Rabu , 27 Agustus 2014
INFO
Home / ISLAM / Islam / Mengenal tentang Hisab dan Rukyat

Mengenal tentang Hisab dan Rukyat

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada Kalender Hijriyah.

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (Bulan Baru).

Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam, hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah.Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai magrib esok harinya

Perlu diketahui bahwa dalam Kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya Matahari waktu setempat, dan penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) Bulan (satelit). Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 hari atau 30 hari.

Hisab

Secara harfiyah bermakna ‘perhitungan’. Di dunia Islam istilah ‘hisab’ sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Pentingnya penentuan posisi matahari karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokannya. Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawwal saat orang mangakhiri puasa dan merayakan Idul Fithri, serta awal Dzul-Hijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (9 Dzul-Hijjah) dan ber-Idul Adha (10 Dzul-Hijjah). Dalam al-Qur’an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Tuhan memang sengaja menjadikan matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda astronomis (khususnya matahari dan bulan) maka umat Islam sudah sejak awal mula muncul peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadapa ilmu astronomi (disebut ilmu falak). Salah satu astronom Muslim ternama yang telah mengembangkan metode Hisab modern adalah Al Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Al Khawarizmi, Al Batani, dan Habash.

Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi dan akurat. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum melakukan rukyat (pengamatan). Salah satu output hisab adalah penentuan kapan waktu ijtimak yaitu saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam posisi sebidang, atau disebut pula konjungsi geosentris, yakni peristiwa dimana Matahari dan Bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi. Ijtimak (dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya) terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik.

Rukyat
Salah satu contoh hasil pengamatan kedudukan hilal

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan “cahaya langit” sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 8 derajat.

Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging. namun tentunya perlu dilihat lagi bagaimana penerapan kedua ikllmu tersebut

Kriteria Penentuan Awal Bulan Kalender Hijriyah

Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah dalam agama Islam, seperti bulan Ramadhan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha).

Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung. Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis/astronomis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Keduanya mengklaim memiliki dasar yang kuat.

Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan sebagai penentuan awal bulan pada Kalender Hijriyah, khususnya di Indonesia:

Rukyatul Hilal

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:

Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

Wujudul Hilal

Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 PERSIS sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi Hisab Wujudul Hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Al-Qur’an pada QS. Yunus: 5, QS. Al Isra’: 12, QS. Al An-am: 96, dan QS. Ar Rahman: 5, serta penafsiran astronomis atas QS. Yasin: 39-40.

Imkanur Rukyat MABIMS

Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:

Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:

Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak

Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Prinsip Imkanur-Rukyat digunakan antara lain oleh Persis

Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.

Rukyat Global

Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.

Perbedaan Kriteria

Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.

Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 dan 1994. Namun demikian, Pemerintah Indonesia mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.

sumber :wikipidea

foto : bumnwatch.com

baca tulisam terkait :

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

14 comments

  1. Nabi mengajarkan untuk melihat hilal, bukan hisab.

  2. info yang sangat berharga. trims.

  3. Metode Hisab katanya memnggunakan ilmu pasti tp kenapa penanggalan pemerintah berbeda dengan penangagalan Muhammadiyah kok bisa ilmu pasti hasilnya berbeda??? lalu siapa yang salah? ??????

  4. Ass. Wr. Wbr. gada yang salah, karena semua kepastian hanya milik Allah swt. Allah swt merahmati perbedaan kecuali akidah (AlQuran dan Sunnah Rasul Muhammad SAW) yang ga bisa ditawar. Didalam Islam bukankah sudah diajarkan Imam yang satu dan tidak ada dua imam. jd alangkah lebh bijaksana lg umat islam konsisten terhadap ajaran agamanya. Toh juga pemimpin kita adalah orang Muslim. Padahal Ilmu Allah dlm Quran adalah maha dahsyat, ada ilmu astronomi smp kita bisa mengenal bulan dan juga ilmu perhitungan tahun, semua lengkap bget yg tidak ada pada kitab kitab suci agama lain. Semoga umat Islam lebih menghargai dan memahami ajaran agamanya ketimbang ego masing masing. Semoga bermanfaat. Wass. Wr. Wbr.

  5. Nambah ilmu

    sebelumnya saya heran, kenapa kalau waktu shalat bisa dipastikan jam dan menitnya tapi pas menentukan hari raya kok jadi “ribut”…. dengan artikel ini terjawab sudah……

    Mau nanya saja :

    Kalau ilmu HISAB/FALAK, apakah sudah dikenal di jaman Nabi?? atau baru diketemukan kemudian??

  6. klu kalian saling bersilang pendapat dalam masalah agama, maka kembalilah kepada sunah dan qur’an, dalam hal penentuan hari raya nabi Muhammad SAW sudah jelas hadist shoheh mengajarkan dengan melihat bulan ( hilal ) kenapa kita mesti cari cara lain yang mengakibatkan umat berpecah. jangan mencari atau menambah masalah yang membuat umat bingung

    • hisab dan rukyat adalah dua alat bantu kaum muslimin untuk menentukan miladiyah islam, keduanya saling berhubungan, kita bisa melihat rukyat setelah ada prediksi dari hisab, hisab dihitung berdasarkan data dari rukyat, kenapa mesti dipertentangan, contoh sederhana dengan adanya hisab dan rukyat kita bisa memperhitungkan jadwal imsakiyah puasa, kapan terjadinya hilal, gerhana matahari dan fenomena astronomi lainnya
      Wallohu ‘alam.

  7. hisab dan rukyat adalah dua alat bantu kaum muslimin untuk menentukan miladiyah islam, keduanya saling berhubungan, kita bisa melihat rukyat setelah ada prediksi dari hisab, hisab dihitung berdasarkan data dari rukyat, kenapa mesti dipertentangan, contoh sederhana dengan adanya hisab dan rukyat kita bisa memperhitungkan jadwal imsakiyah puasa, kapan terjadinya hilal, gerhana matahari dan fenomena astronomi lainnya
    Wallohu ‘alam.

  8. Dari penjelasan tersebut, terlihat keutamaan rukyat maka hisab dapat dilakukan berdasarkan data rukyat rata-rata atau dengan kesepakatan penetapan yang memungkinkan terlihat. jika ini dilakukan maka kemungkinan perbedaan akan tipis terjadi, karena cara hisab dilakukan sesuai dengan ukuran data rukyat. Mudah-mudahan kesepakatan ini bisa membuat ukuwah umat Islam lebih baik dan tidak menimbulkan fitnah diantara umat, pemerintah, ulama dan Islam dari pandangan di dalam dan di luar Islam.

  9. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam, hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah.Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai magrib esok harinya .rukyat khusus untuk puasa ramadan,lihat rotasi bulan blogspot.com bakrisyam

  10. Saya sangat awam tentang Hisab dan rukyat mas, tapi menurut saya rukyat itu dilakukan sebelum matahari terbenam yakni pada saat matahari berada diatas ufuk dan pada saat ini bulan dan matahari berada dalam satu garis datar / horizontal itulah sebabnya bulan bisa nampak, kalau setelah matahari terbenam gelap dong lalu apa yang menyinari bulan tersebut?

    bulan sebenarnya tidak bercahaya akan tetapi bulan bisa terlihat bercahaya karena adanya sinar matahari yang terhalang oleh bumi dan bumi memantul kan sinar matahari tersebut ke bulan itulah sebabnya bulan bisa tampak dan mengeluarkan sinarnya,dan menyebabkan siang dan malam.
    ##################################################################################
    Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah.Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai magrib esok harinya .
    ##################################################################################
    secara garis besarnya ia mas , tapi hilal yang nampak itupun harus memiliki kriteria dan setahu saya minimal 4 derajat mas jadi kalaupun Hilal itu udah nampak pada hari ke 29 bulan berjalan dan akan memasuki hari ke 30 bulan berjalan tapi tidak memenuhi standar kriteria kesepakatan MUI maka hari itupun tidak sah dikatakan memasuki awal kalender baru bulan berikutnya pada kalender tahun HIJRIYAH.
    untuk itu umur bulan tersebut wajib digenapkan menjadi 30 hari dengan kata lain tanggal 1 bulan berikutnya mulai terhitung MAGHRIB esok harinya.

    akan tetapi apabila pada hari ke 29 bulan berjalan atau akan memasuki hari ke 30 bulan berjalan tapi Hilal kelihatan dan memenuhi standard dan kriteria maka maghrib saat itu juga udah sah dikatakan memasuki tanggal 1 bulan berikutnya, jadi umur bulan tersebut adalah 29 hari.

    Kalender tahun hijriyah adalah Penanggalan yang lebih sempurna bila dibandingkan dengan Perhitungan penanggalan Kalender tahun Masehi, karena kemungkinan umur bulan pada KALENDER TAHUN HIJRIYAH ada 2 yakni 29 hari dan 30 hari.

    Tetapi kalau tahun Masehi kemungkinan umur bulan ada 4 yakni 28 hari, 29 hari, 30 hari, dan 31 hari.

    Kalender Tahun HIjriyah memiliki kemungkinan umur bulan 29 hari dan 30 hari disebabkan oleh dasar perhitungan tahun kalender tsb didasarkan atas BULAN MENGITARI BUMI dan garis edarnya lebih sempit bila dibandingkan dengan Tahun Masehi, sehingga Kalender Tahun HIJRIYAH DIKENAL DENGAN TAHUN QAMARIYYAH.

    Sedangakan Tahun Masehi yang didasarkan pada BUMI MENGITARI MATAHARI sehingga Tahun Masehi memiliki kemungkinan Umur bulan ada 4.yang disebabkan oleh lebih jauhnya jarak tempuh Bumi mengitari matahari.bila dibandingkan dengan jarak tempuh bulan mengitari bumi, Tahun Masehi ini dikenal dengan TAHUN SYAMSIYYAH.

    Pada Kalender Tahun Masehi/Syamsiyyah husus pada bulan Februari memiliki 2 kemungkinan yakni
    28 hari dan 29 hari ini disebabkan karena sebenarnya umur tahun pada Kalender tahun MASEHI bukanlah 365 hari akan tetapi 365,25 hari (365 hari 6 jam) akan tetapi tidak mungkin untuk menetapkan satu tahun itu 365 hari 6 jam.
    Tahun baru tiap tahunnya tetap berubah dong dari tahun ketahun.oleh karena dasar Science maka pembulatan tersebut harus mundur atau kebawah jadi ditetapkanlah 1 tahun =365 hari.
    Tapi tahun ini akan genap/pas setiap 4 tahun sekali yakni pada tahun KABISAT.
    tahun kabisat ialah Tahun (angka tahun tersebut) bila dibagi 4 tidak menghasilkan pecahan atau desimal, yang ditandai dengan UMur bulan pada bulan FEBRUARI 29 hari.

    Jadi siapapun yang mempunyai anak pada tahun kabisat tepatnya pada tanggal 29 Februari ulang tahun nya yang repot,hehehehe sebab hanya bisa ngerayain HARI ULANG TAHUNNYA 4 TAHUN SEKALI.

    terimakasih assalamu alaikum wr.wb

  11. faham on Agustus 30, 2011 at 12:34 pm said:
    Nambah ilmu

    sebelumnya saya heran, kenapa kalau waktu shalat bisa dipastikan jam dan menitnya tapi pas menentukan hari raya kok jadi “ribut”…. dengan artikel ini terjawab sudah……

    Mau nanya saja :

    Kalau ilmu HISAB/FALAK, apakah sudah dikenal di jaman Nabi?? atau baru diketemukan kemudian??

    Tanggapan saya;
    Setau saya mas ILMU HISAB/FALAK ini belum ada dizaman Rasulullah SAW akan tetapi ilmu FALAK INI dikenal pada zaman khalifah ALI BIN ABI THALIB KARRAMALAHU WAJHAH, DAN SEKALIGUS SEBAGAI penemu ilmu Falak ini.

    Sedangkan nama Kitab yang biasa dipakai didalam ilmu FALAK / HISAB ini adalah RUBU’IL MUJAYYAD

    Monggo dilengkapin dan dibenerin bila salah

    ass wr wb

  12. mana mungkin hilal kelihatan 2 derajat dan mana mungkin perdebatan bisa selesai sementara landasan pijak ilmu berbeda. titik nol rotasi bulan terhadap bumi menurut ilmu agama bukan pada cunjungsi. untuk lebih jelasnya baca rotasibulanblogspot.com

Tinggalkan Balasan