Senin , 24 November 2014
INFO
Home / SEJARAH / Palestina / ISRAEL MEMATA-MATAI AMERIKA

ISRAEL MEMATA-MATAI AMERIKA

ENAM BELAS
ISRAEL MEMATA-MATAI AMERIKA

Israel telah secara rutin mematai-matai Amerika Serikat selama berpuluh-puluh tahun. Ditahan dan dihukumnya mata-mata Israel kelahiran Amerika Jonathan J. Pollard dan istrinya pada pertengahan 1980-an hanya merupakan bukti paling dramatis dari aktivitas-aktivitas Israel melawan Amerika Serikat. Dalam kata-kata Washington Post: “Agen-agen intelijen Israel telah memeras, memasang alat pendengar rahasia, menyadap, dan menawarkan suap kepada para pegawai pemerintah AS dalam upaya mendapatkan informasi intelijen dan teknis yang sensitif.”1


OMONG KOSONG

Memata-matai Amerika Serikat bertolak belakang dengan kebijaksanaan kami.” –Shimon Peres, perdana menteri Israel, 19852

FAKTA

The Washington Post mengungkapkan merebaknya kegiatan mata-mata Israel terhadap Amerika Serikat atas dasar laporan CIA setebal empat puluh tujuh halaman, “Israel: Foreign Intelligence and Security Service,” yang dikeluarkan pada Maret 1979. Itu ditemukan bersama dokumen-dokumen rahasia lainnya pada November 1979 oleh kelompok militan yang menduduki kedutaan besar AS di Teheran. Meskipun Israel dan para pendukungnya telah menyatakan keraguan tentang keaslian dokumen itu, tidak ada pejabat AS yang meragukannya.

Menurut laporan itu, negara-negara Arab merupakan sasaran-sasaran intelijen utama Israel namun “kumpulan informasi tentang kebijaksanaan atau keputusan-keputusan rahasia AS… menyangkut Israel” dan “kumpulan rahasia intelijen ilmiah di AS dan negara-negara berkembang lainnya” menduduki prioritas kedua dan ketiga. “Orang-orang Israel mengerahkan sebagian besar dari operasi-operasi tersamar mereka untuk mendapatkan rahasia intelijen ilmiah dan teknis,” lanjut laporan itu. “Ini… termasuk usaha-usaha untuk menyusup ke dalam proyek-proyek pertahanan rahasia tertentu di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya.”

Di kemudian hari dikemukakan bahwa sepanjang 1960-an dan 1970-an FBI dan kontra intelijen militer melancarkan sebuah program bernama Scope untuk mencegah Israel agar tidak merekrut orang-orang Amerika untuk mencuri teknologi militer yang canggih. Operasi itu mencakup penyadapan dan pengawasan elektronik atas kedutaan besar Israel. Scope dihentikan pada awal 1970-an ketika diputuskan bahwa operasi itu mungkin melanggar hak-hak konstitusional orang-orang Amerika.3

Sejak itu, Victor Ostrovsky, seorang mantan agen intelijen Israel, mengungkapkan dalam sebuah buku pada 1990 bahwa Israel menempatkan di Amerika Serikat dua puluh empat hingga dua puluh tujuh agen Mossad yang tergabung pada divisi intelijen super rahasia yang dikenal sebagai Al, yang dalam bahasa Ibrani berarti “di atas” atau “di puncak.” Tulis Ostrovsky: “[Intelijen Israel] secara aktif memata-matai, merekrut, mengorganisasi, dan melaksanakan aktivitas-aktivitas tersamar, terutama di New York dan Washington, yang mereka sebut sebagai tempat bermain mereka.” Dia menulis bahwa Israel mempengaruhi Kongres dengan cara merekrut ajudan-ajudan Yahudi sebagai wakil rakyat dan senator yang tergabung dalam komite-komite kunci.4 Periset lainnya menulis bahwa antara pertengahan 1960-an dan pertengahan 1980-an Israel melancarkan begitu banyak operasi di Amerika Serikat sehingga ada empat puluh orang penyelidik resmi AS yang bekerja untuk Israel. Dia menambahkan: “[Para pejabat AS] itu berkata bahwa orang-orang Israel telah menjadi begitu yakin akan kemampuan mereka memata-matai AS dan meloloskan diri dengan selamat.”5


OMONG KOSONG

Segera setelah penahanan Pollard, Israel meminta maaf dan menjelaskan bahwa operasi itu tidak sah.” –AIPAC,19926

FAKTA

Pada 4 Maret 1987, dua warga negara Amerika Jonathan Jay Pollard dan Anne Henderson Pollard mengaku bersalah telah melakukan tindakan mata-mata untuk Israel. Dia dijatuhi hukuman seumur hidup sementara istrinya lima tahun; wanita itu dilepaskan setelah menjalani masa hukuman dua setengah tahun.7 Pengarang Seymour Hersh mencap Pollard sebagai “mata-mata nuklir Israel yang pertama,” dan menyatakan bahwa Pollard menyampaikan pada dinas intelijen Israel sasaran nuklir AS dan bahwa Perdana Menteri Yitzhak Shamir sendiri memutuskan untuk memberikan sebagian dari informasi itu kepada Uni Soviet pada waktu Washington terlibat dalam perang dingin dengan Moskow di awal 1980-an.8

Selama delapan belas bulan yang diakuinya dia bekerja sebagai mata-mata Israel, Pollard mencuri lebih dari seribu dokumen rahasia, lebih dari delapan ratus di antaranya tergolong sangat rahasia.9 Sebagian dari dokumen-dokumen itu masing-masing berisi lebih dari seratus halaman. Kebanyakan berupa telaah-telaah analitis yang rinci dengan perhitungan-perhitungan teknis, grafik, dan foto-foto satelit. Dokumen-dokumen lain berisi pesan-pesan yang mengemukakan rincian-rincian tentang posisi-posisi kapal dan taktik angkatan laut serta operasi-operasi latihan AS. Termasuk juga analisis tentang sistem-sistem misil Soviet yang mengungkapkan bagaimana Amerika Serikat mengumpulkan informasi, termasuk ciri-ciri untuk mengenali jati diri agen-agen AS atau agen-agen yang bekerja untuk Amerika Serikat. Dokumen-dokumen itu juga mengungkapkan identitas para pengarang Amerika yang menulis telaah-telaah itu, yang mengakibatkan mereka menjadi sasaran rentan dinas intelijen lainnya.10

Banyaknya bahan yang dicuri telah menimbulkan kecurigaan bahwa Pollard mempunyai dua atau lebih orang Amerika berkedudukan tinggi yang membantunya.11 Namun tidak ada warga negara Amerika lain yang dituduh dalam kasus ini.

Menteri Pertahanan Caspar Weinberger di kemudian hari mengatakan: “Sulit bagi saya… untuk melihat adanya ancaman yang lebih besar terhadap keamanan nasional kita daripada yang ditimbulkan oleh si terdakwa, mengingat keluasan, arti penting yang begitu kritis bagi Amerika Serikat dan kepekaan yang begitu tinggi dari informasi yang dijualnya kepada Israel.”12 Pencurian-pencurian itu demikian luasnya sehingga diperkirakan diperlukan $3 milyar hingga $4 milyar untuk mengoreksi sistem-sistem keamanan dan menetralkan operasi-operasi yang telah diketahui pihak luar.13


OMONG KOSONG

Sebagaimana yang dijanjikan kepada Pemerintah AS, unit mata-mata yang mengarahkan Pollard dibubarkan, para pengurusnya dihukum dan dokumen-dokumen yang dicuri dikembalikan.” –AIPAC, 199214

FAKTA

Tidak ada orang Amerika yang dapat merasa yakin akan apa yang terjadi pada unit mata-mata Israel LAKAM, yang mempekerjakan Pollard, namun mantan agen Israel Victor Ostrovsky ada di pihak yang berwenang untuk mengetahui masalah itu. Laporannya: “Yang mereka lakukan hanyalah mengubah alamat pos dan memasukkan LAKAM ke departemen luar negeri.”15

Meskipun Israel berjanji akan menghukum para mata-mata itu, dalam kenyataannya ia justru mempromosikan kedua pemimpin Israel yang terlibat. Veteran bidang operasi intelijen Rafael Eitan,16 direktur agen intelijen teknologi LAKAM, yang kemudian ditunjuk untuk memimpin Israel Chemicals, perusahaan milik negara Israel yang terbesar. Di sana dia mempunyai cukup banyak waktu luang untuk bekerja sebagai penasihat bagi Presiden Colombia Virgilio Barco Vargas.17

Kolonel Angkatan Udara Aviem Sella, yang menjadi penghubung Pollard dan telah didakwa melakukan aksi spionase di Amerika Serikat, dipromosikan menjadi brigadir jenderal dan diberi wewenang atas salah satu basis udara Israel yang paling canggih, Tel Nof, kedudukan yang biasanya dianggap sebagai batu loncatan menuju pemimpin tertinggi angkatan udara.18

Pada 1988 para pejabat Israel mulai berusaha membebaskan Pollard dengan jalan mengusulkan berbagai perjanjian dengan Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri.19 Sebuah kampanye dimulai di Israel yang menyebut suami-istri Pollard “narapidana Zion.” Lebih dari 70 dari 120 anggota Knesset menandatangani sebuah petisi berisi permohonan kepada Presiden Reagan agar membebaskan suami-istri Pollard, dan dua orang rabbi ketua di Israel juga menulis pada Presiden atas nama mereka.20 Imbauan-imbauan itu terus disampaikan hingga 1989 ketika menteri kesehatan Israel, Yaacov Tsur, meminta Duta Besar AS untuk Israel William Brown agar istri Pollard dibebaskan karena alasan medis sebab dia menderita sejenis penyakit perut yang langka; sekelompok organisasi kaum wanita Israel menyampaikan permintaan serupa. Kelompok-kelompok itu termasuk para wakil dari partai Buruh, partai-partai keagamaan, penasihat perdana menteri tentang urusan kaum wanita, dan Ruth Rasnic, manajer dari Pusat Wanita Herzliya. Rasnic mengirim sebuah telegram langsung ke Barbara Bush meminta pertolongannya.21

Anne Pollard dibebaskan pada 1990 setelah menjalani dua setengah tahun hukumannya; kini dia tinggal di Israel. Salah satu perjalanan pertamanya adalah ke Israel, di mana dia disambut dengan hangat pada 1 Agustus 1990 di Bandar Udara Ben-Gurion. Di antara para penyambutnya adalah Wakil Perdana Menteri Geula Cohen dari partai sayap kanan Tehiya dan anggota Knesset Edna Solar dari Partai Buruh.22 Suatu Komite Publik bagi suami-istri Pollard telah didirikan di Israel untuk mengumpulkan uang dan berjuang demi kebebasan pasangan itu. Di samping itu, sebuah perusahaan asuransi Israel dilaporkan membayar biaya medis Anne Pollard “sebagai suatu isyarat kemanusiaan.”23 Sampai kini Jonathan Pollard belum dibebaskan. Hukuman seumur hidupnya dikuatkan pada 20 Maret 1992, setelah pengadilan banding yang diajukan oleh ahli hukum Harvard, Alan Dershowitz, di Pengadilan Tinggi Federal di Washington D.C.24 Mahkamah Agung AS di kemudian hari bersedia meninjau kasus itu.25 Bagaimanapun juga, di tengah hangatnya kampanye kepresidenan, Demokrat Bill Clinton menjanjikan kelompok-kelompok Yahudi bahwa dia akan meninjau secara pribadi dan segera kasus Pollard jika dia terpilih menjadi presiden,26 dan sejumlah besar rabbi AS memasang sebuah Man sehalaman penuh di The New York Times pada 23 Oktober 1992, meminta Presiden Bush agar segera membebaskan Pollard. 27

Sedangkan mengenai pengembalian dokumen-dokumen yang dicuri, Israel mengembalikan hanya 163 dari dokumen-dokumen curian tersebut. Bagaimanapun juga, itu hanyalah janji kosong, sebab Israel telah mempunyai waktu yang lebih dari cukup untuk menyalin semuanya.28 Pun janji Israel untuk memberikan kerja sama penuh dalam penyelidikan Pollard tidak pernah ditepati. Pada Juni 1986, Direktur FBI William H. Webster mengambil langkah yang tidak biasa dengan mengemukakan keluhan di depan umum bahwa Israel hanya “memberikan kerja sama selektif” dalam penyelidikan AS. Dia meminta Israel agar memberi “kerja sama penuh.”29 Tidak ada jawaban dari Israel.

Catatan kaki:

1 Scott Armstrong, Washington Post, 1 Februari 1982. Untuk survei mengenai tindakan Israel memata-matai Amerika Serikat, lihat serial tiga bagian dalam The Wallstreet Journal oleh Edward T. Pound dan David Rogers, 17 Januari, 20 Januari, 22 Januari 1992. Juga lihat Jeff McConnell dan Richard Higgins “The Israeli Account,” Boston Globe Magazine, 14 Desember 1986; Claudia Wright, Spy, Steal and Smuggle: Israel’s Special Relationship with the United States (Belmont, Mass.: AAUG Press, 1986). Untuk cerita-cerita umum mengenai tindakan Israel memata-matai Amerika Serikat, lihat Washington Post, 5 Januari 1986; Baltimore Sun, 16 November 1986. Dua cerita mengemukakan secara rinci usaha-usaha pemerintah Reagan untuk mengurangi kegawatan spionase Israel: Los Angeles Times, 11 Juni 1986; New York Times, 12 Juni 1986. Buku-buku yang bermanfaat termasuk Cockburn, Dangerous Liaison; Hersh, The Samson Option; Ostrovsky dan Hoy, By Way of Deception.

2 Bard dan Himelfarb, Myths and Facts, 250.

3 Pound dan Rogers, Wallstreet Journal, 17 Januari 1992.

4 Ostrovsky dan Hoy, By Way of Deception, 269; juga lihat Roger Cohen, New York Times, 13 September 1990. Israel berusaha menuduh Ostrovsky sebagai seorang pembohong dan pembual; namun beberapa ahli yang berada dalam kedudukan untuk mengetahui hal itu cenderung mempercayainya; lihat, misalnya, Black dan Morris, Israel’s Secret Wars, 493.

5 Wright, Spy, Steal and Smuggle.

6 Bard dan Himelfarb, Myths and Facts, 250.

7 Untuk latar belakang, lihat Cockburn, Dangerous Liaison, 203-9; Hersh, The Samson Option, 285-305; Raviv dan Melman, Every Spy a Prince, 301-23. Untuk reaksi awal lihat New York Times, 2 Desember 1985. Teks mengenai kasus pemerintah melawan Pollard terdapat dalam “Documents and Source Material,” Journal of Palestine Studies, Musim Gugur 1986, 229-34.

8 Hersh, The Samson Option, 285, 297.

9 Ibid., 285, menyatakanbahwa Pollard sesungguhnya telah mulai menjadi mata-mata selama Israel tiga tahun lebih awal dari yang diakuinya, dan bahwa jumlah keseluruhan halaman dokumen-dokumen rahasia yang disampaikannya kepada Israel adalah sekitar 500.000; lihat 286.

10 “Government Memorandum in Aid of Sentencing,” U.S. District Court for the District of Columbia, Kriminal no. 86- 0207, 6 Januari 1987.

11 Hersh, The Samson Option, 295.

12 Pokok-pokok dari pernyataan pemerintah mengenai bahaya yang ditimbulkan Pollard dirinci dalam dokumen-dokumen yang diberkaskan di Pengadilan Negeri AS untuk Distrik Columbia: “Government’s Memorandum in Aid of Sentencing;” Kriminal No. 86-0207 dan 87-0208, 6 Januari 1987, dalam kasus USA v. Jonathan Jay Pollard and Anne Henderson Pollard. Teks yang berisi memo hukuman yang panjang atas Jonathan Pollard dapat ditemukan dalam American-Arab Affairs, Musim Gugur 1987,123-46.

13 Robert L. Friedman, “The Secret Agent,” New York Review of Books, 26 Oktober 1989. Friedman membuat tinjauan atas Territory of Lies (New York: Harper and Row, 1989), sebuah buku yang sepenuhnya membahas kasus itu ditulis oleh wartawan Jerusalem Post Wolf Blitzer. Friedman berpendapat buku itu “terkadang bersifat apologetik.”

14 Bard dan Himelfarb, Myths and Facts, 251.

15 Ostrovsky dan Hoy, By Way of Deception, 268.

16 Dia hendaknya tidak dipertukarkan dengan tokoh Israel lain dengan nama yang sama yang menjadi kepala staf semasa berlangsungnya invasi Israel ke Lebanon pada 1982 dan kemudian menjadi kepala faksi politik sayap kanan bernama Tsomet.

17 Dan Raviv dan Yossi Melman, Washington Post, rubrik Outlook, 3 September 1989; New York Times, 9 Januari 1986.

18 David B. Ottaway, Washington Post, 30 Oktober 1985. Juga lihat Raviv dan Melman, Every Spy a Prince, 321-22.

19 Jack Anderson dan Dale Van Atta, Washington Post, 9 Mei 1988.

20 Robert L. Friedman, Washington Post, rubrik Outlook, 19 Juni 1988.

21 Jerusalem Post International Edition, 9 September 1989.

22 Associated Press, Washinton Times, 2 Agustus 1990.

23 Howard Kurtz, Washington Post, 19 Juli 1990.

24 Neil A. Lewis, New York Times, 21 Maret 1992.

25 Linda Greenhouse, New York Times, 14 Oktober 1992.

26 “The Week in Review;” New York Times, 18 Oktober 1992.

27 “An Open Letter to President George Bush Concerning Jonathan Pollard,” New York Times, 23 Oktober 1992.

28 Raviv dan Melman, Every Spy a Prince, 321-27.

29 New York Times, 11 Juni 1986.


Diplomasi Munafik ala Yahudi
Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel oleh Paul Findley
Judul Asli: Deliberate Deceptions:
Facing the Facts about the U.S. – Israeli Relationship by Paul Findley
Terbitan Lawrence Hill Brooks, Brooklyn, New York 1993
Penterjemah: Rahmani Astuti, Penyunting: Yuliani L.
Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 1, Dzulhijjah 1415/Mei 1995
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan