Senin , 21 April 2014
INFO
Home / ISLAM / Renungan / Keanehan-keanehan pola pikir manusia jaman sekarang

Keanehan-keanehan pola pikir manusia jaman sekarang

Sesungguhnya keajaiban manusia di akhir zaman ini sangat banyak dan nyata sekali. Terkadang kita kurang jeli memperhatikannya sehingga terlihat dunia ini berjalan baik-baik saja. Namun, bila kita cermati dengan baik, kita akan menemukan segudang keajaiban dan keanehan dalam kehidupan manusia akhir zaman dan hampir dalam semua lini kehidupan. Keajaiban yang kita maksudkan di sini bukan terkait dengan persitiwa alam seperti gempa bumi, tsunami dan sebagainya, atau kejadian yang aneh-aneh lainnya, melainkan pola fikir manusia yang paradoks yang berkembang biak di akhir zaman ini.

Berikut ini adalah sebagian kecil dari berfikir paradoks yang berkembang akhir-akhir ini dalam masyarakat luas. Lebih ajaib lagi, berfikir paradoks tersebut malah dimiliki pula oleh sebagian umat Islam dan para tokoh mereka.

Di antaranya :

Bila seorang pengusaha atau pejabat tinggi melakukan korupsi milyaran dan bahkan triliunan rupiah, maka aparat penegak hukum dengan mudah mengatakan tidak ada bukti untuk menahan dan mengadilinya.

Namun, bila yang mencuri itu seorang nenek atau masyarakat bawah (lemah), dengan mudah dapat ditangkap, disidangkan dan diputuskan hukuman penjara, kendati mereka mengambil hanya satu buah semangka atau tiga buah kakau, mungkin saja karena lapar.

Bila ada orang atau kelompok dengan nyata-nyata merusak dan melecehkan ajaran Islam yang sangat fundamental, seperti Tuhan, Kitab Suci dan Rasulnya, di negeri-negeri Islam, maka orang dengan gampang mengatakan yang demikian itu adalah kebebasan berpendapat, berekspresi dan menafsirkan agama.

Namun, bila ada khatib, ustazd atau masyarakat Muslim mengajak jamaah dan umat Islam untuk konsiten dengan ajaran agamanya, maka orang dengan mudah menuduhnya sebabai khatib, penceramah atau ustazd yang keras dan tidak bisa berdakwah dengan hikmah, bahkan perlu dicurigai sebagai calon teroris.

Apa saja yang dituliskan dalam koran, dengan mudah orang mempercayainya, kendati itu hanya tulisan manusia dan belum teruji kebenarannya. Membaca dan mempelajarinya dianggap lambang kemajuan.

Akan tetapi, apa yang tercantum dalam Al-Qur’an belum tentu dipercayai dan diyakini kebenarannya, kendati mengaku sebagai Muslim. Padahal Al-Qur’an itu Kalamullah (Ucapan Allah) yang mustahil berbohong. Kebenarannya sudah teruji sepnajang masa dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. Akhir-akhir ini muncul anggapan mengajarkan Al-Qur’an bisa mengajarkan paham terorisme.

Tidak sedikit manusia, termasuk yang mengaku Muslim yakin dan bangga dengan sistem hidup ciptaan manusia (jahiliyah), kendati sistem yang mereka yakini dan banggakan itu menyebabkan hidup mereka kacau dan mereka selalu menghadapai berbagai kezaliman dan ketidak adilan dari para penguasa negeri mereka. Mereka masih saja mengklaim : inilah jalan hidup yang sesuai dengan akhir zaman.

Namun, bila ada yang mengajak dan menyeru untuk kembali kepada hukum Islam, maka orang akan menuduh ajakan dan seruan itu akan membawa kepada keterbelakangan, kekerasan dan terorisme, padahal mereka tahu bahwa Islam itu diciptakan oleh Tuhan Pencipta mereka (Allah) untuk keselamatan dunia dan akhirat dan Allah itu mustahil keliru dan menzalimi hamba-Nya.

Ketika seorang Yahudi atau agama lain memanjangkan jenggotnya, orang akan mengatakan dia sedang menjalankan ajaran agamanya.

Namun, saat seorang Muslim memelihara jenggotnya, dengan mudah orang menuduhnya fundamentalis atau teroris yang selalu harus dicurigai, khususnya saat masuk ke tempat-tempat umum seperti hotel dan sebagainya.

Ketika seorang Biarawati memakai pakaian yang menutup kepala dan tubuhnya dengan rapih, orang akan mengatakan bahwa sang Biarawati telah menghadiahkan dirinya untuk Tuhan-nya.

Namun, bila wanita Muslimah menutup auratnya dengan jilbab atau hijab, maka orang akan menuduh mereka terbelakang dan tidak sesuai dengan zaman, padahal mereka yang menuduh itu, para penganut paham demokrasi, yang katanya setiap orang bebas menjalankan keyakinan masing-masing.

Bila wanita Barat tinggal di rumah dan tidak bekerja di luar karena menjaga, merawat rumah dan mendidik anaknya, maka orang akan memujinya karena ia rela berkorban dan tidak bekerja di luar rumah demi kepentingan rumah tangga dan keluarganya.

Namun, bila wanita Muslimah tingal di rumah menjaga harta suami, merawat dan mendidik anaknya, maka orang akan menuduhnya terjajah dan harus dimerdekakan dari dominasi kaum pria atau apa yang sering mereka katakan dengan kesetaraan gender.

Setiap mahasiswi Barat bebas ke kampus dengan berbagai atribut hiasan dan pakaian yang disukainya, dengan alasan itu adalah hak asasi mereka dan kemerdekaan mengekpresikan diri.

Namun, bila wanita Muslimah ke kampus atau ke tempat kerja dengan memakai pakaian Islaminya, maka orang akan menuduhnya eksklusif dan berfikiran sempit tidak sesuai dengan peraturan dan paradigma kampus atau tempat kerja mereka.

Bila anak-anak mereka sibuk dengan berbagai macam mainan yang mereka ciptakan, mereka akan mengatakan ini adalah pembinaan bakat, kecerdasan dan kreativitas sang anak.

Namun, bila anak Muslim dibiasakan mengikuti pendidikan praktis agamanya, maka orang akan mengatakan bahwa pola pendidikan seperti itu tidak punya harapan dan masa depan.

Ketika Yahudi atau Nasrani membunuh seseorang, atau melakukan agresi ke negeri Islam khususnya di Paestina, Afghanistan, Irak dan sebagainya, tidak ada yang mengaitkannya dengan agama mereka. Bahkan mereka mengakatakan itu adalah hak mereka dan demi menyelamatkan masyarakat Muslim di sana.

Akan tetapi, bila kaum Muslim melawan agresi Yahudi atas Palestina, atau Amerika Kristen di Irak dan Afghanistan, mereka pasti mengaitkannya dengan Islam dan menuduh kaum Muslim tersebut sebagai pemberontak dan teroris .

Bila seseorang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain, maka semua orang akan memujinya dan berhak mendapatkan penghormatan.

Namun, bila orang Palestina melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan anaknya, saudaranya atau orang tuanya dari penculikan dan pembantaian tentara Israel, atau menyelamatkan rumahnya dari kehancuran serangan roket-roket Israel, atau memperjuangkan masjid dan kitab sucinya dari penodaan pasukan Yahudi, orang akan menuduhnya TERORIS. Kenapa? Karena dia adalah seorang Muslim.

Bila anak-anak Yahudi diajarkan perang dan senjata otomatis untuk membunuh kaum Muslimin Palestina, maka orang akan menegatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah upaya membela diri kendati mereka adalah agresor.

Namun, bila anak Palestina belajar melemparkan batu menghadapi prajurit Yahudi yang dilengakapi dengan tank dan senjata canggih lainhya saat menghancurkan rumah, masjid dan kampung mereka, maka orang akan menuduh mereka sebagai pelaku kejahatan yang pantas ditangkap, dipatahkan tangannya dan dipenjarakan belasan tahun.

Nah, inilah sekelumit keajaiaban manusia di akhir zaman ini. Bisakah kita mendapatkan pelajaran yang baik sehingga dapat menentukan sikap yang benar, atau kita akan jatuh menjadi korban keajaiban akhir zaman? Allahul musta’an….(fj)

sumber :eramuslim.com

About MUSLIM

15 comments

  1. memang bener sekarang di indonesia yang mayoritas islam cara berfikirnya juga aneh

    lihat kasus poligami AA Gym Vs zina ME dan anggta DPR kok kesannya rakyat indonesia lebih melegalkan zina daripada poligami, padahal AA Gym menikah juga pakai duitnya sendiri

  2. kalian berpikir, seperti kalian yang paling benar… orang2 seperti kalian hanyalah orang yang selalu membenarkan apa yang kelompok/agama/ras kalian perbuat tanpa menggunakan logika!!!

  3. Begini saja.
    Coba pikirkan, apa hasil dari perdebatan ini semua?
    Pembenaran atas agama masing-masing???

    Hati-hati terhadap ucapan karena itu akan dipertanggungjawabkan masing-masing di hadapan Pencipta kita.

    Coba berpikir seperti ini :

    - Apakah Pencipta kita berbeda-beda (lebih dari 1)?

    - Bagaimana perasaan anda jika anda sebagai pencipta dan melihat setiap hari ciptaan anda sibuk berdebat mengenai pembenaran agamanya?

    - Bagaimana perasaan anda jika anda sebagai pencipta yang ingin menyampaikan kata-kata kebenaran demi ciptaannya, tetapi ciptaan anda sibuk memperdebatkan siapa Pencipta dan mencari-cari kata-kata yang salah dan benar berdasarkan penafsiran sendiri?

    - Anda tahu bahwa Pencipta kita tidak berbicara kepada kita seperti kita berbicara antarmanusia. Jadi bagaimana anda tahu secara pasti siapa sebenarnya Ia, apa yang sebenarnya Ia pikirkan, dan apa yang sebenarnya Ia ingin katakan pada kita ciptaannya?

    - Mungkin masih ada yang menjawab :
    + lewat kitab suci
    + lewat ajaran para nabi
    Dan saya bertanya kembali,
    + siapakah penulis kitab suci? apakah anda melihat Pencipta kita menulisnya?
    + siapakah nabi? apakah mereka bukan manusia (yang bisa melakukan kesalahan)?

    - Seberapa hebat anda bisa menerka bahwa keyakinan anda 100% benar? Bagaimana jika ternyata anda 100% salah? Bisakah anda pertanggungjawabkan di hadapan Pencipta kita kelak ketika anda bertemu dengan-Nya?

    Mungkin anda yang membaca menganggap saya atheis.
    Tidak.

    Saya beragama, tapi saya tidak memperdebatkan masalah agama dan kepercayaan.
    Keyakinan saya adalah saya lakukan yang terbaik untuk Pencipta saya karena Ia pun ingin yang terbaik untuk saya dan ciptaan lainnya.
    Saya cinta kedamaian, saya tidak menyukai peperangan dengan alasan apapun, saya tidak menyukai pemaksaan, kekerasan, penghinaan, kebohongan, tindikan kriminal apapun.
    Banyak hal yang bisa kita lakukan demi kesejahteraan manusia dan bukan sekedar ucapan.
    Saya meyakini Pencipta kita juga menginginkan demikian.

    Saya meyakini bahwa yang diinginkan Pencipta kita adalah ciptaannya mengikut-Nya.
    Hanya saja manusia terkadang tidak tahu memilih jalan yang benar untuk menuju kepada pencipta-Nya.
    Mungkin saja melalui salah satu agama yang ada di dunia
    Mungkin juga tidak.
    Mungkin saja melalui seluruh perintah yang ada di kitab suci
    Mungkin juga beberapa.
    Mungkin saja Pencipta kita memang “Tuhan” dalam agama anda
    Mungkin saja tidak.

    Yang sesungguhnya tidak seorang pun yang tahu kepastiannya, yang tahu hanya Pencipta kita.
    Jadi kenapa kita masih berdebat?

    Lakukan yang anda yakini dan pertanggungjawabkan kelak di hadapan Pecipta kita, itulah keyakinan.

Tinggalkan Balasan