Sabtu , 26 Juli 2014
INFO
Home / ISLAM / hadist / Makna Islam Terpecah 73 Golongan

Makna Islam Terpecah 73 Golongan

assalamualaykum wa rahmatullah wa barakatuh.

ustadz yg dirahmati ALLAH, saya ingin menanyakan arti surat al anbiyaa ayat 93. apakah ayat tersebut mengindikasikan bahwa agama islam memang terpecah menjadi 73 bagian? sebab saya pernah mendengar tentang hal tersebut. apabila memang benar yg manakah yg harus saya ikuti? adakah ciri2 dari ajaran ALLAH yg paling benar dan sesuai dengan syariat yg diajarkan nabi Muhammad SAW. terima kasih atas penjelasan ustadz

.

Ninuk Fauziah

jawaban Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Wa’alaikumussalam Wr Wb

Saudara Nunik yang dimuliakan Allah swt

Firman Allah swt :

Tafsir Surat Al Anbiya : 93

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ ﴿٩٢﴾
وَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ كُلٌّ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ ﴿٩٣﴾
فَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ ﴿٩٤﴾
Artinya : “Sesungguhnya (agama tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. kepada kamilah masing-masing golongan itu akan kembali. Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, Maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Sesungguhnya kami menuliskan amalannya itu untuknya.” (QS. Al Anbiya : 92 – 94)

Tentang firman Allah إن هذه أمتكم أمة واحدة , Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubeir dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan bahwa agama kalian adalah satu.

Sedangkan Hasan Al Bashri mengatakan bahwa ayat itu menjelaskan kepada mereka apa-apa yang harus dijaga dan apa-apa yang akan terjadi kemudian dia mengatakan bahwa makna dari إن هذه أمتكم أمة واحدة adalah sunnah (jalan) kalian adalah jalan yang satu.
Adapun maksud firman Allah وتقطعوا أمرهم بينهم adalah umat-umat berselisih terhadap para rasul mereka, ada dari mereka yang mengimani namun ada juga yang mendustai mereka. Karena itulah firman-Nya كل إلينا راجعون yaitu : pada hari kiamat, Dia swt akan memberikan balasan sesuai dengan amalnya, jika amalnya baik maka dibalas dengan kebaikan dan jika ia buruk maka dibalas dengan keburukan. Karena itu juga Allah berfirman فمن يعمل من الصالحات وهو مؤمن yaitu hatinya beriman dan beramal shaleh فلا كفران لسعيه seperti firman-Nya إنا لا نضيع أجر من أحسن عملا (QS. Al Kahfi : 30) yang berarti usaha atau amalnya tidak akan diingkari bahkan diberikan balasan dan tidaklah dizhalimi walau sebesar biji sawi sekali pun, karena itu pula firman-Nya selanjutnya وإنا له كاتبون yaitu akan ditulis seluruh amalnya dan tidak akan disia-siakan sedikit pun. (Tafsir al Qur’anil Azhim juz V hal 371 – 372)

Al Qurthubi mengatakan bahwa makna وتقطعوا أمرهم بينهم mereka saling berpecah didalam agama, demikian dikatakan al Kalibi, sementara al Akhfasy mengatakan bahwa mereka saling berselisih didalamnya.

Al Qurthubi juga mengatakan bahwa yang dimaksud di situ adalah orang-orang musyrik, mereka dicerca karena telah menyimpang dari kebenaran serta mengambil tuhan-tuhan selain Allah. Al Azhariy mengatakan bahwa maknanya adalah mereka telah berpecah belah didalam urusan (agama) mereka.

Maksudnya adalah seluruh makhluk, yaitu mereka telah menjadikan urusan didalam agama mereka terpotong-potong dan mereka mebagi-bagi diantara mereka. Diantara mereka ada yang tetap bertauhid, ada yang menjadi Yahudi, ada yang menjadi Nashrani dan ada yang menyembah raja atau berhala. Dan كل إلينا راجعون yaitu seluruhnya akan dikembalikan kepad pengadilan Kami lalu Kami memberikan balasan kepada mereka. (Al Jami’ Li Ahkmil Qur’an jilid VI hal 304 – 305)

Didalam menafsirkan ayat-ayat diatas Sayyid Qutb mengatakan bahwa umat para rasul adalah satu, mereka tegak diatas aqidah yang satu dan agama yang satu. Asasnya adalah tauhid yang menjadi da’wah para rasul sejak awal hingga akhir risalah-risalah tanpa ada pergantian atau perubahan pada asal yang besar ini.

Sesungguhnya berbagai perincian dan penambahan didalam manhaj kehidupan tegak diatas aqidah tauhid yang sesuai dengan kesiapan setiap umat, perkembangan setiap generasi, sesuai pertumbuhan pengetahuan dan pengalaman manusia, kesiapan mereka terhadap berbagai tipe taklif dan syari’at serta sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan baru yang tumbuh bersama pengalaman mereka dan perkembangan kehidupan, berbagai sarana dan hubungan antara generasi satu dengan lainnya.
Bersamaan dengan kesatuan umat para rasul dan kesatuan dasar yang diatasnya tegak seluruh risalah itu terjadilah perpecahan dikalangan para pengikutnya dalam urusan (agama), setiap mereka menjadi sebuah potongan dan lari darinya. Lalu muncul perdebatan dan banyak perselisihan terjadi diantara mereka serta bangkitlah permusuhan dan kebencian diantara mereka… Hal itu terjadi diantara para pengikut dari rasul yang satu hingga mengakibatkan sebagian mereka membunuh sebagian lainnya dengan mengatasnamakan aqidah padahal aqidahnya satu dan umat para rasul seluruhnya adalah satu.

Sungguh perpecahan diantara mereka dalam urusan (agama) mereka di dunia dan seluruhnya akan dikembalikan kepada Allah di akherat كل إلينا راجعون yaitu seluruhnya hanya kembali kepada-Nya. Dia lah yang berhak menghisab mereka dan Yang mengetahui atas apa yang mereka lakukan baik berupa petunjuk atau kesesatan . (Fii Zhilalil Qur’an juz IV hal 2397)

Didalam sebuah hadits shahih yang sudah masyhur yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan masanid seperti Abu Daud, Nasai, Tirmidzi dan yang lainnya dengan beberapa lafazhnya, diantaranya,”Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan seluruhnya di neraka kecuali satu. Orang-orang Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan seluruhnya di neraka kecuali satu. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan seluruhnya di neraka kecuali satu.” Didalam riwayat lain,”Mereka bertanya,’Wahai Rasulullah, siapakah golongan yang selamat ?

Beliau saw menjawab,’Siapa yang berada diatas (ajaran) seperti ajaranku hari ini dan para sahabatku.” (HR. Thabrani dan Tirmidzi) didalam riwayat lain disebutkan,”ia adalah jama’ah, tangan Allah berada diatas tangan jama’ah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Siapa Golongan Yang Selamat ?

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz mengatakan bahwa “Golongan yang Selamat” adalah jama’ah yang istiqomah diatas jalan Nabi saw dan para sahabatnya, mengesakan Allah, menaati berbagai perintah dan menjauhi berbagai larangan-Nya, istiqomah dengannya dalam perkataan, perbuatan maupun aqidahnya. Mereka adalah ahlul haq, para penyeru kepada petunjuk-Nya walaupun mereka tersebar di berbagai negeri, diantara mereka ada yang tinggal di Jazirah Arab, Syam, Amerika, Mesir, Afirka, Asia, mereka adalah jama’ah-jama’ah yang banyak yang mengetahui aqidah dan amal-amal mereka. Apabila mereka berada diatas jalan tauhid, keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, istiqamah diatas agama Allah sebagaimana yang terdapat pada Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya maka mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah walaupun mereka berada di banyak tempat namun pada akhir zaman jumlah mereka tidaklah banyak.

Dengan demikian, kriiteria mereka adalah keistiqomahan mereka berada diatas kebenaran. Apabila terdapat seseorang atau jama’ah yang menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, menyeru kepada tauhid Allah serta mengikuti syariahnya maka mereka adalah jama’ah, mereka adalah “Golongan yang Selamat”.

Adapun orang yang menyeru kepada selain Kitabullah atau selain Sunnah Rasul saw maka mereka bukanlah jama’ah bahkan termasuk kedalam golongan yang sesat dan merusak.

Sesungguhnya golongan yang selamat adalah para penyeru Al Qur’an dan Sunnah, walaupun ia adalah jama’ah ini atau jama’ah itu selama tujuan dan aqidahnya adalah satu tidak masalah apakah ia adalah jama’ah : Anshorus Sunnah, al Ikhwan al Muslimin atau yang lainnya, yang penting aqidah dan amal mereka. Apabila mereka istiqomah diatas kebenaran, tauhidullah, ikhlas dengannya, mengikuti rasul-Nya saw baik perkataan, perbuatan, aqidah sedangkan nama tidaklah menjadi persoalan akan tetapi hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan bersifat shidiq.

Apabila sebagian mereka menamakan jam’ahnya dengan Anshorus Sunnah, sebagian lain menamakannya dengan Salafiy atau al Ikhwan al Muslimin atau jama’ah ini dan itu maka tidaklah menjadi persoalan selama jama’ah itu shidiq dan istiqomah diatas kebenaran dengan mengikuti Kitabullah dan Sunnah serta menghukum dengan keduanya, istiqomah diatas keduanya baik aqidah, perkataan dan perbuatan. Apabila jama’ah itu melakukan kesalahan dalam suatu urusan maka wajib bagi ahli ilmu untuk mengingatkannya dan menunjukinya kepada kebenaran apabila buktinya telah jelas.
Hal itu berarti : Hendaknya kita saling bekerja sama didalam kebajikan dan ketakwaan, mencari solusi terhadap berbagai problematika kita dengan ilmu, hikmah, cara-cara yang baik. Barangsiapa yang melakukan kesalahan dalam suatu urusan dari jama’ah-jama’ah ini atau selain mereka yang berkaitan dengan aqidah atau apa-apa yang diwajibkan Allah atau diharamkan Allah maka hendaknya mereka diingatkan dengan dalil-dalil syar’i dengan cara yang lembut, bijaksana, cara yang baik sehingga mereka mau mengakui dan menerima kebenaran serta tidak lari darinya. Ini adalah kewajiban kaum muslimin untuk saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan, saling menasehati diantara mereka dan tidak saling menghina yang bisa membuka peluang musuh untuk masuk ketengah-tengah mereka. (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah juz VIII hal 181)

Wallahu A’lam

sumber ;eramuslim.com

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

11 comments

  1. halo, sy Agus Suhanto, posting yang/yg oke :) … salam kenal yee

  2. Ass.wr.wb
    Jadi dalam surat al anbiya ayat 92 sampai dengan 94, tidak ada kata2 atau kalimat terpecah menjadi 73 bagian.
    Lalu pertanyaan berikutnya apakah hadis shoheh, yang menyatakan ummat yahudi terpecah jadi 71 , ummat nasrani 72, ummat islam 73, itu dapat digandengkan dengan surat al anbiya ayat 92 sampai dengan 94?
    Bagaimana sebenarnya asbabun nuzul hadist itu? Kenapa perpecahan ummat Islam kok lebih banyak…
    Apakah ini berarti ummat Islam ……….saya tidak mampu menyebutnya?
    Hadist itu ternyata menjadi sumber propaganda tiap golongan. Mohon kajiannya

    • wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

      saudaraku Sumono menulis:

      Jadi dalam surat al anbiya ayat 92 sampai dengan 94, tidak ada kata2 atau kalimat terpecah menjadi 73 bagian.

      jawab

      1. didalam Al Anbiya 92 sampai dengan 94 memang tidak ada kata secara harfiah,terpecah 73 golongan ,tetapi cobaalah cermati ‘penafsiran’ para Ulama yang sudah direferensikan oleh Ustadz Sigit Pranowo, Lc.
      agar kita bisa menangkap penjelasannya

      2. tentang Hadist yang anda pertanyakan adalah Shahih sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas,untuk lebih jelas saya akan mengutipnya

      Didalam sebuah hadits shahih yang sudah masyhur yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan masanid seperti Abu Daud, Nasai, Tirmidzi dan yang lainnya dengan beberapa lafazhnya, diantaranya,”Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan seluruhnya di neraka kecuali satu. Orang-orang Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan seluruhnya di neraka kecuali satu. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan seluruhnya di neraka kecuali satu.” Didalam riwayat lain,”Mereka bertanya,’Wahai Rasulullah, siapakah golongan yang selamat ?

      Beliau saw menjawab,’Siapa yang berada diatas (ajaran) seperti ajaranku hari ini dan para sahabatku.” (HR. Thabrani dan Tirmidzi) didalam riwayat lain disebutkan,”ia adalah jama’ah, tangan Allah berada diatas tangan jama’ah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

      3. soal jumlah,dalam memahami hadist tersebut sebaiknya kita tidak memahaminya secara harfiah,bahwa kalau Hadist tersebut 71,72 atau 73 maka fakta harus sama persis seperti itu,tetapi cobalah memahami secara maknawiyahnya

      4.jadi propaganda? sepertinya yang lebih tepat adalah,sebagian orang yang mengutip hadist tersebut kemudian, merasa bahwa kelompoknya yang paling merasa benar,bahkan cenderung membangga-banggakan kelompoknya.

      ini yang menjadi persoalan, karena akan melahirkan ‘kesombongan’ terhadap sebuah kelompok.
      dan ini yang berbahaya,semoga kita dijauhkan dari tabiat-tabiat ini,karena Nabi pernah berpesan

      “Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah.” (HR. Bukhari)

      dan Allah berfirman didalam Qs 2:208

      [2:208] Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

      salah satu penyebab penolakan Iblis laknatullah tunduk dan patuh kepada perintah Allah untuk ‘sujud’ adalah disebabkan kesombongan,yaitu membangga-banggakan asal-usulnya dan meremehkan makluk lain, semoga kita dijauhkan dari ‘langkah-langkah Syaitan ini’ karena itu adalah musuh utama yang perlu dihindari oleh siapa saja yang dirinya mengaku beriman .

      tetapi tentang bagaimana kedudukan Hadist tersebut,untuk lebih jelasnya bisa baca penjelasan dari

      Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

      ttp://www.almanhaj.or.id/content/453/slash/0

      MUQADDIMAH
      Akhir-akhir ini kita sering dengar ada beberapa khatib dan penulis yang
      membawakan hadits tentang tujuh puluh dua golongan ummat Islam masuk Neraka
      dan hanya satu golongan ummat Islam yang masuk Surga adalah hadits yang
      lemah, dan mereka berkata bahwa yang benar adalah hadits yang berbunyi bahwa
      tujuh puluh golongan masuk Surga dan satu golongan yang masuk Neraka, yaitu
      kaum zindiq. Mereka melemahkan atau mendha’ifkan ‘hadits perpecahan ummat
      Islam menjadi tujuh puluh golongan, semua masuk Neraka dan hanya satu yang
      masuk Surga’ disebabkan tiga hal:

      1. Karena pada sanad-sanad hadits tersebut terdapat kelemahan.
      2. Karena jumlah bilangan golongan yang celaka itu berbeda-beda, misalnya;
      satu hadits menyebutkan tujuh puluh dua golongan yang masuk Neraka, dalam
      hadits yang lainnya disebutkan tujuh puluh satu golongan dan dalam hadits
      yang lainnya lagi disebutkan tujuh puluh golongan saja, tanpa menentukan
      batas.
      3. Karena makna/isi hadits tersebut tidak cocok dengan akal, mereka
      mengatakan bahwa semestinya mayoritas ummat Islam ini menempati Surga atau
      minimal menjadi separuh penghuni Surga.

      Dalam tulisan ini, insya Allah, saya akan menjelaskan kedudukan sebenarnya
      dari hadits tersebut, serta penjelasannya dari para ulama Ahli Hadits,
      sehingga dengan demikian akan hilang ke-musykil-an yang ada, baik dari segi
      sanadnya maupun maknanya.

      JUMLAH HADITS TENTANG TERPECAHNYA UMMAT ISLAM
      Apabila kita kumpulkan hadits-hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73
      (tujuh puluh tiga) golongan dan satu golongan yang masuk Surga, lebih kurang
      ada lima belas hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh Imam Ahli
      Hadits dari 14 (empat belas) orang Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
      wa sallam. Yaitu:

      1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
      2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu.
      3. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma.
      4. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
      5. Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.
      6. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
      7. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
      8. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
      9. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.
      10 Watsilah bin Asqa’ radhiyallahu ‘anhu.
      11. ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani radhiyallahu ‘anhu.
      12. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
      13. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
      14. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

      Sebagian dari hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:

      HADITS PERTAMA:
      Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

      Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu
      ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh
      puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum
      Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua
      (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73)
      golongan.

      Keterangan:
      Hadits ini diriwayatkan oleh:
      1. Abu Dawud, Kitab as-Sunnah, I-Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafazh
      hadits di atas adalah lafazh Abu Dawud.
      2. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, 18-Bab Maa Jaa-a fiftiraaqi Haadzihil Ummah,
      no. 2778 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shahih.” (Lihat kitab Tuhfatul
      Ahwadzi VII/397-398.)
      3. Ibnu Majah, 36-Kitabul Fitan, 17-Bab Iftiraaqil Umam, no. 3991.
      4. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad II/332, tanpa me-nyebutkan kata “Nashara.”
      5. Al-Hakim, dalam kitabnya al-Mustadrak, Kitabul Iman I/6, dan ia berkata:
      “Hadits ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.”
      6. Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawaariduzh Zhamaan,
      31-Kitabul Fitan, 4-Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834.
      7. Abu Ya’la al-Maushiliy, dalam kitabnya al-Musnad: Musnad Abu Hurairah,
      no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut).
      8. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya as-Sunnah, 19-Bab Fii ma Akhbara bihin
      Nabiyyu -Shallallaahu ‘alaihi wa sallam- anna Ummatahu Sataftariqu, I/33,
      no. 66.
      9. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraaqil Umam fii
      Diiniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah? I/374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san
      Mu’thi.
      10. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fii
      Diinihi, I/306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman
      ad-Damiiji.

      Perawi Hadits:
      a. Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy.
      . Imam Abu Hatim berkata: “Ia baik haditsnya, ditulis haditsnya dan dia
      adalah seorang Syaikh (guru).”
      . Imam an-Nasa-i berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia
      pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.”
      . Imam adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Syaikh yang terkenal dan
      hasan haditsnya.”
      . Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata: “Ia se-orang perawi yang benar,
      hanya padanya ada beberapa kesalahan.”
      (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu VIII/30-31, Mizaanul I’tidal III/ 673 no. 8015,
      Tahdzibut Tahdzib IX/333-334, Taqribut Tahdzib II/119 no. 6208.)
      b. Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf: Beliau adalah seorang perawi
      yang tsiqah, Abu Zur’ah ber-kata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.”
      (Lihat Tahdzibut Tahdzib XII/115, Taqribut Tahdzib II/409 no. 8177.)

      Derajat Hadits
      Hadits di atas derajatnya hasan, karena terdapat Muhammad bin ‘Amr, akan
      tetapi hadits ini menjadi shahih karena banyak syawahidnya.

      Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

      Imam al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan keduanya
      (yakni al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan al-Hafizh
      adz-Dzahabi pun menyetujuinya. (Lihat al-Mustadrak Imam al-Hakim: Kitaabul
      ‘Ilmi I/128.)

      Ibnu Hibban dan Imam asy-Syathibi telah menshahihkan hadits di atas dalam
      kitab al-I’tisham (II/189).

      Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany juga telah menshahihkan hadits di atas
      dalam kitab Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 203 dan kitab Shahih
      at-Tirmidzi no. 2128.

      HADITS KEDUA:
      Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

      Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi
      Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia
      berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
      pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah
      sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani)
      terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini
      akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang
      tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga,
      yaitu “al-Jama’ah.”

      Keterangan:
      Hadits ini diriwayatkan oleh:
      1. Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597, dan lafazh hadits
      di atas adalah dari lafazh-nya.
      2. Ad-Darimi, dalam kitab Sunan-nya (II/241) Bab fii Iftiraqi Hadzihil
      Ummah.
      3. Imam Ahmad, dalam Musnad-nya (IV/102).
      4. Al-Hakim, dalam kitab al-Mustadrak (I/128).
      5. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah (I/314-315 no. 29).
      6. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam Kitabus Sunnah, (I/7) no. 1-2.
      7. Ibnu Baththah, dalam kitab al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Najiyah
      (I/371) no. 268, tahqiq Ridha Na’san Mu’thi, cet.II Darur Rayah 1415 H.
      8. Al-Lalikaa-iy, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah
      (I/113-114) no. 150, tahqiq Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghaamidi, cet.
      Daar Thay-yibah th. 1418 H.
      9. Al-Ashbahani, dalam kitab al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah pasal Fii
      Dzikril Ahwa’ al-Madzmumah al-Qismul Awwal I/107 no. 16.

      Semua Ahli Hadits di atas telah meriwayatkan dari jalan:
      Shafwan bin ‘Amr, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin
      ‘Abdillah al-Hauzani dari Abu ‘Amr ‘Abdullah bin Luhai dari Mu’awiyah.”

      Perawi Hadits
      a. Shafwan bin ‘Amr bin Haram as-Saksaki, ia telah di-katakan tsiqah oleh
      Imam al-’Ijliy, Abu Hatim, an-Nasa-i, Ibnu Sa’ad, Ibnul Mubarak dan
      lain-lain.
      b. Azhar bin ‘Abdillah al-Harazi, ia telah dikatakan tsiqah oleh al-’Ijliy
      dan Ibnu Hibban. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in
      dan haditsnya hasan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia shaduq (orang yang
      benar) dan ia dibicarakan tentang Nashb.” (Lihat Mizaanul I’tidal I/173,
      Taqribut Tahdzib I/75 no. 308, ats-Tsiqat hal. 59 karya Imam al-’Ijly dan
      kitab ats-Tsiqat IV/38 karya Ibnu Hibban.)
      c. Abu Amir al-Hauzani ialah Abu ‘Amir ‘Abdullah bin Luhai.
      . Imam Abu Zur’ah dan ad-Daruquthni berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh
      dipakai).”
      . Imam al-’Ijliy dan Ibnu Hibban berkata: “Dia orang yang tsiqah.”
      . Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata: “Ia adalah
      seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu V/145, Tahdzibut
      Tahdzib V/327, Taqribut Tahdzib I/444 dan kitab al-Kasyif II/109.)

      Derajat Hadits
      Derajat hadits di atas adalah hasan, karena ada seorang perawi yang bernama
      Azhar bin ‘Abdillah, akan tetapi hadits ini naik menjadi shahih dengan
      syawahidnya.

      Al-Hakim berkata: “Sanad-sanad hadits (yang banyak) ini, harus dijadikan
      hujjah untuk menshahihkan hadits ini. dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun
      menyetujuinya.” (Lihat al-Mustadrak I/128.)

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini shahih masyhur.”
      (Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/405 karya Imam Muhammad
      Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah al-Ma’arif.)

      HADITS KETIGA:
      Hadits ‘Auf bin Malik:

      Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
      bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu
      (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani
      terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu)
      golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad
      berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh
      puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua)
      golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu
      golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,
      ‘Al-Jama’ah.’

      Keterangan
      Hadits ini telah diriwayatkan oleh:
      1. Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya Kitabul Fitan bab Iftiraaqil Umam no.
      3992.
      2. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitab as-Sunnah I/32 no. 63.
      3. Al-Lalikaa-i, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunah wal Jama’ah
      I/113 no. 149.

      Semuanya telah meriwayatkan dari jalan ‘Amr, telah menceritakan kepada kami
      ‘Abbad bin Yusuf, telah menceritakan kepadaku Shafwan bin ‘Amr dari Rasyid
      bin Sa’ad dari ‘Auf bin Malik.

      Perawi Hadits:
      a. ‘Amr bin ‘Utsman bin Sa’ad bin Katsir bin Dinar al-Himshi.
      An-Nasa-i dan Ibnu Hibban berkata: “Ia merupakan seorang perawi yang
      tsiqah.”
      b. ‘Abbad bin Yusuf al-Kindi al-Himsi.
      Ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban. Ibnu ‘Adiy berkata: “Ia meriwayatkan
      dari Shafwan dan lainnya hadits-hadits yang ia menyendiri dalam
      meriwayatkannya.”
      Ibnu Hajar berkata: “Ia maqbul (yakni bisa diterima haditsnya bila ada
      mutabi’nya).”
      (Lihat Mizaanul I’tidal II/380, Tahdzibut Tahdzib V/96-97, Taqribut Tahdzib
      I/470 no. 3165.)
      c. Shafwan bin ‘Amr: “Tsiqah.” (Taqribut Tahdzib I/439 no. 2949.)
      d. Raasyid bin Sa’ad: “Tsiqah.” (Tahdzibut Tahdzib III/195, Taqribut Tahdzib
      I/289 no. 1859.)

      Derajat Hadits
      Derajat hadits ini hasan, karena ada ‘Abbad bin Yusuf, tetapi hadits ini
      menjadi shahih dengan beberapa syawahidnya.

      Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan hadits ini shahih dalam
      Shahih Ibnu Majah II/364 no. 3226 cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy li
      Duwalil Khalij cet. III thn. 1408 H, dan Silisilah al-Ahaadits ash-Shahihah
      no. 1492.

      HADITS KEEMPAT:
      Hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 golongan diriwayatkan juga oleh
      Anas bin Malik dengan mempunyai 8 (delapan) jalan (sanad) di antaranya dari
      jalan Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3993:

      Lafazh-nya adalah sebagai berikut:

      Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
      bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu)
      golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh
      dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni
      “al-Jama’ah.”

      Imam al-Bushiriy berkata, “Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah.[1]

      Hadits ini dishahih-kan oleh Imam al-Albany dalam shahih Ibnu Majah no.
      3227.
      (Lihat tujuh sanad lainnya yang terdapat dalam Silsilatul Ahaadits
      ash-Shahiihah I/360-361)

      HADITS KELIMA:
      Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Kitabul Iman, bab Maa Jaa-a Fiftiraaqi
      Haadzihil Ummah no. 2641 dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash dan
      Imam al-Laalika-i juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushuli I’tiqad
      Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/111-112 no. 147) dari Shahabat dan dari jalan
      yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu: “Siapakah golongan yang
      selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

      “Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para Shahabatku.”

      Lafazh-nya secara lengkap adalah sebagai berikut:

      Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
      sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi
      pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara
      mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka
      niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani
      Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali
      satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah,
      yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya,
      ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
      menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’”
      (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2641, dan ia berkata: “Ini merupakan
      hadits penjelas yang gharib, kami tidak mengetahuinya seperti ini, kecuali
      dari jalan ini.”)

      Perawi Hadits
      Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang lemah, yaitu ‘Abdur Rahman
      bin Ziyad bin An’um al-Ifriqiy. Ia dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in, Imam
      Ahmad, an-Nasa-i dan selain mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Ia
      lemah hafalannya.”
      (Tahdzibut Tahdzib VI/157-160, Taqribut Tahdzib I/569 no. 3876.)

      Derajat Hadits
      Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan, karena banyak
      syawahid-nya. Bukan beliau menguatkan perawi di atas, karena dalam bab Adzan
      beliau melemahkan perawi ini.
      (Lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah no. 1348 dan kitab Shahih Tirmidzi
      no. 2129.)

      KESIMPULAN
      Kedudukan hadits-hadits di atas setelah diadakan penelitian oleh para Ahli
      Hadits, maka mereka berkesimpulan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya
      ummat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua)
      golongan masuk Neraka dan satu golongan masuk Surga adalah hadits yang
      shahih, yang memang sah datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
      sallam. Dan tidak boleh seorang pun meragukan tentang keshahihan
      hadits-hadits tersebut, kecuali kalau ia dapat membuktikan berdasarkan ilmu
      hadits tentang kelemahannya.

      Hadits-hadits tentang terpecahnya ummat Islam menjadi tujuh puluh tiga
      golongan adalah hadits yang shahih sanad dan matannya. Dan yang menyatakan
      hadits ini shahih adalah pakar-pakar hadits yang memang sudah ahli di
      bidangnya. Kemudian menurut kenyataan yang ada bahwa ummat Islam ini
      berpecah belah, berfirqah-firqah (bergolongan-golongan), dan setiap golongan
      bang-ga dengan golongannya.

      Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ummat Islam berpecah belah seperti kaum
      musyrikin:

      “Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
      yaitu orang-orang yang memecah belah agama me-reka dan mereka menjadi
      beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada
      golongan mereka.” [Ar-Rum: 31-32]

      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar, jalan selamat
      dunia dan akhirat. Yaitu berpegang kepada Sunnah Rasulullah Shalallahu
      ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

      ALASAN MEREKA YANG MELEMAHKAN HADITS INI SERTA BANTAHANNYA
      Ada sebagian orang melemahkan hadits-hadits tersebut karena melihat jumlah
      yang berbeda-beda dalam penyebutan jumlah bilangan firqah (kelompok) yang
      binasa tersebut, yakni di satu hadits disebutkan sebanyak 70 (tujuh puluh)
      firqah, di hadits yang lainnya disebutkan sebanyak 71 (tujuh puluh satu)
      firqah, di hadits yang lainnya lagi disebutkan sebanyak 72 (tujuh puluh dua)
      firqah, dan hanya satu firqah yang masuk Surga.

      Oleh karena itu saya akan terangkan tahqiqnya, berapa jumlah firqah yang
      binasa itu?

      Pertama, di dalam hadits ‘Auf bin Malik dari jalan Nu’aim bin Hammad yang
      diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya (I/98) no. 172, dan Hakim
      (IV/ 430) disebut tujuh puluh (70) firqah lebih, dengan tidak menentukan
      jumlahnya yang pasti.

      Akan tetapi, sanad hadits ini dha’if (lemah), karena di dalam sanadnya ada
      seorang perawi yang bernama Nu’aim bin Hammad al-Khuzaa’i.

      Ibnu Hajar berkata, “Ia banyak salahnya.”

      An-Nasa-i berkata, “Ia orang yang lemah.”

      (Lihat Mizaanul I’tidal IV/267-270, Taqribut Tahdzib II/250 no. 7192 dan
      Silsilatul Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhuu’ah I/148, 402 oleh Syaikh
      Muhammad Nashiruddin al-Albani.)

      Kedua, di hadits Sa’ad bin Abi Waqqash dari jalan Musa bin ‘Ubaidah
      ar-Rabazi yang diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam kitab asy-Sya’riah,
      al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya sebagaimana yang telah disebutkan oleh
      al-Hafizh al-Haitsami dalam kitab Kasyful Atsaar ‘an Zawaa-idil Bazzar no.
      284. Dan Ibnu Baththah dalam kitab Ibanatil Kubra nomor 263, 267. Disebutkan
      dengan bilangan tujuh puluh satu (71) firqah, sebagaimana Bani Israil.

      Akan tetapi sanad hadits ini juga dha’if, karena di dalamnya ada seorang
      perawi yang bernama Musa bin ‘Ubaidah, ia adalah seorang perawi yang dha’if.
      (Lihat Taqribut Tahdzib II/226 no. 7015.)

      Ketiga, di hadits ‘Amr bin ‘Auf dari jalan Katsir bin ‘Abdillah, dan dari
      Anas dari jalan Walid bin Muslim yang diriwayatkan oleh Hakim (I/129) dan
      Imam Ahmad di dalam Musnad-nya, disebutkan bilangan tujuh puluh dua (72)
      firqah.

      Akan tetapi sanad hadits ini pun dha’ifun jiddan (sangat lemah), karena di
      dalam sanadnya ada dua orang perawi di atas.
      (Taqribut Tahdzib II/39 no. 5643, Mizaanul I’tidal IV/347-348 dan Taqribut
      Tahdzib II/289 no. 7483.)

      Keempat, dalam hadits Abu Hurairah, Mu’awiyah, ‘Auf bin Malik, ‘Abdullah bin
      ‘Amr bin ‘Ash, Ali bin Abi Thalib dan sebagian dari jalan Anas bin Malik
      yang diriwayatkan oleh para imam Ahli Hadits disebut sebanyak tujuh puluh
      tiga (73) firqah, yaitu yang tujuh puluh dua (72) firqah masuk Neraka dan
      satu (1) firqah masuk Surga.

      Dan derajat hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana telah dijelaskan di
      atas.

      TARJIH
      Setelah kita melewati pembahasan di atas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa
      yang lebih kuat adalah yang menyebutkan dengan 73 (tujuh puluh tiga)
      golongan.

      Kesimpulan tersebut disebabkan karena hadits-hadits yang menerangkan tentang
      terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan adalah lebih banyak
      sanadnya dan lebih kuat dibanding hadits-hadits yang menyebut 70 (tujuh
      puluh), 71 (tujuh puluh satu), atau 72 (tujuh puluh dua).

      MAKNA HADITS
      Sebagian orang menolak hadits-hadits yang shahih karena mereka lebih
      mendahulukan akal daripada wahyu, padahal yang benar adalah wahyu yang
      berupa nash al-Qur’an dan Sunnah yang sah lebih tinggi dan jauh lebih utama
      dibanding dengan akal manusia. Wahyu adalah ma’shum sedangkan akal manusia
      tidak ma’shum. Wahyu bersifat tetap dan terpelihara sedangkan akal manusia
      berubah-ubah. Dan manusia mempunyai sifat-sifat kekurangan, di antaranya:

      Manusia ini adalah lemah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

      “Artinya : Dan diciptakan dalam keadaan lemah.” [An-Nisaa': 28]

      Dan manusia itu juga jahil (bodoh), zhalim dan sedikit ilmunya, Allah
      Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

      “Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi
      dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
      khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
      Sesung-guhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” [Al-Ahzaab: 72]

      Serta seringkali berkeluh kesah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

      “Artinya ; Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi
      kikir.” [Al-Ma'aarij : 19]

      Sedangkan wahyu tidak ada kebathilan di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala
      telah berfirman:

      “Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun
      dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Mahabijaksana lagi
      Mahaterpuji.” [Al-Fushshilat : 42]

      Adapun masalah makna hadits yang masih musykil (sulit difahami), maka
      janganlah dengan alasan tersebut kita terburu-buru untuk menolak
      hadits-hadits yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena
      betapa banyaknya hadits-hadits sah yang belum dapat kita fahami makna dan
      maksudnya.

      Permasalahan yang harus diperhatikan adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih
      mengetahui daripada kita. Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih tidak akan
      mungkin bertentangan dengan akal manusia selama-lamanya.

      Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa ummatnya akan
      mengalami perpecahan dan perselisihan dan akan menjadi 73 (tujuh puluh tiga)
      firqah, semuanya ini telah terbukti.

      Dan yang terpenting bagi kita sekarang ini ialah berusaha mengetahui tentang
      kelompok-kelompok yang binasa dan golongan yang selamat serta ciri-ciri
      mereka berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sah dan penjelasan para
      Shahabat dan para ulama Salaf, agar kita termasuk ke dalam “Golongan yang
      selamat” dan menjauhkan diri dari kelompok-kelompok sesat yang kian hari
      kian berkembang.

      Golongan yang selamat hanya satu, dan jalan selamat menuju kepada Allah
      hanya satu, Allah Subahanahu wa ta’ala berfirman:

      “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
      ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
      jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu
      diperintahkan Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.” [Al-An'am: 153]

      Jalan yang selamat adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah
      Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sha-habatnya.

      Bila ummat Islam ingin selamat dunia dan akhirat, maka mereka wajib
      mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
      sallam dan para Shahabatnya.

      Mudah-mudahan Allah membimbing kita ke jalan selamat dan memberikan hidayah
      taufiq untuk mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
      para Shahabatnya.

      Wallahu a’lam bish shawab.

      [Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas,
      Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
      __________
      Foote Note
      1] Lihat kitab Mishbahuz Zujajah (IV/180). Secara lengkap perkataannya
      adalah sebagai berikut: Ini merupakan sanad (hadits) yang shahih, para
      perawinya tsiqah, dan telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad juga dalam
      Musnad-nya dari hadits Anas pula, begitu juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la
      al-Maushiliy.

  3. Terima kasih ustadz atas penjelasannya. Dan doa ustadz ” Mudah2an Allah membimbing kita ke jalan selamt dan memberikan hidayah ,taufik untuk mengikuti jejak Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya” .Amin ya Rabbal allamin.

  4. Assalamualaykum wa Rahmatullah wa Barakatuh,
    Ustadz saya ingin menanyakan penjelasan dari Jawaban Ustadz Ustadz Sigit Pranowo, Lc. diatas yg berisi “..Sesungguhnya golongan yang selamat adalah para penyeru Al Qur’an dan Sunnah, walaupun ia adalah jama’ah ini atau jama’ah itu selama tujuan dan aqidahnya adalah satu..”
    Dari pernyataan ini, tepatnya “..jama’ah ini atau jama’ah itu..”
    Kemudian saya coba melihat penjelasan diatas pula dari Hadits diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan masanid seperti Abu Daud, Nasai, Tirmidzi dan yang lainnya yg isinya ”..Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan seluruhnya di neraka kecuali satu.”

    Nah, dr sini saya ingin bertanya, Jika dikatakan terpecah 73 golongan dan satu yg selamat, lalu bagaimana dengan pernyataan diatas tentang jama’ah yg berbeda-beda (“..jama’ah ini atau jama’ah itu..”) asalkan aqidahnya satu dan tidak masalah? Kalau begitu, apapun jama’ahnya apa tetap selamat dengan aqidah yang satu sementara Hadits diatas Shahih yg menyatakan bahwa hanya ada satu yg selamat?
    Mohon pehjelasannya Ustadz, karena membingungkan saya

  5. menanggapi soal diatas. saya mau bertanya dari pernyataan Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz mengatakan bahwa “Golongan yang Selamat” adalah jama’ah yang istiqomah diatas jalan Nabi saw dan para sahabatnya. kata sahabt ini bermaksud kepada siapa? khulafaur rasyidin kah?? atau para kluarga nabi (fatimah, ali, hasan, husin) yang juga gigih mempertahankan islam sepeninggal nabi Muhammad saw. karena menurut akal saya, bukankah semestinya golongan keluarga nabi yang lebih paham & tau ttg semua ajaran nabi daripada para sahabat. saya jadi bingung,, disini saya blm menganut golongan apa pun. saya hanya ingin mengkaji mana yang memamng benar berada di bawah ridho Allah swt, bukan dari budaya, kebanyakan org atau mana yang paling banyak disepakati orang. terimakasih
    wassalam

    • hati-hati ah….. keluarga nabi belum tentu terjaga dari alfa….

      Anak & Istri Nabi Luth…
      Anak nabi Adam
      Kakak-kakak Nabi Yusuf
      Anak & Istri Nabi Nuh

  6. Bagaimana dengan Thaifah Manshurah dan Firqah Najiyah?

  7. tapi ustadz dimana kita mencari golongan al-jama’ah itu dan apa ciri-ciri ajarannya?

  8. Syamsul Arifin

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

    Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (yaitu generasi tabi’ut tabi’in). (Hadits mutawatir, Bukhari, no. 2652, 3651, 6429; Muslim, no. 2533; dan lainnya).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

    Sesungguhnya, Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 agama. Mereka semua di dalam neraka kecuali satu agama. Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Siapa saja yang mengikutiku dan sahabatku.” (H.R Tirmidzi, no. 2565; al-Hakim, Ibnu Wadhdhah; dan lainnya; dari Abdullah bin ’Amr. Dihasankan oleh Syaikh Salim al Hilali di dalam Nash-hul Ummah, hlm. 24).

    Berpegang teguh kepada Sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah (ajaran) para khulafaur rasyidin dan para sahabat inilah solusi di saat umat menghadapi perselisihan, tidak ada jalan lain!

    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

    Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (ia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, ia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah, dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat. (H.R Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; ad-Darimi; Ahmad; dan lainnya dari al-‘Irbadh bin Sariyah).

    yatu memaham Al-Qur’an dan as-sunnah menurut padandangan pandangan para shahabat nabi, tabi’in dan tabi’ut tabi’in..

    Dari artikel Kaedah Penting dalam Memahami Al Qur’an dan Hadits — Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah by null.

    wallahhu a’lam

  9. bagaimana pak tentang bid”ah

Tinggalkan Balasan