Sabtu , 29 November 2014
INFO
Home / ISLAM / Kajian / Ucapan saat merayakan Idul Fitri yang dicontohkan para Sahabat Nabi.

Ucapan saat merayakan Idul Fitri yang dicontohkan para Sahabat Nabi.

Alhamdulillah, Terdapat riwayat yang datang dari para sahabat radhiyallahu’anhum bahwasanya mereka saling mengucapkan selamat di hari raya dengan ucapan, تقبل الله منا ومنكم “Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian).

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para sahabat Nabi shalallahu’alaihi wasallam mengucapkan ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’ ketika saling bertemu di hari Idul Fitri.” Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata tentang riwayat ini, “Sanadnya hasan.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak mengapa hukumnya bila seseorang mengucapkan kepada saudaranya saat Idul Fitri, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’.” Demikian yang dinukil Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya,

“Apa hukum mengucapkan selamat di hari raya sebagaimana banyak diucapkan oleh orang-orang? Seperti ‘indaka mubarak (semoga engkau memperoleh barakah dihari Idul Fitri) dan ucapan yang senada. Apakah hal ini memiliki dasar hukum syariat ataukah tidak? Jika memiliki dasar hukum syariat bagaimana seharusnya ucapan yang benar?”

Beliau rahimahullah menjawab,

“ Adapun hukum tahniah (ucapan selamat) dihari raya yang diucapkan satu dengan yang lainnya ketika selesai shalat ied seperti

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ , وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك

“Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik” (Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu), dan yang semisalnya, telah diriwayatkan dari sebagian sahabat bahwasanya mereka melakukannya dan para imam memberi keringanan perbuatan ini seperti Imam Ahmad dan yang lainnya. Akan tetapi Imam Ahmda berkata, “Aku tidak akan memulai mengucapkan selamat kepada siapa pun. Namun jika ada orang yang memberi selamat kepadaku akan kujawab. Karena menjawab tahiyyah (penghormatan) adalah wajib. Adapun memulai mengucapkan selamat kepada oranglain maka bukanlah bagian dari sunnah yang dianjurkan dan bukan pula sesuatu yang dilarang dalam syariat. Barangsiapa yang melakukannya maka ia memiliki qudwah (teladan) dan orang yang meninggalkan pun juga memiliki qudwah (teladan). Wallahu a’lam. (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/228)

Syaikh Ibnu Ustaimin ditanya,

“Apa hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya? Apakah ada bentuk ucapan tertentu?”

Beliau rahimahullah menjawab,

“Hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya adalah boleh dan tidak ada bentuk ucapan tertentu yang dikhususkan. Karena (hukum asal-pen) setiap adat kebiasaan yang dilakukan orang itu boleh selama bukan perbuatan dosa.”

Dalam kesempatan lain beliau rahimahullah juga ditanya,

“Apa hukum berjabat tangan, berpelukan dan saling mengucapkan selamat hari raya ketika selesai shalat ied?”

Beliau rahimahullah menjawab,

“Hukum semua perbuatan ini tidaklah mengapa. Karena orang yang melakukanya tidak bermaksud untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Melainkan hanya sekedar melakukan adat dan tradisi, saling memuliakan dan menghormati. Karena selama adat tersebut tidak bertentangan dengan syariat maka hukumnya boleh.” (Majmu’Fatawa Ibni Utsaimin, 16/ 208-210)

Sumber: Muslimah.or.id

sumber foto :azizcs1.blogspot.com

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

7 comments

  1. Setuju… kalau Selamat Lebaran gimana?

  2. @nebu: boleh dong… kan udah jadi tradisi dan gak menyimpang syariat…

  3. Ucapan selamat lebaran yang berkembang ditengah masyarakat Indonesia adalah “Minal’aaidin walfaaidzin” ini merupakan budaya. Sebagian masyarakat kita yang tidak ikut-ikutan juga banyak yang menggunakan ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum” dan dijawab “Wataqobbal yaa Kariim”. Semuanya baik, tujuannya sama untuk: Silaturrahmi & ukuhwah islamiyah. Mari kita sosialisasikan ucapan yang tepat tsb., baik secara langsung maupun SMS.

  4. Alhamdulillah ilmu semakin bertambah…maaf lahir batin saudara/i ku semuanya…

  5. Kalo ada non muslim ngucapin selamat ke kita bagaimana yach?

  6. Hukum memulai salam

    Nabi bersabda: ” Janganlah kamu memulai salam kepada orang yahudi dan jangan kepada nashara”.[Hadits Riwayat Muslim dalam As-Salam 2167]

    Tata cara menjawab

    Dari Anas r.a berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Apabila ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kamu sekalian maka jawablah dengan “Wa’alaikum” [HR. Bukhori dan Muslim]

    Adapun apabila berkumpul orang muslim dgn orang kafir dalam satu majelis, dibenarkan kita memberi salam, sebagaimana diriwayatkan:
    Dari usamah bin zaid, bahwa Nabi saw pernah menunggan keledai…….sampai melalui satu majelis yg padanya ada orang orang islam dan orang orang musyrik, penyembah berhala, dan ada orang orang yahudi, dan dalam majelis itu, ada abdullah bin rawaahah….lalu Nabi saw memberi salam kepada mereka.(R.S.Bukhari).

    Nabi memberi salam dalam majelis itu, sudah tentu ditujukan kepada orang orang islam saja, bukan kepada orang orang kafir yang ada di situ.

    Yang masih ane butuh pencerahan:

    Ini adalah pendapat dari seseorang di blognya

    Jika mereka lebih dahulu mengucapkan salam kepada kita, maka hendaklah kita megucapkan seperti salam mereka kepada kita, hal berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Artinya : “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)” [An-Nisa : 86]

    Ucapan salam mereka dengan ungkapan salam Islam “Assalamu ‘alaikum” tidak terlepas dari dua hal.

    Pertama : Mereka jelas-jelas mengucapkan dengan adanya lam yaitu, “Assalamu ‘alaikum (semoga kesejahteraan bagimu), maka kita boleh mengucapkan ‘Alaikumus salam atau wa alaikum (semoga juga bagimu).

    Kedua : Jika mereka tidak jelas mengucapkan lam, misalnya mereka mengucapkan, “Assamu ‘alaikum” (semoga kematian menimpamu), maka kita mengucapkan, “wa ‘alaikum”[1] (juga menimpamu). Demikian ini, karena dulu kaum Yahudi pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam kepada beliau dengan ucapan, “Assamu ‘alaikum”, mereka tidak jelas mengucapkan lam. As-Sam artinya al-maut (kematian), maksudnya mereka mendo’akan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mati. Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengucapkan pada mereka, “wa ‘alaikum”. Jadi, jika mereka mengucapkan, “Assamu ‘alaikum” maka kita membalas dengan ucapan, “wa ‘alaikum”, maksudnya, semoga kematian itu menimpa kalian pula. Demikianlah yang ditunjukkan oleh As-Sunnah.

    Padahal dalam hadits di atas, Nabi sudah melarangnya…ada yang bisa kasih pencerahan?

  7. Terimakasih atas penjelasan ini, semoga memberikan keberkahan kepada saudara saudara kita yang selama ini di rasakan kurang tepat dalam pengucapan saat idul Fitri…Barokallohu lakum

Tinggalkan Balasan