menyiarkan kebijaksanaan “patah tulang,” dengan mengatakan bahwa Israel akan menggunakan “kekerasan, kekuatan, dan pukulan-pukulan” untuk menekan pemberontakan.5 Perdana Menteri Yitzhak Shamir berkata: “Tugas kami sekarang adalah menciptakan kembali benteng rasa takut antara orang-orang Palestina dan militer Israel, dan sekali lagi menyebarkan rasa takut akan kematian pada orang-orang Arab di wilayah-wilayah itu untuk mencegah mereka agar tidak menyerang kami lagi.”6

Pemerintah Israel tampaknya memasukkan ke dalam hati mereka nasihat yang diberikan oleh mantan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger kepada sekelompok pemimpin orang Yahudi Amerika di New York pada Februari 1988. The New York Times melaporkan bahwa Kissinger menyarankan agar Israel menumpas intifadhah “secepat mungkin –secara besar-besaran, brutal, dan segera. Pemberontakan itu harus dipadamkan cepat-cepat, dan langkah pertama yang diambil hendaklah memberangus televisi, ala Afrika Selatan. Tentu saja, akan timbul kecaman internasional atas langkah tersebut, tapi hal itu akan segera berlalu.” Dia menambahkan: “Tidak ada penghargaan atas kekalahan karena kelemahlembutan.”7

Untuk menekan pemberontakan itu, pasukan Israel tampil terutama untuk memukuli pria-pria tua, kaum wanita, dan anak-anak. Seorang pejabat Agen Pertolongan dan Pekerjaan PBB di Jalur Gaza, Angela William, berkata: “Kami sangat terkejut melihat bukti kebrutalan pemukulan rakyat. Kami terutama kaget melihat dilakukannya pemukulan-pemukulan terhadap para pria tua dan kaum wanita.”8 Dana Penyelamatan Anak-anak dari Swedia, dalam riset yang dibiayai oleh Ford Foundation, melaporkan pada pertengahan 1990 bahwa pasukan Israel melakukan kekerasan “yang kejam, tak pilih-pihh, dan berulang-ulang” terhadap anak-anak Palestina. Dikatakan bahwa 159 anak-anak dengan usia rata-rata sepuluh tahun telah terbunuh dalam dua tahun pertama, 6.500 terluka oleh tembakan, dan 35.000 hingga 48.000 lainnya (40 persen di antara mereka berusia sepuluh tahun atau lebih muda lagi) dilukai dalam waktu dua tahun pertama intifadhah.9

Klaim Israel dan para pendukungnya bahwa intifadhah bukan merupakan akibat dari kemarahan terhadap pendudukan melainkan akibat campur tangan kekuatan-kekuatan luar tidaklah benar. Koresponden New York Times di Israel pada waktu itu adalah Thomas L. Friedman, pemenang Hadiah Pulitzer untuk peliputannya atas invasi Israel pada 1982 ke Lebanon dan peliputannya tentang Israel pada 1987. Dia menulis pada awal pemberontakan itu:

“Pertikaian Israel-Palestina selama dua minggu terakhir hanya menekankan bahwa telah terjadi perang saudara sebelumnya di sini… Hanya karena orang-orang Palestina atau Israel tidak mati dalam jumlah sebegitu setiap minggu bukan berarti bahwa perang mereka tidak berlangsung terus-menerus; tidak pernah ada satu minggu berlalu dalam tiga tahun terakhir ini tanpa adanya seorang Palestina atau Israel yang terbunuh atau terluka.”10

Sebagaimana dilaporkan Wakil Sekretaris jendral PBB untuk Permasalahan Politik Khusus Marrack Goulding setelah mengunjungi wilayah-wilayah itu pada awal 1988: “Kerusuhan enam minggu sebelumnya merupakan ungkapan keputusasaan dan ketiadaan harapan yang dirasakan oleh para penduduk di wilayah-wilayah yang dikuasai, yang lebih dari separuhnya tidak mengetahui apa-apa kecuali pendudukan yang merebut apa yang mereka anggap sebagai hak-hak mereka yang sah.”11


OMONG KOSONG

Pemerintahan Israel di Tepi Barat (Yudea dan Samaria) dan Jalur Gaza diakui cukup lunak.” –AIPAC, 198912

FAKTA

Tidak ada yang lunak menyangkut pendudukan Israel di wilayah-wilayah yang direbut pada 1967.

Hak-hak rakyat Palestina telah dilanggar secara sistematis oleh Shabak, polisi rahasia Israel yang sebelumnya dikenal sebagai Shin Bet. Shabak mempunyai kekuasaan mutlak di wilayah-wilayah pendudukan. Salah satu bentuk pelecehannya yang lebih efektif berasal dari kekuasaan operatifnya untuk menentukan apakah orang-orang Palestina di wilayah-wilayah pendudukan akan diberi izin untuk melaksanakan aspek-aspek yang paling rutin dari kehidupan sehari-hari mereka.13 Sekilas, praktek itu tampaknya cukup lunak. Tetapi otoritas pendudukan Israel telah menyempurnakan pengeluaran izin semacam itu menjadi suatu bentuk seni pelecehan birokratis.

Washington Post melaporkan bahwa Israel dengan sengaja menjalankan sistem itu untuk membuat kehidupan sehari-hari menjadi sulit dan menjadikan orang-orang Palestina di wilayah pendudukan frustrasi. Menurut Jonathan Kuttab, seorang ahli hukum Palestina terkemuka: “Seluruh proses itu dimaksudkan untuk menghancurkan rakyat, untuk mematahkan perlawanan mereka dan memaksa mereka menyadari bahwa apa pun yang mereka lakukan, sistem itu mempunyai kuasa atas mereka dan dapat menyangkal hak-hak mereka.”14

Sistem perizinan yang mencakup segala hal itu diberlakukan pada awal 1988 dan sejak itu telah membuat kehidupan orang-orang Palestina sangat menyedihkan. Inti sistem itu adalah sebuah formulir permohonan satu halaman yang secara umum diberi judul “Permohonan Izin Administrasi Wilayah Sipil Yudea dan Samaria.” Sejak 1988, orang-orang Palestina telah harus mengisi formulir itu untuk melakukan salah satu dari dua puluh tiga kategori aktivitas yang berkisar dari pendaftaran mobil hingga pendirian sebuah pabrik baru. Izin itu diwajibkan bagi setiap pemohon dari semua umur dan mencakup aktivitas-aktivitas sehari-hari seperti mencatatkan kelahiran bayi, mendaftar sekolah, mendapatkan nomor telepon, menerima pensiun, bepergian keluar negeri, dan membeli petak tanah pekuburan.

Agar disetujui, formulir itu harus dicap oleh tujuh kantor Israel yang tersebar di berbagai tempat di mana antrean biasanya harus dilakukan selama berjam-jam. Para pemohon harus membuktikan bahwa tidak ada kewajiban-kewajiban khusus yang dibebankan pada mereka, termasuk kartu tilang dan pajak yang belum dibayar. Menurut laporan koresponden Washington Post Jackson Diehl: “Bagi orang-orang Palestina, perang dalam kehidupan sehari-hari berarti bahwa aktivitas-aktivitas yang begitu sederhana seperti mendaftar untuk mendapatkan surat izin mengemudi, atau akta kelahiran, akan membutuhkan berminggu-minggu formalitas di lebih dari setengah lusin kantor pemerintah, termasuk jawatan pemeriksaan pajak lokal dan regional.”15

Rasa putus asa yang menyeluruh dan kemarahan yang dipendam oleh orang-orang Palestina terhadap pendudukan militer itulah yang menyulut pemberontakan. Taktik Israel, terutama sejak pemberontakan, telah dikecam oleh hampir setiap organisasi hak-hak asasi manusia di dunia, oleh saksi-saksi individual, dan berulangkali oleh para anggota PBB, termasuk Amerika Serikat.16 Sebagian kecil dari banyak laporan kritis yang ada:

  • UN Goulding Report, 21 januari 1988. Wakil Sekretaris jenderal PBB untuk Permasalahan Politik Khusus Marrack Goulding melakukan penyelidikan pada awal 1988 dan menyimpulkan bahwa Israel melanggar secara luas hak-hak asasi manusia yang dijamin oleh Konvensi Jenewa Keempat yang Berkaitan dengan Perlindungan Orang-orang Sipil pada Masa Perang, 12 Agustus 1949. Israel terutama melanggar Artikel 33, hukuman kolektif; Artikel 47, usaha-usaha untuk mengubah status Jerusalem; Artikel 49, deportasi orang-orang Palestina dan pembangunan pemukiman di wilayah-wilayah pendudukan; dan Artikel 53, penghancuran harta kekayaan. Di samping itu, juga terdapat bukti pelanggaran Artikel 32, tindakan brutal terhadap penduduk sipil.17
  • European Community Report, 8 Februari 1988. Keduabelas negara Masyarakat Eropa mengecam tindakan-tindakan keras Israel, dengan menyatakan bahwa mereka “sangat menyesalkan tindakan-tindakan represif Israel, yang merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan hak-hak asasi manusia.” Mereka mengatakan bahwa “tindakan-tindakan represif Israel harus dihentikan” dan mengungkapkan “keprihatinan besar Masyarakat Eropa atas situasi yang semakin memburuk.”18
  • Physicians for Human Rights Report, 11 Februari 1988. Suatu kelompok yang terdiri atas empat orang dokter Amerika, tiga dari Harvard dan satu dari City University, New York, mewakili para Dokter Pendukung Hak-hak Asasi Manusia, suatu kelompok pengamat mandiri di Boston, melaporkan setelah kunjungan satu minggu ke wilayah-wilayah itu bahwa Israel telah melepaskan “wabah kekerasan tanpa kendali oleh angkatan bersenjata dan polisi.” Para dokter itu mengatakan bahwa riset mereka mengenai orang-orang Palestina yang terluka menunjukkan bahwa sebagian besar luka-luka itu diakibatkan oleh tindak kekerasan sistematis oleh pasukan Israel. Para dokter itu juga mengatakan bahwa banyak pukulan yang secara sengaja dimaksudkan untuk mematahkan tangan, lengan, dan kaki.19
  • Medical and Human Rights Group Report, 30 Mei 1988. Para dokter Palestina, pejabat-pejabat PBB, dan wakil-wakil dari Amnesti Internasional melaporkan bahwa penggunaan gas air mata secara luas dan sembarangan oleh pasukan Israel telah melukai 1.200 orang Palestina dan menyebabkan berlusin-lusin keguguran kandungan serta sebelas kematian sejak awal pemberontakan. Kelompok-kelompok itu menuduh bahwa terdapat kasus-kasus yang terdokumentasi dengan baik di mana pasukan-pasukan itu menembakkan gas air mata ke dalam rumah-rumah, ruang-ruang tertutup, dan rumah sakit-rumah sakit.20
  • Amnesty International Report, 17 Juni 1988. AI mengeluarkan laporan khusus yang mengecam penggunaan amunisi secara luas oleh pasukan Israel yang mengakibatkan terbunuhnya kaum wanita, anak-anak di bawah usia empat belas tahun, dan orang-orang tua. Sebagian dari mereka yang mati itu tidak sedang terlibat dalam demonstrasi kekerasan ketika terbunuh. Laporan itu mengatakan bahwa ada “bukti yang menyarankan bahwa otoritas Israel pada tingkat tinggi telah secara aktif membiarkan atau malah mendorong digunakannya amunisi dan kekerasan yang tidak masuk akal.”21
  • UN General Assembly Condemnation, 3 November 1988. Majelis Umum PBB mengumpulkan suara 130 lawan 2 untuk mengecam Israel karena telah “membunuh dan melukai orang-orang Palestina yang tidak dapat membela diri” dan menyatakan “sangat menyesalkan” tindakan Israel yang mengabaikan resolusi-resolusi PBB sebelumnya yang mengecam aksi-aksi semacam itu. Amerika Serikat dan Israel sajalah yang memberi suara tidak setuju.22
  • UN General Assembly Condemnation, 20 April 1989. Majelis Umum PBB mengecam pelanggaran-pelanggaran atas hak-hak asasi manusia yang dilakukan Israel dan menuntut agar Israel menghentikan tembakan-tembakan dan pembatasan-pembatasan peribadatan di Tepi Barat dan jalur Gaza yang telah diduduki. Hasil suaranya adalah 129 berbanding 2, dengan hanya Amerika Serikat dan Israel memberikan suara menentang.23
  • Private Witness Report, 2 Maret 1990. Dr. Martin Rubenberg, seorang dokter praktek di Florida, bekerja sebagai sukarelawan di Jalur Gaza pada 1989 dan mendapati bahwa Israel mencegah pemberian pelayanan kesehatan yang layak untuk orang-orang Palestina. Dia melaporkan: “Halangan birokratis digunakan untuk membatasi pelayanan kesehatan… Fasilitas-fasilitas radio, termasuk radio panggil para dokter, dilarang… Pelayanan kesehatan juga dibatasi oleh otoritas Israel ketika mereka mencegah kembalinya para dokter Palestina yang telah mendapat latihan di luar negeri. Tidak adanya pelayanan yang memadai, jam malam yang berkelanjutan, seringnya dikenakan jam malam selama 24 jam berhari-hari atau berminggu-minggu, penutupan militer dan peraturan-peraturan yang melarang para penduduk Gaza untuk bermalam di Israel, semuanya menambah kesakitan, penderitaan, melemahkan tenaga dan daya tahan para pasien Palestina.”24
  • Jimmy Carter Report, 19 Maret 1990. Mantan Presiden Carter mengadakan perjalanan ke Israel pada awal 1990 dan berkata: “Yang sedang kita bicarakan adalah sebuah pemerintahan otoriter, yang berkuasa, yang merampas hak-hak asasi mendasar rakyat [Palestina] yang berada di bawah kekuasaannya.”25 Dia menambahkan: “Hampir tidak ada satu keluarga pun yang hidup di Tepi Barat dan Gaza yang salah satu anggota keluarga laki-lakinya tidak dipenjarakan oleh pihak militer… Ada kira-kira 650 orang Palestina yang terbunuh akibat sering ditembakkannya senjata api oleh militer yang tidak berada dalam situasi terancam, dan mereka juga menghancurkan rumah-rumah dan menempatkan orang-orang di penjara-penjara tanpa diadili.”26
  • Middle East Watch, 25 Juli 1990. Organisasi hak-hak asasi manusia AS itu mendapati bahwa peraturan-peraturan Israel yang mengatur penggunaan senjata api “terlalu permisif” dan mendesak untuk diubah “agar dapat mengurangi jumlah orang-orang Palestina yang terbunuh dengan cara yang tidak dapat dibenarkan di tangan pasukan Israel.” Laporan itu mengecam kegagalan Israel untuk menghukum para serdadu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan ilegal.27
  • Secretary General of the United Nations Report, 1 November 1990. Sekretaris Jenderal PBB Javier Perez de Cuellar mengusulkan agar Dewan Keamanan melibatkan dirinya secara langsung untuk menemukan suatu cara melindungi orang-orang Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel.28 Salah satu usulan Perez de Cuellar adalah bahwa 164 penandatangan Konvensi Jenewa Keempat tahun 1949 tentang Perlindungan Orang-orang Sipil di Masa Perang hendaknya mengadakan pertemuan untuk membahas pelanggaran-pelanggaran hak-hak asasi manusia oleh Israel di wilayah-wilayah yang direbut pada 1967. Dia mencatat bahwa “Ketetapan hati orang-orang Palestina untuk menjalankan intifadhah merupakan bukti penolakan mereka terhadap pendudukan dan komitmen mereka untuk melaksanakan hak-hak politik mereka yang sah, termasuk penegasan diri… Masalah yang kita hadapi sekarang adalah langkah-langkah praktis apakah yang sesungguhnya dapat diambil oleh masyarakat internasional untuk memastikan keselamatan dan perlindungan atas para penduduk sipil Palestina yang hidup di wilayah pendudukan Israel. Jelas sudah, banyaknya imbauan –entah oleh Dewan Kemanan, oleh saya sendiri sebagai Sekretaris Jenderal, oleh Negara-negara Anggota, maupun oleh ICRC [Komite Internasional Palang Merah]… kepada pihak berwenang di Israel untuk mematuhi kewajiban-kewajiban mereka dalam Konvensi Jenewa Keempat tidak pernah efektif.”29 Israel menganggap laporan itu “berat sebelah” dan Amerika Serikat tidak menunjukkan minat untuk menyelesaikan masalah itu.30
  • United Nations Condemnation, 6 Januari 1992. Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengeluarkan sebuah resolusi yang “dengan keras mengecam keputusan Israel, kekuatan pendudukan, untuk melakukan deportasi para penduduk sipil Palestina” yang melanggar Konvensi Jenewa Keempat. Resolusi itu mengacu pada tanah-tanah yang diduduki oleh Israel sebagai “wilayah-wilayah Palestina… termasuk Jerusalem.31 Ini adalah untuk ketujuh kalinya sejak kelahiran intifadhah Dewan Keamanan mengeluarkan resolusi yang mendesak Israel untuk tidak mendeportasikan orang-orang Palestina atau yang menyesalkan deportasi-deportasi semacam itu; Amerika Serikat memberi suara abstain dalam tiga resolusi sebelumnya.32 Ini adalah untuk keenam puluh delapan kalinya dewan itu mengeluarkan resolusi yang mengecam Israel.


OMONG KOSONG

Tidak ada keraguan dalam benak saya bahwa Israel diberi standar lebih tinggi dibanding yang lain-lainnya.” –Richard Schifter, asisten menteri luar negeri untuk hak-hak asasi manusia,199033

FAKTA

Schifter mengeluarkan pernyataan ini dalam kesaksiannya di hadapan dengar pendapat Dewan yang pertama mengenai intifadhah pada 9 Mei 1990 –dua setengah tahun setelah pemberontakan dimulai. Kesaksiannya dibantah oleh saksi-saksi lainnya seperti Michael Posner, direktur eksekutif Lawyers Commitee for Human Rights; Kenneth Roth, wakil direktur Human Rights Watch; dan Sarah Roy, seorang ahli akademisi mengenai Jalur Gaza. Mereka semua bersaksi bahwa penggunaan kekerasan oleh Israel sudah keterlaluan dan telah menyebabkan banyaknya kematian yang tak perlu, termasuk kematian 102 anak-anak di bawah usia enam belas tahun. Mereka juga mengecam penyiksaan Israel atas para tawanan, penahanan-penahanan administratif untuk menangkap orang-orang Palestina tanpa tuduhan atau pengadilan, deportasi orang-orang Palestina, dan penghancuran rumah-rumah Arab.34

Komite Anti-Diskriminasi Arab-Amerika (ADC) menuntut pemecatan Schifter, dengan tuduhan telah secara sengaja mematahkan kecaman atas Israel. Pemerintah Bush menolak. ADC mencatat bahwa Schifter adalah presiden pendiri Lembaga Yahudi untuk Urusan Kemananan Nasional (JINSA), suatu kelompok yang diorganisasikan untuk “memberi informasi pada komunitas pertahanan dan keamanan nasional mengenai nilai kerja sama strategis antara AS dan Israel. Presiden ADC Abdeen Jabara menuduh bahwa “Duta Besar Schifter lebih mempedulikan citra Israel daripada melindungi hak-hak asasi manusia dan melaksanakan mandat hukum Amerika.” Permintaan dari Jabara untuk menemui Schiffer ditolak.35

Lepas dari kesaksiannya yang bertentangan, kantor Richard Schifter sendiri di Kementerian Luar Negeri mengeluarkan laporan-laporan mengenai intifadhah yang tidak meninggalkan keragu-raguan tentang hakikat dan meluasnya pelanggaran-pelanggaran Israel. Berikut ini adalah beberapa kutipan dari Country Reports on Human Rights Practices yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri AS sejak 1988 hingga 1991:

  • 1988: Kementerian Luar Negeri melaporkan bahwa 366 orang Palestina terbunuh oleh Israel pada 1988; dua puluh tiga orang lainnya terbunuh antara dimulainya pemberontakan pada 9 Desember 1987 dan akhir tahun itu. Dengan demikian jumlah kematian seluruhnya adalah 389 orang dalam waktu kurang dari tiga belas bulan pemberontakan –lebih dari satu orang dalam satu hari. Laporan itu mengutip “lima kasus pada 1988 di mana orang-orang Palestina tak bersenjata yang sedang ditahan meninggal dalam keadaan yang patut dipertanyakan atau terang-terangan dibunuh oleh para petugas penahannya.” Lebih dari 20.000 orang Palestina telah dilukai atau dicederai –rata-rata lima puluh lima orang setiap hari sepanjang tahun itu. Laporan tersebut menyatakan bahwa 36 orang Palestina dideportasi pada 1988, lebih dari 2.600 orang ditahan dengan “penahanan administratif,” paling sedikit 108 rumah dihancurkan, dan 46 lainnya disegel. Laporan itu juga menambahkan bahwa “banyak kematian dan cedera yang dapat dihindarkan” disebabkan karena para “serdadu Israel seringkali menggunakan senjata api dalam situasi-situasi yang tidak mendatangkan ancaman kematian pada pasukan… Peraturan-peraturan [yang mengatur penggunaan senjata api] tidak dilaksanakan secara tertib; hukuman-hukuman yang diberikan biasanya sangat lunak; dan ada banyak kasus pembunuhan yang tidak pada tempatnya yang tidak diberi hukuman disipliner atau diusut.” Laporan itu mencatat “pemukulan yang merajalela” terhadap orang-orang Palestina. “Pasukan IDF menggunakan pentungan-pentungan untuk mematahkan anggota-anggota badan dan memukuli orang-orang Palestina yang tidak secara langsung terlibat dalam kerusuhan atau menolak penahanan. Para serdadu mengusir orang-orang keluar dari rumah-rumah mereka pada malam hari, menyuruh mereka berdiri berjam-jam, dan mengumpulkan para pria dan anak-anak lelaki serta memukuli mereka sebagai balasan karena mereka telah melemparkan batu. Setidak-tidaknya tiga belas orang Palestina dilaporkan telah meninggal akibat pemukulan-pemukulan. Menjelang pertengahan April [1988] laporan-laporan tentang dipatahkannya tulang-tulang telah berakhir, namun laporan-laporan tentang pemukulan-pemukulan keras yang tidak dapat dibenarkan terus berlanjut.”36
  • 1989: Kementerian Luar Negeri melaporkan bahwa 304 orang Palestina dibunuh oleh Israel pada 1989, termasuk sebelas orang oleh para pemukim Israel dan sepuluh akibat pukulan-pukulan selama pemeriksaaan. Laporan-laporan mengenai orang-orang Palestina yang dilukai oleh pasukan Israel berkisar dari 5.000 hingga 20.000 orang. Laporan itu mengemukakan bahwa 26 orang Palestina dideportasi sepanjang tahun itu, lebih dari 1.271 ditahan dalam “penahanan administratif,” 88 rumah dihancurkan, dan 82 lainnya disegel. Ditambahkan bahwa “laporan-laporan terus berdatangan mengenai perlakuan kasar dan merendahkan terhadap para tawanan yang tengah diperiksa atau diinterogasi, serta pemukulan-pemukulan terhadap para tersangka.”37
  • 1990: Kementerian Luar Negeri melaporkan bahwa 140 orang Palestina dibunuh oleh Israel pada 1990. Sepuluh orang dibunuh oleh para pemukim Yahudi dan sisanya oleh pasukan keamanan Israel, termasuk sedikitnya 5 orang oleh personil tak bersegaram. Kelompok-kelompok pembela hak-hak asasi manusia menuduh bahwa personil keamanan berpakaian preman bertindak sebagai regu maut yang membunuhi para aktivis Palestina tanpa peringatan, setelah mereka menyerah, atau setelah mereka tunduk.38 Laporan-laporan tentang orang-orang Palestina yang dilukai oleh pasukan Israel berkisar dari 4.000 hingga lebih dari 10.000 orang. Laporan itu menyatakan bahwa tidak ada orang Palestina yang dideportasi tahun itu, namun lebih dari 1.263 orang ditahan dengan “penahanan administratif,” 93 rumah dihancurkan, dan 83 disegel. Ditambahkan bahwa “laporan-laporan terus berdatangan mengenai perlakuan kasar dan merendahkan terhadap para tawanan yang sedang diperiksa atau diinterogasi, serta pemukulan-pemukulan terhadap para tersangka.”39
  • 1991: Kementerian Luar Negeri melaporkan bahwa 97 orang Palestina dibunuh oleh pasukan pendudukan Israel selama 1991, termasuk sedikitnya 27 orang oleh personil tak berseragam. Dikatakan bahwa kelompok-kelompok pembela hak-hak asasi manusia, seperti pada 1990, menuduh bahwa agen-agen Israel berpakaian preman bertindak sebagai regu maut yang membunuhi para aktivis Palestina tanpa peringatan lebih dulu, setelah mereka menyerah atau setelah mereka tunduk 40 Laporan-laporan tentang orang-orang Palestina yang dilukai oleh pasukan Israel berkisar dari 841 hingga lebih dari 5.000 orang. Laporan itu menyatakan bahwa 8 orang Palestina dideportasi dalam tahun-tahun itu, lebih dari 1.400 orang ditahan dengan “penahanan administratif,” 55 rumah dihancurkan, dan 62 lainnya disegel. Ditambahkan bahwa kelompok-kelompok pembela hak-hak asasi manusia telah menerbitkan “laporan-laporan terinci yang dapat dipercaya mengenai penyiksaan, kekejaman, dan perlakuan keji terhadap para tawanan Palestina di penjara-penjara dan pusat-pusat penahanan.”41

Catatan kaki:

1 John Kifner, New York Times, 15 Desember 1987; Strum, The Women Are Marching, 17.

2 David B. Ottaway, Washington Post, 30 Maret 1988. Teks perkataan Schifter itu terdapat dalam American-Arab Affairs, Musim Semi 1988, 156-58, dan Journal of Palestine Studies, Musim Panas 1988, 197-200.

3 Dikutip dalam Washington Report on Middle East Affairs (American Educational Trust, Washington D.C.), Februari 1992,15.

4 Lihat Kementerian Luar Negeri AS, Country Report on Human Rights Practice (Washington D.C.: Government Printing Office), untuk tahun-tahun sejak 1988.

5 John Kifner, New York Times, 20 Januari 1988. Juga lihat Jonathan C. Randal, Washington Post, 21 Januari 1988; Glenn Frankel, Washington Post, 23 Januari 1988.

6 Time, 8 Februari 1988, 39.

7 Robert D. McFadden, New York Times, 5 Maret 1988. Perkataan Kissinger terdapat dalam sebuah memorandum tiga halaman satu spasi yang ditulis oleh salah seorang pemimpin kelompok itu, Julius Berman, mantan kepala Konferensi Para Presiden Organisasi-organisasi Utama Yahudi. Komite Anti-Diskriminasi Arab-Amerika di Washington, D.C. berhasil mendapatkan salinan memo itu dan menyebarkannya di kalangan angota-anggotanya. Teks memo itu termuat dalam American-Arab Affairs, Musim Semi 1988,158-61, dan Journal of Palestine Studies, Musim Panas 1988,184-87. Kissinger di kemudian hari menyangkal bahwa dia telah mengucapkan perkataan itu, dengan menyatakan bahwa ada “distorsi kasar atas kebenaran.” Lihat Barbara Vobejda, Washington Post, 6 Maret 1988.

8 John Kifner, New York Times, 23 Januari 1988.

9 Jackson Diehl, Washington Post, 17 Mei 1990. Kutipan-kutipan dari laporan seribu halaman, tiga jilid, “The Status of Palestinian Children during the Uprising in the Occupied Territories;” terdapat dalam “Documents and Source Material,” Journal of Palestine Studies, Musim Panas 1990,136-49.

10 Thomas L. Friedman, “The Week in Review,” New York Times, 27 Desember 1987.

11 Dokumen PBB S/19443, 21 Januari 1988. Teks itu terdapat dalam “Special Documents,” Journal of Palestine Studies, Musim Semi 1988, 66-79.

12 Davis, Myths and Facts 1089,194.

13 Dani Rubinstein, Ha’aretz (Tel Aviv), 7 Februari 1992.

14 Jackson Diehl, Washington Post, 19 Oktober 1990.

15 Ibid.

16 Amnesti Intemasional terutama sangat waspada dalam melaporkan tindakan Israel; Journal for Palestine Studies, dimulai dengan terbitan Musim Semi 1988, mencetak ulang teks-teks laporan dari berbagai kelompok yang mengecam Israel pada tahun-tahun berikutnya.

17 Dokumen PBB s/19443, 21 Januari 1988.

18 Karen DeYoung, Washington Post, 9 Februari 1988; Shadda Islam, “Weighing Their Words,” Middle East International, 20 Februari 1988.

19 Kutipan-kutipan dari laporan itu terdapat dalam American-Arab Affairs, Musim Panas 1988, 178-83. Para anggota tim pengunjung itu, yang kesemuanya dokter medis, adalah H. Jack Geiger, City University of New York Medical School; Jennifer Leaning, Harvard Medical School; Leon A. Saphiro, Harvard Medical School, dan Bennett Simon, Harvard Medical School.

20 Glenn Frankel, Washington Post, 31 Mei 1988. Lihat juga Amnesti Internasional, “Israel and the Occupied Territories: The Misuse of Tear Gas by Israeli Army Personnel in the Israeli Occupied Territories,” 1 Juni 1988. Teks itu terdapat dalam American-Arab Affairs, Musim Panas 1988, 183-87, dan Journal of Palestine Studies, Musim Gugur 1988, 259-63.

21 Teks itu terdapat dalam Journal of Palestine Studies, Musim Gugur 1988, 263-71.

22 Paul Lewis, New York Times, 4 November 1988.

23 Reuters, New York Times, 21 April 1989.

24 Martin Rurenberg, “Medical Care as a Political Weapon in Gaza;” Middle East International, 2 Maret 1990.

25 Associated Press, 19 Maret 1990,19: 11 EST, V0368.

26 New York Times, 20 Maret 1990.

27 Laporan itu berjudul “The Israeli Army and the Intifada: Policies That Contribute to the Killings.” Jilah Daoud Kuttab, Middle East International, 3 Agustus 1990. Untuk komentar tajam mengenai pelanggaran hak-ahak asasi manusia oleh Israel, lihat Anthony Lewis, New York Times, 31 Juli 1990; Colman McCarthy, Washington Post, rubrik Style, 15 Juli 1990.

28 Javier Perez de Cuellar, “Report Submitted to the Security Council by the Secretary-General in Accordance with Resolution 672 (1990);” Dokumen PBB S/21919, 31 Oktober 1990. Juga lihat Resolusi 33/113 A. Untuk pembahasan terinci, lihat Mallison, The Palestine Problem in International Law and Order, Bab 6.

29 Perez de Cuellar, “Report Submitted to the Security Council.”

30 Associated Press, Washington Post, 5 November 1990.

31 Resolusi 726; teks itu terdapat dalam New York Times, 7 Januari 1992.

32 Trevor Rowe, Washington Post, 7 Januari 1992. Sikap abstain AS adalahpada Resolusi 608 tanggal 14 Januari 1988, 636 tanggal 6 Juli 1989, dan 641 tanggal 30 Agustus 1989.

33 John M. Goshko dan Nora Boustany, Washington Post, 10 Mei 1990.

34 Ibid.

35 ADC Times (Washington D.C.), Maret 1990. Untuk kritik atas laporan itu, lihat George Moses, “What Does the Human Rights Report Say about Its Author?” Washington Report on Middle East Affairs, April 1990. Sebuah kritik dari laporan-laporan sebelumnya terdapat dalam Rabbi Elmer Berger, “A Critique of the Department of State’s 1981 Country Report on Human Rights Practices in the State of Israel;” Americans for Middle East Understanding (New York, tanpa tanggal). Schifter pensiun pada 1992 dan menjadi penasihat senior kebijaksanaan luar negeri untuk kampanye kepresidenan Bill Clinton.

36 Kementerian Luar Negeri AS, Country Reports on Human Rights Practices for 1988 (Washington, D.C.: Government Printing Office, Februari 1989): 1376-87. Teks itu direproduksi dalam Journal of Palestine Studies, Musim Semi 1989, 110-25.

37 Kementerian Luar Negeri AS, Country Reports on Human Rights Practices for 1989 (Washington, D.C.: Government Printing Office Februari 1990): 1432-45. Teks itu direproduksi dalam Journal of Palestine Studies, Musim Semi 1990, 76-88.

38 Untuk rinciannya, lihat Pusat Informasi Hak-hak Asasi Manusia Palestina, Targetting to Kill: Israel’s Undercover Units (Jerusalem, Mei 1992).

39 Kementerian Luar Negeri AS, Country Reports on Human Rights Practices for 1990 (Washington, D.C.: Government Printing Office, Februari 1991): 1477-96. Teks itu direproduksi dalam Journal of Palestine Studies, Musim Semi 1991, 98-111.

40 Lihat Pusat Informasi Hak-hak Asasi Manusia Palestina, Targetting to Kill.

41 Kementerian Luar Negeri AS, Country Reports on Human Rights Practices for 1991 (Washington, D.C.: Government Printing Office, Februari 1992): 1440-55. Teks itu direproduksi dalam Journal of Palestine Studies, Musim Semi 1992,114-24.

Diplomasi Munafik ala Yahudi
Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel oleh Paul Findley
Judul Asli: Deliberate Deceptions:
Facing the Facts about the U.S. – Israeli Relationship by Paul Findley
Terbitan Lawrence Hill Brooks, Brooklyn, New York 1993
Penterjemah: Rahmani Astuti, Penyunting: Yuliani L.
Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 1, Dzulhijjah 1415/Mei 1995
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038

About MUSLIM

Tinggalkan Balasan