Jumat , 25 April 2014
INFO
Home / BERITA / Berita muslim / Inilah Keputusan Ormas Islam dan Pemerintah tentang Hari raya Idul Fitri

Inilah Keputusan Ormas Islam dan Pemerintah tentang Hari raya Idul Fitri

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Beberapa hari lagi kita harus berpisah dengan Bulan Ramadhan,bulan yang penuh berkah ,rahmat dan ampunan dari Allah swt.

yang tentu saja kita akan memasuki bulan baru yaitu bulan Syawal.yang sekaligus pada tanggal 1 syawal merupakan hari raya ‘Idul fitri .

BACA TULISAN TERBARU: TENTANG KEPUTUSAN HARI RAYA IDUL FITRI TAHUN 2012

Keputusan Ormas Islam dan Pemerintah Tentang Hari Raya Idul Fitri 1433 H/ Tahun 2012

maka pada kesempatan ini kami InsyaAllah akan menyampaikan tentang berita yang berkaitan erat dengan keputusan ini dan akan berusaha mengupdate tulisan ini hingga pada hari H

berikut berita berita yang kami gali dari berbagai sumber mengenai hal ini

1.MUHAMMADIYAH

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan Idulfitri 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus. Ketetapan diumumkan melalui Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 375/MLM/I.0/E/2011 tentang Penetapan Hasil Hisab serta Menyambut Syawal dan Dzulhijjah 1432 Hijriah. Berdasar ketetapan tersebut PP Muhammadiyah mengimbau masyarakat agar menghargai jika nantinya ketetapan hari raya idul fitri dari pemerintah berbeda dengan yang dikeluarkan Muhammadiyah.

Ketetapan yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah, HM Din Syamsuddin, tersebut disampaikan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dalam konferensi pers di Rektorat Universitas Muhammadiyah Jumat, 19 Agustus. Ketua Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, HM Alwi Uddin, menjelaskan tentang hasil hisab tersebut di pada wartawan didampingi Wakil Ketua dan Sekretaris Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Ambo Masse serta H Mawardi Pewangi.

Maklumat tentang penetapan hari Raya Idulfitri sesuai dengan hasil ketetapan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah beberapa waktu lalu menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani Majelis tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Selain hari raya Idulfitri, melalui maklumat ini mereka juga mengumumkan penetapan tanggal 1, 9 serta 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan Iduladha.

Berdasar hasil hisab, PP Muhammadiyah juga menetapkan ijtimak atau garis lurus edar bumi, bulan, dan matahari, pada tanggal 29 Agustus 2011. Ijtimak yang terjadi pada pukul 10 lewat 41 menit dan ditambah kemunculan hilal menandakan jika 1 Syawal jatuh pada keesokan harinya, 30 Agustus.

Dengan ditetapkannya tanggal 1 Syawal lebih dulu, PP Muhammadiyah mengimbau masyarakat agar dapat menanggapinya secara cerdas. Masyarakat diminta memahami dan menghargai perbedaan, menjunjung keutuhan dan toleransi antar umat muslim serta mengutamakan nilai ibadah itu sendiri. Khususnya warga Muhammadiyah, diharap agar tetap berpegang teguh pada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

HM Alwi Uddin juga berharap hasil ketetapan pemerintah nantinya tidak berbeda dengan ketetapan Muhammadiyah. “Upaya ke arah tersebut dikatakan ada, mengingat dalam sidang di lembaga hisab Kementerian Agama nantinya akan kembali digunakan metode yang tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Muhammadiyah,” ungkap dia, malam tadi. (aan/yun)

2.NAHDATUL ULAMA


Nahdlatul Ulama belum menetapkan awal Syawwal 1432 Hijriah. Penetapan Hari Raya Idul Fitri akan menunggu hasil rukyat yang digelar oleh NU pada 29 Agustus mendatang
.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Lajnah Falakiyyah Nahdlatul Ulama (NU), Ghazalie Masroerie.

“Kita masih menunggu hasil rukyat,” katanya di Jakarta, Minggu (21/8). Dikatakan Ghazalie, hasil rukyat tersebut akan disampaikan sebagai bahan rujukan dalam sidang istbat oleh pemerintah.

Menurut dia, NU akan menetapkan dan mengikhbarkan setelah mengetahui hasil sidang tersebut.

Ghazalie juga meminta semua pihak agar tak mengaitkan perbedaan berpuasa atau berhari raya dengan dua kutub ormas besar, NU dan Muhammadiyah. Opini itu seakan mengesankan kedua kubu itu berselisih akibat penentuan Ramadhan dan Syawwal berbeda.

 

3.PERSIS

Sementara itu PP Persis sebagaimana Maklumatnya 1 Syawal  1432 H (‘Idul Fitri 1432 H) yang akan jatuh pada hari Rabu,tanggal 31 Agustus 2011.

Hal tersebut berdasarkan perhitungan:

-Ijtimak akhir Ramadhan 1432 H,hari Senin 29 Agustus 2011 pukul 10.04 WIB

-Ketinggian hilal waktu Maghrib di Pelabuhanratu :1°55’

-Ketinggian hilal waktu Maghrib di Jayapura:-0°02’

-Saat matahari terbenam (Maghrib) tangal 29 Agustus 2011,di seluruh Indonesia ketinggian

hilal kurang dari 2° dan iluminasi hilal kurang dari 0,4% sehingga hilal tidak akan memungkinkan

untuk dirukyat ,maka bulan Ramadhan 1432 H digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

4.MUI (Majelis Ulama Indonesia)

walaupun Majelis Ulama Indonesia Pusat belum mengumumkan tentang hari raya idul FItri / 1 syawal 1432

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta memperkirakan ada dua kali hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriyah di tanah air. Muhammadiyah sudah memastikan Hari Raya pada 30 Agustus 2011, sementara Nahdlatul Ulama diprediksi MUI pada 31 Agustus 2011.

“Diperkirakan Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah dua kali yaitu, hari Selasa 30 Agustus dan Rabu 31 Agustus,” kata Toha Abdurrahman selaku Ketua MUI DIY kepada VIVAnews.com, Rabu 10 Agustus 2011, di Yogyakarta.

Menurut Toha, perkiraan dua kali hari Raya Idul Fitri tersebut disebabkan karena Selasa malam 30 Agustus itu, hilalnya baru 1,49 derajat. Sedangkan kalau menurut Hadis Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Idul Fitri baru bisa minimal 2 derajat. “Menurut perintah Nabi puasa disempurnakan 30 hari,” ujarnya.

Toha menuturkan, yang Lebaran hari Selasa 30 Agustus itu landasannya adalah menggunakan Al-qur’an dengan metode hisab, seperti Muhammadiyah. Sedangkan yang Lebaran hari Rabu 31 Agustus adalah menggunakan Al-qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW dengan cara rukyah, seperti yang dilakukan NU.

“Saya mengimbau kepada masyarakat supaya tidak saling mempermasalahkan itu. Hari Raya dua kali itu tidak masalah. Terserah masyarakat mau Lebaran yang mana,” katanya. (ren)

5.PEMERINTAH

Pemerintah menggelar sidang itsbat penetapan 1 Syawal 1432 H Senin, 29 Agustus 2011. Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab-Rukyat Kementerian Agama Muhyiddin mengatakan, sidang dilakukan sesuai ketetapan yang berlaku dalam syariat, yaitu penetapan awal bulan, terutama Ramadan, Syawal, dan Zulhijah oleh pemerintah.

“Tapi, pemerintah tak bisa memaksakan hasil keputusan sidang itu kepada masyarakat,” kata Muhyiddin di Jakarta, Ahad (21/8/2011). Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal jatuh 30 Agustus 2011. Pemerintah, kata dia, hanya mengimbau agar masyarakat menyikapi perbedaan dengan arif, termasuk jika ada perbedaan dalam perayaan Idulfitri.

Sidang itsbat melibatkan sejumlah pakar hisab rukyat dan instansi yang tergabung dalam Badan Hisab Rukyat (BHR). Di antaranya, Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Di samping itu, ada 12 titik pengamatan hilal dalam penentuan 1 Syawal.

Sejumlah titik itu, di antaranya adalah Observatorium Hilal Lhok Nga, Aceh; Pekan Baru, Riau; Menara Timur Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung; Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung, Jawa Barat; Pos Observasi Bulan (POB) Bukit Bela-belu, Bantul, Yogyakarta; Mataram, Nusa Tenggara Barat; SPD LAPAN, Biak, Papua; Makassar, Sulawesi Selatan; Samarinda, Kalimantan Timur; Nusa Tenggara Barat; Pantai Gebang, Madura; dan SPD LAPAN Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.

Secara terpisah, peneliti senior Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan, perayaan 1 Syawal 1432 H berpotensi mengalami perbedaan. Ini dipicu oleh penggunaan kriteria hilal yang barbeda sebagai acuan penetapan awal Syawal. Bagi mereka yang menggunakan kriteria wujudul hilal dipastikan Idulfitri jatuh pada 30 Agustus 2011.

Kalangan yang memakai kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat), besar kemungkinan berhari raya pada 31 Agustus 2011. Sebab, ketinggian bulan pada 29 Agustus kurang dari dua derajat sehingga tak memungkinkan hilal terlihat dengan mata telanjang. Sementara, batas bulan menurut kriteria tersebut mesti berada di atas dua derajat. ”Jadi, berpotensi berbeda,” katanya.

Perbedaan itu, kata Thomas, tidak mustahil akan terulang di masa mendatang selama tidak ada kesepakatan tentang kriteria itu. Ia mengusulkan penyamaan sistem kalender Hijriah. Diperlukan tiga syarat utama untuk mewujudkannya. Indonesia sudah memenuhi dua syarat, yaitu batas wilayah dan otoritas tunggal, dalam hal ini Menteri Agama. Tetapi, Indonesia belum memiliki kesamaan kriteria.

Penyamaan kriteria itu, menurut dia, bisa mengacu pada ketentuan yang berlaku dalam astronomi. Ia mengusulkan kriteria hisab rukyat Indonesia. Kriteria itu yaitu jarak sudut pandang bulan-matahari lebih dari 6,4 derajat dan beda tinggi bulan-matahari lebih dari empat derajat. Upaya penyatuan tersebut tengah ditempuh oleh pemerintah. “Saya yakin itu akan terealisasi.

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal pada Hari Rabu, 31 Agustus 2011

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Agama Suryadharma Ali memutuskan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu (31/8). Hal ini berdasarkan hasil hisab dan rukyat yang melibatkan Kementerian Agama, ormas-ormas Islam, instansi terkait dan tokoh-tokoh masyarakat yang melakukan pemantauan hilal.

Hasil Pengamatan menggunakan Video Streaming yang diselenggarakan Depkoinfo:

1.PENGAMATAN HILAL BIAK,PAPUA

Posisi

:

Menara Radar TTC Lapan ISRO
SPD LAPAN BiakJl. Angkasa Trikora – Biak
Propinsi Papua
No. Telp./Faks.022 – 2004548 
CP. Sungging Mumpuni (08161881072)
Koordinat

:

  • Latitude :  1° 10′ 36″ Lintang Selatan
  • Longitude : 136° 6′ 4″ Bujur Timur
Ketinggian

:

   ~ 54 m dpl
Prakiraan Cuaca

:

  Berawan dan berpotensi hujan ringan
Tim Pengamat
  1. Sungging Mumpuni (LAPAN Bandung)
  2. Akhda Afif Rasyidi, S.Kom (Kementerian Kominfo)
  3. M. Yusuf, S.Si (Bosscha ITB)
  4. Agus Setiawan (Bosscha ITB)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

16.00 s/d 19.00 WIT  (GMT + 9)
Catatan

:

Tim dengan alat yang lengkap.
Hasil Pengamatan

:

Streaming hilal sudah selesai, hilal tidak terlihat

2.PENGAMATAN HILAL MAKASSAR

Posisi

:

 Atap Mall GTCJl. Metro Tanjung Bunga Kec.Tamalate
Propinsi Sulawesi Selatan
Koordinat

:

  • 119 derajat 24 menit 47 detik Bujur Timur
  • 5 derajat 9 menit 0 detik Lintang Selatan
Ketinggian

:

  ~ 16 m
Prakiraan Cuaca

:

   Berawan Sebagian
Tim Pengamat
  1. Nur Hasanah, M.Si (Universitas Hasanuddin)
  2. Adi Affandi Ratib (Kominfo)
  3. Deva O.A. Irawan, S.Si (Bosscha ITB)
  4. Alfan Nasrulloh, S.Si (Bosscha ITB)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

Pukul 16.00 – 18. 45 WIT
Catatan - Tim dengan alat yang lengkap.

3,PENGAMATAN HILAL PONTIANAK

Posisi

:

BPD LAPAN, Pantai Jungkat, Pontianak
Koordinat

:

1090 11′ 29″ BT
00 3′ 49,5″0 LU
Ketinggian

:

≤ 20
Prakiraan Cuaca

:

Berawan dan berpotensi hujan ringan antara siang dan sore hari
Tim Pengamat

:

  1. Agus T.P. Jatmiko, M.Si (Astronomi ITB)
  2. Yatny Yulianty, S.Si (Astronomi ITB)
  3. Reinaldo Dharma, ST (Kominfo)
  4. Tiar Dani (LAPAN)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

16.00 – 18.00 WIB (GMT + 7)
Catatan

:

- Lokasi Baru.
- Tim dengan Alat yang lengkap.
Hasil Pengamatan

:

 Hilal Tidak Terlihat- Cuaca berawan hitam hampir diseluruh bagian langit terutama daerah horizon bagian barat

- Ketinggian Hilal yang < 20 menyebabkan sulit diamati karena jaraknya masih dekat dengan matahari dan usianya masih sangat muda

4.PENGAMATAN HILAL KUPANG

 

 

Posisi

:

 Depan Rumah Jabatan Bupati Kupang
Koordinat

:

  • 123 derajat 36 menit 42,7 detik Bujur Timur
  • 10 derajat 9 menit 3,6 detik Lintang Selatan
Ketinggian

:

  ~ 10 m dpl
Prakiraan Cuaca

:

 Cerah – Cerah Berawan
Tim Pengamat
  1. Masdiansyah (Kementerian Agama)
  2. Kustriyanto, S.Kom (Kominfo)
  3. Dr. Mahasena Putra (Bosscha ITB)
  4. Dr. Zadrach L. Dupe (Bosscha ITB)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

  17.00-19.00 WITA
Catatan - Mandiri
Hasil Pengamatan

:

 Hilal tidak terlihat

5.PENGAMATAN HILAL MATARAM, NTB

Posisi

:

  Pantai Tanjung KarangSebelah Selatan PLTD Ampenan
Mataram, NTB
Koordinat

:

  S 8o 36′ 10,3
Ketinggian

:

  ~ 2m
Prakiraan Cuaca

:

Berawan ,Angin dari Timur – Selatan, 05 – 27 km/jam.
Tim Pengamat 1. Wayan Sudiarta, M.T (Universitas Mataram)2. Ma’rifudin (Kementerian Agama Mataram)

3. Ciefi Sandriyarka, S.T, M.B.A.

(Kementrian Komunikasi dan informatika)

Waktu Pengamatan/Observasi

:

 16.00 – 19.00 WITA
Catatan - Mandiri,hasil : Hilal tidak terlihat

6.PENGAMATAN HILAL PELABUHAN RATU

Posisi

:

POB Pelabuhan Ratu
Koordinat

:

Lintang :  7 derajat 1 menit busur 44,4 detik busur LS
Bujur :  106 derajat 33 menit busur 27,6 detik busur BT
Ketinggian

:

52,685 meter DPL
Prakiraan Cuaca

:

Tim Pengamat

:

  1. Rukman Nugraha, M.Si (BMKG)
  2. Choyrum Novianti, S.Si. (BMKG)
  3. Teguh Suroyo (BMKG)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

 16.00 – 18.00 WIB
Catatan

:

 Mandiri

7.  PENGAMATAN HILAL BANGKALAN

Posisi

:

Pantai Gebang, Bangkalan, Madura
Koordinat

:

1120 47,209′ BT 60 59,136′ LS
Ketinggian

:

60 14′
Prakiraan Cuaca

:

Berawan
Tim Pengamat

:

  1. Rhorom Priyatikanto (Bosscha ITB)
  2. Sulistyowati (Bosscha ITB)
  3. Dewi Rosiyana (Kominfo)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

15.00 – 18.00 WIB
Catatan

:

- Titik Pengamatan Baru
- Tim dengan Alat yang lengkap.
Hasil Pengamatan

:

8.PENGAMATAN HILAL YOGYAKARTA

Posisi

:

POB Bela BeluJl. Parangtritis KM.27, Mancingan XI, Parangtritis
Kab Bantul
Propinsi DIY Yogyakarta
Koordinat

:

Lintang : 8° 0’58.72″ LS
Bujur : 110°19’23.23″ BT
Ketinggian

:

27 meter DPL
Prakiraan Cuaca

:

Cerah Berawan
Tim Pengamat

:

  1. Mutoha Arkanuddin, S.Si (Rukhyatul Hilal Indonesia)
  2. Yudhi Mulyono (Kementerian Kominfo)
  3. Raden Tjokro Partono (Kementerian Kominfo)
  4. Hartanto (Kementerian Kominfo)
  5. Novi Sopwan (Observatorium Bosscha ITB)
  6. Ridlo Wahyudi (Observatorium Bosscha ITB)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

Catatan

:

 Mandiri

9. PENGAMATAN HILAL PAMEUNGPEUK (Garut)

Posisi

:

 Stasiun Pengamat Dirgantar LAPAN, Pameungpeuk-Garut, Jawa Barat
Koordinat

:

  107° 41′ 8″ Bujur Timur, 7° 39′ 35″ Lintang Selatan
Ketinggian

:

 ~ 8 m
Prakiraan Cuaca

:

 Tim Pengamat

 :

  1. Suhartono, SE (Kominfo)
  2. Andriati Setyaningrum (kominfo)
  3. Aries Kurniawan, ST (Lapan Bandung)
  4. Lulus Kurniawan (Astronomi ITB)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

Catatan

:

 Tim dengan Alat yang lengkap.

10.PENGAMATAN HILAL BANDUNG, JABAR

Posisi

:

Gedung JICA Fakultas Pendidikan MIPAUniversitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung 40154
Koordinat 6o 51 Menit 41.3 Detik Lintang Selatan
107o 35 Menit 24.4 Detik Bujur Timur
Ketinggian

:

Prakiraan Cuaca

:

Cerah berawan
Angin dari Timur – Tenggara, 05 – 26 km/jam
Tim Pengamat
  1. J. Aria Utama, M.Si (UPI Bandung)
  2. Aldita Amsas (Kementerian Kominfo)
  3. Retno Dewiyanti (Kementerian Kominfo)
  4. Yahdiansyah (Kementerian Kominfo)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

  16.00 WIB – 18.20 WIB
Catatan

:

- Mandiri
Hasil Pengamatan

:

STREAMING SUDAH SELESAI : HILAL TIDAK TERLIHAT

11.PENGAMATAN HILAL UIN SUSKA, RIAU

Posisi

:

Kampus UIN Suska Riau

Koordinat

:

101o 25 Menit 48 Detik Bujur Timur
0o 33 Menit 36 Detik Lintang Utara
Ketinggian

:

10 meter dari permukaan laut
Prakiraan Cuaca

:

29 Agustus 2011
Berawan dan berpotensi hujan ringan antara siang/sore hari.
Angin dari Tenggara – Barat Daya, 05 – 25 km/jam.
30 Agustus 2011
Berawan dan berpotensi hujan ringan antara siang/sore hari.
Angin dari Tenggara – Barat Daya, 05 – 25 km/jam.
Sumber : BMKG
Tim Pengamat

:

1. Kastulani, S.H, M.H (UIN Sultan Syarif Kasim Riau)
2. M.Darwis (UIN Sultan Syarif Kasim Riau)
3. Bintang Rehari Suyardi (Kementerian Kominfo R.I)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

15.00 WIB
Catatan

:

 -
Hasil Pengamatan

:

 -

12.PENGAMATAN HILAL MEDAN, SUMUT

Posisi

:

Atap Gedung Kantor Gubernur Sumatera UtaraJalan Diponegoro No. 30 Medan
Propinsi Sumatera Utara
Koordinat

:

Lintang : 3o 34′ 50,71″ LU
Bujur    : 98o 40′ 17,58″ BT
Ketinggian

:

31 m dpl
Prakiraan Cuaca

:

Tim Pengamat BMKG:
1. Tofa Mus Rokhim (BMKG)
2. Teguh Suprapto (BMKG)
3. Ardian Yudhi (BMKG)
4. Ruli Oktavianto (BMKG)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

      WIB
Catatan - Mandiri
Hasil Pengamatan

:

13,PENGAMATAN HILAL LHOKNGA, ACEH

Posisi

:

  Observatorium Hilal LhokngaJln. B. Aceh-Meulaboh Km. 14 Pantai Lhoknga

Kab. Aceh Besar Propinsi Aceh

Koordinat

:

  5 derajat 27 menit 59 detik  LU
95 derjat 14 menit 32,2 detik BT
Ketinggian

:

 10 meter dari permukaan laut
Prakiraan Cuaca

:

  Berawan dan hujan ringan
Tim Pengamat

:

  1. Alifirdaus, S.Ag (Kemenag Aceh)
  2. Faisal Yahya (Kemenag Aceh)
  3. Rini Muliahati, MTI (Kementerian Kominfo)
Waktu Pengamatan/Observasi

:

  16.00 – 19.00 WIB
Catatan

:

  Mandiri
Hasil Pengamatan

:

  Hilal tidak terlihat

Hilal terlihat Pemantauan di Cakung

Seperti dikutip dari tvOne, berdasarkan pemantauan hilal di Cakung, Jakarta Timur diketahui bahwa hilal sudah terlihat. Bahkan, bulan baru disebut sudah terlihat sejak pukul 17.40.

Adapun, pemantauan di Cakung menyebut ketinggian bulan baru mencapai 3,5 derajat. Ketinggian itu dilihat oleh tiga orang yang melalui proses sumpah.

Laporan pengamatan di Cakung dan di Jepara ditolak

Dalam laporan ke kementerian agama (Kemenag) ada yang melihat hilal di Cakung, Jakarta Timur dan Jepara, Jawa Tengah. Namun bagi Majelis Ulama Indonesia, kesaksian itu harus ditolak. Kenapa?

Laporan tentang adanya kesaksian hilal terlihat yaitu di Kudus, Jepara, Jawa Tengah dan Cakung, Jakarta Timur. Padahal, sebelumnya dalam laporan yang disampaikan Kepala Badan Hisab Rukyat Kemenag mengatakan, hasil pengamatan rukyat di 96 lokasi menyatakan tak melihat hilal.

Sebanyak 30 lokasi diantaranya Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung Barat, Jambi, Sumatera Bara, dan Riau menyatakan tidak melihat hilal.

Bagi MUI, hal ini mustahil. Karena itu harus ditolak.

“Jika mustahil, tapi ada yang mengaku melihat harus ditolak,” kata ketua MUI Ma’ruf Amin saat mengikuti sidang itsbat di kantor Kemenag, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (29/8/2011).

Dasar yang menjadi rujukan MUI adalah fatwa Pada tahun 2004 nomor 2 /2004, tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, sebagai penjembatan perbedaan diantara ormas-ormas Islam.

Dalam fatwa itu dikatakan awal Qomariyah bisa menggunakan hisab dan rukyatul hilal. Pada poin berikutnya MUI memutuskan supaya tidak terjadi perbedaan maka negaralah yang menjadi hakim untuk memutuskan kapan dimulai.

Fatwa MUI juga menegaskan bahwa seluruh umat Islam Indonesia wajib menaati ketetapan pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

6. Arab saudi

Untuk Arab Saudi tanggal 1 Syawal 1432 H, hampir dipastikan jatuh pada hari selasa tanggal SELASA tanggal 30 Agustus 2011, karena letak Geografis Arab Saudi lebih Barat dari Indonesia dengan perbedaan waktu 4 jam 20 Menit dengan WIB.

Artikel terkait :

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

158 comments

  1. tersesat di ujung jalan kembalilah ke pangkal jalan, pangkalnya ada hadist rasullulah saw di Kitab Insanul Uyun Juz III Karangan Syekh Nuruddin. kemajuan ilmu teknologi telah merubah sisi pandang umat islam sebab titik nol perjalanan bulan mengelilingi bumi menurut ilmu agama bukan pada ijtimak(kunjungsi) untuk lebih jelasnya silahkan baca di rotasibulanblogspot.com terimakasih.

  2. tersesat di ujung jalan kembalilah ke pangkal jalan, pangkalnya ada di Kitab Insanul Uyun Juz III Karangan Syekh Nuruddin. kemajuan ilmu teknologi telah merubah sisi pandang umat islam sebab titik nol perjalanan bulan mengelilingi bumi menurut ilmu agama bukan pada ijtimak(kunjungsi) untuk lebih jelasnya silahkan baca di rotasibulanblogspot.com terimakasih.

Tinggalkan Balasan