Kamis , 2 Oktober 2014
INFO
Home / BERITA / Mualaf / Easa Ashby Memeluk Islam di Usia 13 Tahun

Easa Ashby Memeluk Islam di Usia 13 Tahun

Menjadi muslim di usia muda bukan masalah.Itulah trend baru geliat Islam di kota metropolitan London, Inggris

 

 

Hidayatullah.com–Ada fenomena baru di Inggris saat ini di mana pemeluk Islam dari kalangan muda meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Usia muallaf baru itu bahkan bisa dibilang sangat belia. Easa Ashby salah satunya. Remaja asal kota London itu memeluk Islam di usianya yang ke-13. Dia tertarik Islam melalui “dakwah” salah seorang anak tantenya. Sepupunya itu, yang masuk Islam pada usia 15 tahun, satu hari mengajak Easa ke rumahnya. Di rumah sepupunya itu Easa diperlihatkan kitab suci Alquran. Berawal dari sana pula dia mulai tertarik belajar Islam. Rasa ingin tahunya tentang Islam membuncah hingga uang jajannya habis untuk beli buku-buku Islam.  

 

 

Kenal Islam Melalui Sepupu

 

Easa saat memeluk Islam baru berumur 13 tahun. Sebelum masuk Islam, saat masih berusia 10 tahun dia seperti bocah-bocah lainnya, melewati kehidupan normal, pergi sekolah, bercengkrama dengan teman-temannya. Ya seperti umumnya anak-anak di sekolah dasar.

 

Kala di sekolah menengah pertama, salah satu saudara sepupunya yang perempuan berumur kira-kira 15 tahun diketahuinya telah memeluk Islam. Sepupunya itu tiap berkunjung ke rumah saudara-saudaranya yang lain selalu menceritakan kepada sanak keluarganya tentang Islam. Anggota keluarga semua ikut mendengar dan tentu saling beda pendapat satu sama lain. Lalu muncul adu argumentasi dan debat. Menariknya si saudaranya yang baru muallaf itu tidak membantah. Dia lebih banyak diam dan hanya mendengar saja. Tidak mau berdebat secara frontal.

 

“Satu ketika, kala aku sendirian di rumah, sepupuku itu mengajakku ke rumahnya yang jaraknya cuma 15 menit jalan kaki. Ya itu rumahnya bibi Easa,” kisah Easa. Sesampai di rumahnya, si sepupunya itu menunjukkan pada Easa kitab suci Alquran seraya bertanya apa dia tahu buku apa itu. Spontan Easa menjawab tidak tahu.”

 

“Serta merta dia menjelaskan persis seperti orang Kristen menjelaskan apa itu Bibel. Aku baru tahu rupanya itu kitab suci umat Islam,” lanjutnya. Kepada sepupunya, Easa menyebut tidak tahu apapun tentang Islam. Agama yang dia tahu cuma Kristen yang sering dia dengar dari ibunya. Ketika itu sepupunya menerangkan tentang Allah SWT dan Nabi Muhammad zang merupakan utusan-Nya. Dan Al-Quran itu diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Nabi Muhammad.

 

Terkesan dengan Al-Quran

 

Begitulah, Easa menemukan apa yang dia sebut sebagai keajaiban ilmiah di dalam Alquran hingga menggiringnya memeluk Islam. Hari-hari berikutnya dia suka mendengar kisah-kisah para muallaf lain, terutama pengalaman spiritual mereka kala memeluk Islam. Bagi Easa sendiri dia sagat terkesan dengan fakta dan gambaran kehidupan yang diceritakan dalam Alquran, yang nyata serta rasional.

 

“Misalnya, keterangan yang begitu jelas tentang proses kejadian manusia di dalam rahim seorang ibu. Lalu tentang kejadian jagat raya, bintang-bintang, laut dan aneka keterangan ilmiah lainnya. Menurut aku,  ilmu pengetahuan yang ada hari ini seharusnya berterima kasih atas fakta-fakta ini,” kata dia.     

 

Tentang shalat lima kali sehari, mengikuti anjuran makan makanan halal, dan busana muslim yang menutup aurat, bagi Easa hal itu tidak masalah. Bukan sebuah perkara yang sulit, kata dia. Sepupunya juga menjelaskan hal-hal mendasar dalam Islam. Easa lalu mempelajari dua hal yakni shalat dan satunya tentang etika berbusana menurut Islam. Dia akhirnya memilih untuk fokus pada masalah shalat. Buku-buku tentang tatacara shalat pun dicari lalu dipelajarinya.

 

Awalnya, dia tidak menceritakan kepada siapapun tentang hal ini. Sebab seperti diakuinya, dia belum begitu siap jika ada komentar atau kritikan. Dia mengaku sangat belia sekali, belum siap secara mental. Easa bahkan punya obsesi untuk pergi ke Mesir dan Yaman supaya bisa mempelajari Islam lebih mantap. Tapi keinginan itu disimpannya dulu dalam-dalam. Takut nanti bermasalah. Sebab, selain sepupunya itu, dia tak punya kenalan lain yang beragama Islam.

 

Uang jajan untuk beli buku Islam

 

Rasa ingin tahunya tentang Islam makin membuncah. Hingga uang jajan habis untuk beli buku di sebuah toko buku Islam di kotanya. Buku yang dia beli berisi penjelasan shalat, puasa, buku-buku tauhid, kehidupan Rasulullah dan kisah para sahabatnya.

 

Setelah tiga atau empat bulan belajar secara otodidak, dia mengunjungi pengajian yang sering diadakan di kediaman Syeikh Abdur Rahman di selatan kota London . Pengajian yang berlangsung di ruang tamu sang ustaz itu sangat menarik. Para pengunjung, yang umumnya adalah para muallaf, terlihat sangat menikmati ceramah Syekh Rahman. Easa mengaku sangat terinspirasi dengan pengajian tersebut. Dia mendapat banyak sekali masukan hal-hal mendasar dalam Islam.

 

Dia berusia 15 tahun pada saat mulai belajar tentang Islam secara terbuka dan intensif. Pada saat bersamaan Easa punya teman yang juga baru masuk Islam dan karena itu mereka saling mengisi satu sama lainnya. Bahkan kala ke mesjid pun mereka sering berdua.  Hanya saja kala di sekolah mereka kerap mendapat kesulitan untuk ke mesjid untuk shalat Jumat, karena bertubrukan dengan jam sekolah.

 

Meskipun dia baru kenal Islam di usia yang sangat belia, namun dia tidak melihat Islam sebagai agama yang keras atau penghalang aktifitasnya. Justru dia merasa Islam sangat menarik. Dari situ dia tahu kenapa alkohol itu haram. Masuk akal, menurut Easa, Islam melarang alkohol. Sebab hampir semua perbuatan buruk berawal dari sana .

 

Tetap berinteraksi dengan non muslim

 

Di rumah Syeikh Rahman Easa banyak mendapat informasi misalnya hal apa yang dibolehkan dan diharamkan. Begitupun dia terkesan dengan Islam yang tak pernah membeda-bedakan golongan atau kelompok. Jadi dia masih tetap bisa berinteraksi dengan rekan-rekannya yang non muslim. Namun jika rekan-rekannya itu mengajaknya ke tempat yang dilarang Islam, misal ke pub atau ke bar untuk minum-minum, dia serta-merta menolaknya.

 

“Aku tidak mengisolasikan diri dengan teman-teman yang non-muslim. Begitupun aku tetap berpijak pada Islam jika ada yang tak berkenan dalam pertemanan kami. Misalnya, aku tak mau lagi terlibat dalam suasana ghibah (membicarakan keburukan orang lain).

 

“Informasi tentang kebenaran Islam tak cukup dari mendengar saja. Tapi kita harus berusaha terus mencari dan mencari. Tidak boleh malas. Dan, jalan terbaik untuk mendapatkan pengetahuan Islam adalah melalui Alquran dan hadist, terutama hadist Bukhari dan Muslim,” anjur Easa terutama bagi para muallaf baru. Dia juga menganjurkan untuk mempelajari kehidupan para sahabat Rasulullah. Karena merekalah yang melihat langsung cara hidup Rasul dan mempraktekkannya dalam kehidupan harian. Para sahabat menerima Islam langsung dari tangan pertama, yakni Rasulullah.

 

“Saat ini ada jarak yang sangat jauh sekali. Kita telah banyak meninggalkan sunnah-sunnah Nabi. Sehingga muncul berbagai amalan tanpa mengaju kepada ajaran dasar Islam. Muncul pula konflik dalam tubuh umat Islam akibat melakukan sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup. Kini krisis ummat harus diselesaikan dengan kembali ke ajaran yang sebenarnya. Jangan lagi terkotak-kotak. Sunnah Rasul adalah cara hidup terbaik,” pesan remaja belia itu lagi.

 

Krisis Identitas Islam

 

Easa mengamati sebagain besar pemuda Islam seakan kehilangan pegangan. “Mereka telah lepas kontrol dan jadi korban budaya tak beradab. Ironisnya mereka mengikuti cara hidup orang lain dan meinggalkan cara hidup Islam. Easa sendiri mengaku sangat beruntung bisa mendapatkan jalan hidup Islam di saat masih sangat belia, di usia 13 tahun. Sehingga semua yang dipelajarinya mudah terserap dan berkesan dalam hati. Rasa ingin tahunya yang besar membuat Easa selalu menghadiri setiap pengajian yang diadakan di rumah Syekh Rahman. Bahkan dia punya cita-cita untuk bisa jadi penghafal (hafiz) Alquran satu saat nanti.

 

Menjadi muslim di usia sangat muda bukannya tanpa masalah. Apalagi di kota London yang serba metroplit. “Masalah yang sangat kentara adalah di kala melamar pekerjaan. Walau dikatakan tak ada perbedaan dari segi agama atau kelompok, tapi kenyataannya ketika seorang muslim melamar sebuah pekerjaan maka ada banyak kesulitan yang bakal dihadapi. Akhirnya, tentu saja muncul rasa putus asa,” kata Easa.

 

“Lain halnya jika yang melamar non muslim. Mereka sangat gampang mendapatkannya. Sebab agamanya sama dengan yang menawarkan pekerjaan. Ini kenyataan lapangan yang tak bisa dibohongi. Jadi rasisme itu masih dan terkadang sangat kentara. Mungkin ini yang masih harus terus diperjuangkan oleh umat Islam disini,” imbuh dia lagi.Terhadap masalah itu Eesa menganjurkan pada muallaf baru untuk menahan diri dan sabar.

 

“Yang paling penting, jangan mudah marah hanya gara-gara hal itu. Apalagi sampai mebuat kerusuhan. Ini tidak baik bagi umat Islam sendiri. Sabar, jangan cepat marah dan jangan frustasi,” saran Easa bijak. Dia, secara khusus, menyarankan agar pimpinan komunitas Islam di Inggris untuk bersatu padu. Sekarang ini, menurut dia, tema-tema tentang menjadikan Inggris sebagai negara Islam sudah tak pada tempatnya lagi. Yang ada hanya perpecahan dan muncul bahaya yang lebih parah dimana Islam bakal tak mendapat tempat lagi.

 

“Sekarang bukan masanya lagi bicara tentang hal itu (negara Islam-red). Konon lagi di Barat. Jika semua sudah melaksanakan Islam secara sempurna itu akan datang dengan sendirinya. Mari belajar dan jalankan Islam secara benar. Tak ada yang baru dalam Islam karena Islam sudah sangat sempurna. Masalah yang muncul hari ini justru karena ketelodoran umat Islam sendiri, karena salah paham dan salah dalam pengamalannya,” tukas Easa panjang lebar.

sumber : [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

2 comments

  1. BILLY THE GANG

    amin – amin….

Tinggalkan Balasan