Kamis , 27 November 2014
INFO
Home / BERITA / Mualaf / 12.000 Orang belanda menjadi mualaf

12.000 Orang belanda menjadi mualaf

Lebih dari 500 orang menghadiri konferensi tahunan “hari kembali Belanda” ke-3 yang diadakan di masjid besar Omar Al Farouk di kota Utreceht pada hari Ahad malam lalu (31/1).  Acara ini diselenggarakan oleh yayasan OntdekIslam dan Platform Nasional Belanda untuk Muslim baru (LPNM).

Waleed Duisters, ketua LPNM kepada Kuwait News Agency (Kuna) menyatakan bahwa angka yang dikeluarkan pada tahun 2007 menunjukkan ada 12.000 orang Belanda yang memeluk agama Islam, dan menambahkan bahwa mungkin masih banyak lagi.

Dia menjelaskan bahwa sangat sulit untuk memberikan angka yang tepat dari orang Belanda yang memeluk agama Islam karena di Belanda tidak ada pendaftaran orang yang berdasarkan agama. “Kami mempunyai banyak anggota yang merupakan warga Belanda yang memeluk agama Islam, sehingga tujuan konferensi ini adalah mencoba membantu mereka untuk menemukan jalan terbaik di dalam masyarakat Islam khususnya dan masyarakat Belanda secara umum,” kata Dusiters yang dirinya telah masuk Islam sepuluh tahun yang lalu.

Dia mencatat bahwa kadang-kadang menjadi mualaf baru akan menghadapi banyak masalah dengan keluarga mereka dan masyarakat Islam Belanda tidak tahu bagaimana menangani para mualaf baru tersebut.

“Dalam masyarakat Belanda ada orang-orang yang skeptis terhadap Islam dan kadang-kadang kita punya kasus para mualaf baru banyak yang menghadapi masalah besar dengan keluarga mereka. Kami ingin membantu mereka untuk menjalani hidup tanpa masalah,” kata Duisters.

Pertemuan besar warga Belanda yang masuk Islam dengan umat Islam dari Turki, dunia Arab dan Suriname, di isi dengan mendengarkan ceramah oleh pembicara internasional yang terkenal seperti Hussein Ye dari Malaysia dan Pierre Vogel dari Jerman – dikombinasikan dengan pembicara anak-anak muda Belanda yaitu Ali al Khattab dan Elsa van de Loo yang juga merupakan perwakilan pemuda Belanda untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tujuh warga Belanda termasuk tiga wanita masuk Islam selama konferensi berlangsung pada hari Ahad lalu (31/1).

Duisters berkata: “Islam memperkaya hidup saya. Sekarang saya punya kehidupan yang stabil. Saya tahu apa yang harus saya ajarkan kepada anak-anak saya untuk menjadi Muslim yang baik tetapi juga menjadi warga negara Belanda yang baik.”

Dia mencatat bahwa jumlah umat Islam di Eropa tumbuh dengan pesat. Banyak orang yang masuk Islam karena mereka banyak mendengar tentang Islam sehingga mereka ingin tahu tentang Islam dan mulai membaca Quran dan Hadits.

Tapi ia juga menyalahkan umat Islam, karena tidak melakukan penjelasan yang cukup untuk menjelaskan Islam.

“Kaum Muslimin di Belanda punya banyak kesempatan untuk memberikan gambaran yang baik tentang Islam tetapi sebagian besar waktu mereka gagal,” keluhnya.

“Ada juga masalah lain yaitu umat Muslim yang tidak bisa terintegrasi ke dalam masyarakat Belanda,” katanya.

“Kita harus hidup sebagai Muslim di Belanda tetapi juga bagian dari masyarakat Belanda. Kita jangan menjadi kelompok yang aneh. Kami menyarankan umat Islam untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat Belanda,” katanya.

Marck Reuvers, yang bertanggung jawab terhadap media pada konferensi tersebut dan dirinya sendiri seorang jurnalis, mengatakan kepada Kuna bahwa “ini adalah hari yang sangat istimewa. Hal inilah yang disebut mengubah hari di Belanda.”

“Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk menunjukkan bahwa warga Belanda yang memeluk agama Islam juga merupakan bagian dari umat yang lebih besar,” kata Reuvers yang masuk Islam pada tahun 2007. ”

Saya sedang mencari sesuatu yang membuat hidup saya lebih bermakna. Setelah menjadi seorang Muslim saya memiliki tujuan dalam hidup. Saya merasa sangat bahagia dan nyaman, “katanya.

Abdel Karim masuk Islam pada tahun 2008 dan saat ini dirinya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pekerja sosial.

“Saya butuh Tuhan dalam hidupku. Saya suka cerita tentang nabi Ibrahim, Musa, Yesus, tapi saya tidak menyukai foto di dalam Gereja dengan Tuhan berkulit putih,” katanya.

“Tapi saya sangat mengasihi Yesus dan saya juga sangat mencintai Musa dan saya menyayangi mereka dalam Islam. Aturan dalam Islam jauh lebih murni. Tidak ada rasisme dalam Islam,” kata anak muda muslim Belanda berjenggot ini kepada kuna.

Dia mengatakan orang harus melakukan memberikan banyak penjelasan kepada masyarakat Belanda setelah mereka masuk Islam. “Anda berhenti minum minuman keras, Anda berhenti merokok, Anda berhenti berbicara berghibah. Jadi orang-orang di sekitar anda akan bertanya mengapa Anda tidak minum, kenapa Anda memiliki jenggot”, katanya.

Van der Putten Malleen juga seorang jurnalis yang bekerja untuk sebuah siaran Islam Belanda memiliki cerita yang unik dari masuk Islam dirinya. Dia masuk Islam enam tahun lalu. Van der Putten mengatakan “suatu hari ia berkata beberapa hal buruk untuk seorang Muslim. Kemudian dia berkata pada dirinya sendiri mengapa saya berkata hal-hal buruk tentang Islam sedangkan saya tidak tahu apa-apa tentang Islam.”

Dia akhirnya pergi ke sebuah toko dan membeli beberapa buku Islam, membaca dan membaca sehingga kemudian secara bertahap ia masuk Islam.

Dia mengatakan umat Islam seharusnya berbicara dengan banyak orang, berbicara dengan tetangga untuk menjelaskan Islam yang benar dan harus ada lebih banyak interaksi dengan orang lain.

Elsa van de Loo, wakil pemuda dari Belanda di Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengatakan kepada Kuna bahwa dia masuk Islam satu setengah tahun yang lalu.

Ayahnya dari Belanda dan ibunya dari Republik Dominika.

“Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik namun tidak mempraktikkan agama kristen,” katanya.

Namun kemudian saya mulai membaca Quran dalam bahasa Belanda.

“Pada awalnya sulit bagi saya untuk memahami dan saya tidak tahu banyak umat Islam yang akan menjelaskan kepada saya. Kemudian pada suatu hari saya bertemu dengan seorang gadis Muslim asal Maroko yang mulai menjelaskan Al-Quran dan Islam,” katanya.

“Banyak hal yang sedang saya cari jawabannya, saya temukan hal itu dalam Islam.

Saya merasa sangat baik .. Islam memberi saya kedamaian. Di masa lalu saya selalu gelisah saya tidak tahu Apa yang harus saya lakukan dalam hidup. kemana saya akan pergi. Sekarang saya punya jawabannya, “katanya kepada kuna.

Dia mengatakan dia tidak pernah menghadapi masalah dengan pemerintah Belanda karena memakai Hijab tetapi beberapa kritikus mengatakan bagaimana dirinya bisa mewakili Belanda di PBB dengan mengenakan Hijab.

“Saya memberitahu mereka bahwa pekerjaan saya terpisah dari agama saya. Ketika saya dalam pekerjaan saya, saya mewakili semua orang di Belanda ,” kata Elsa van de Loo.(fq/kuna/eramuslim)

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

122 comments

Tinggalkan Balasan