Sabtu , 1 November 2014
INFO
Home / ISLAM / Al Qur'an / Tafsir Ilmiah Al Quran Antara teori ,Wacana dan Praktek

Tafsir Ilmiah Al Quran Antara teori ,Wacana dan Praktek

Oleh : Ibnu Taimiyyah – facebooker, aktivis diskusi masalah Islam dan diskusi lintas agama.

Saat ini kita berada di penghujung peradaban modern, di mana setiap KLAIM KEBENARAN dituntut pembuktiannya secara EMPIRIS, ilmiah dan faktual. HAL ini tidak terkecuali menjadi tantangan tersendiri dalam pembacaan INTERPRETASI AL-QURAN, mengingat ALLOH menantang manusia untuk membuat yang semisal AL-QURAN, mengingat bahwa tantangan ALLOH terhadap manusia melampaui zaman, yang artinya akan selalu menantang tiap-tiap zamannya. Al-Quran sebagai mu’jizat abadi, tidak seperti mu’jizat para nabi sebelumnya, yang lekang oleh waktu, di saat bangsa ARAB merasa bangga dengan SASTRAnya yang tinggi, AL-QURAN mampu menundukkan kesombongan SASTRA ARAB dengan bentuk sastra yang sangat unik, bukan syair, bukan arudh, bukan sajak dll, mudah dihafal, dalam maknanya, memiliki keserasian, tidak berat dalam pengucapan, tinggi rendah selaras, dll. Hal inilah yang menyebabkan kaum Quraish menganggap AL-QURAN adalah SIHIR, hal ini karena mereka sangat menyadari tidak akan ada manusia yang mampu menandingi keunggulan sastranya, plus, nabi MUHAMMAD bukanlah seorang penyair.

Namun, ini adalah zaman di mana MANUSIA MENDEWAKAN SCIENCE…

Apakah mu’jizat Al-Quran terhenti dan mencukupkan diri menjawab zaman JAHILIYYAH KAUM QURAISH SAJA….?. Tentu akan kita jawab, TIDAK, Al-Quran akan selalu mampu menjawab TANTANGAN ZAMANNYA. Namun masalahnya adalah : SCIENCE bersifat evolutif, temporal, tentative, sedangkan apa yang disampaikan AL-QURAN adalah kebenaran MUTLAK AKSIOMATIS yang tentu sangat mungkin, apa yang ditemukan hari ini, belum mampu menggambarkan apa yang AL-QURAN inginkan.

Menghadapi masalah ini, para ‘ulama terbagi ke dalam beberapa kondisi :

1. Yang menolak mentah-mentah tafsir ILMIAH, dengan berpegang pada LITERAL teks hadits untuk tidak menafsirkan al-quran dengan RO’YU/RASIOnya…

قال, صلى الله عليه وسلم: “من قال في القرآن برأيه -أو بما لا يعلم- فليتبوأ مقعده من النار”أخرجه الترمذي والنَّسائي وأبو داود، وقال الترمذي: هذا حسن.ØŒ

Nabi bersabda: barang siapa yang berkata terhadap al-quran dengan RASIOnya – atau dengan apa yang tidak ia ketahui – maka bersiap-siaplah tempat duduknya di neraka (HR. Tirmizi, Nasa’I dan Abu Daud), dan tirmizi berkata: hadits Hasan

وفي لفظ: “من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ”

Dan dalam satu riwayat: Barang siapa yang berkata terhadap al-quran dengan RASIOnya, lalu benar, tetap saja ia salah. Maksud hadits ini adalah, karena kebenaran yang dihasilkan RASIO adalah kebenaran spekulatif, bukan kebenaran ilmiah..

2. Yang menerima secara MUTLAK penggunaan tafsir ilmiah dengan tidak melakukan pemilahan science yang bersifat AKSIOMATIS dengan scince yang bersifat temporal/tentative atau bahkan pseudo-science, tidak juga melakukan suatu standarisasi yang mapan, yang jelas, apapun perkembangan science, akan ia hubung-hubungkan dengan INTERPRETASI AL-QURAN.

3. Yang bersifat MODERAT, di mana ia menggunakan TAFSIR ILMIAH dengan melakukan pemilahan antara science yang bersifat AKSIOMATIS, temporal/tentative dan pseudo-science, melakukan standarisasi dalam penafsiran ilmiah, yang tentu berdasarkan standarisasi kaidah TAFSIR, untuk kemudian mengkaji Al-Quran secara INTEGRAL DAN HOLISTIK berdasarkan TEMA-nya/MAUDHU’I. Inilah langkah terbaik menghadapi zaman modern saat ini sehingga AL-QURAN senantiasa memiliki RUH ZAMANNYA. Inilah yang sebenarnya dihadapi para pemikir Islam, di mana mereka merasakan butuhnya interpretasi yang mapan atas zamannya.

Namun selalu saja menemukan benturan metodologis, hal ini karena metodologi yang mereka dapatkan dalam pengkajian interpretasi AL-QURAN bukanlah berdasar pada warisan Islam itu sendiri, karenanya dampaknya justru menjadi RACUN dalam studi interpretasi. Sebaliknya, mempertahankan tafsir ala zaman sahabat, tabi’in dengan tidak mengembangkan bahkan menghubungkan dengan zaman kekinian, adalah suatu bentuk pemandulan MU’JIZAT AL-QURAN ITU SENDIRI.

Ada beberapa kesalahan sebagian ‘ulama yang menolak TAFSIR ILMIAH berdasarkan dalil HADITS nabi, untuk melarang manusia menafsirkan Al-Quran berdasarkan RO’YU :

1. Bahwa yang ditolak nabi adalah TAFSIR BI AR-RO’YU, bukan TAFSIR ILMIAH. Ro’yu adalah RASIO, yang jika dipikirkan tampak benar, namun pada hakikatnya adalah salah, sedangkan ILMIAH adalah berdasarkan ilmu yang jelas yang sesuai dengan FAKTA LAPANGAN.

Contoh :

Katak mampu melompat 10 cm.

Sungai ada 3m atau 300cm.

Berapa kali katak melomat untuk sampai seberang sungai…?

JAWAB RASIO: 30 KALI…

JAWAB ILMIAH: 2 KALI..

Karena memang katak hanya akan melompat ke air satu kali untuk selanjutnya berenang dan melompat lagi satu kali untuk sampai ke atas. Inilah KESALAHAN FATAL RASIO, ia benar hanya dalam dunia imaginasi atau teori, bukan kebenaran fakta yang sesungguhnya…

 2. Bahwasanya tafsir bil ma’tsur (menafsirkan Al-Qur’an dengan merujuk pada pemahaman yang langsung diberikan oleh Rasulullah kepada para sahabat, lalu turun menurun mendasarkan tafsir pada kutipan-kutipan yang shahih sesuai urutan-urutan persyaratan, menafsirkan Al-Quran dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an dengan as-Sunnah, dst)-pun menggunakan teknik-teknik ilmiah, seperti :

a. Penggunaan nahwu, tasrif, balaghoh, badi’ dan bayan.

b. Penggunaan al-hadits sebagai penjelas.

c. Penggunaan tematik KATA di beberapa surat untuk menemukan makna KATA YANG TEPAT.

d. Penggunaan ulumul quran, dengan kaidah-kaidah yang mapan, seperti : ‘aam dan khos, mutlaq dan muqoyyad, nasikh dan mansukh.

e. Penggunaan ASBABUN NUZUL untuk mengetahui KONTEKTUAL AYAT DENGAN TEPAT.. dll.

Karenanya, maka dengan tegas, bisa kita katakan bahwa tafsir BIL MA’TSUR PUN ADALAH TAFSIR ILMIAH BERDASARKAN ZAMAN YANG DIALAMI OLEH para ‘ulama di zamannya.  Karena itulah, mereka mencukupkan diri dengan interpretasi secara KOSA KATA, atas hakikat masalah yang mereka tidak sanggup untuk mengkajinya lebih jauh, dan ini adalah keuntungan bagi kita, sehingga kita telah mendapatkan warisan yang begitu berharga berupa KATA DASAR untuk selanjutnya mengkajinya secara ILMIAH.

Sebaliknya, apa yang dilakukan pemikir-pemikir kontemporer, seperti : Hasan Hanafi, Arkoun, Nasr Abu Zaid, dll, dengan meminjam metodologi HERMENEUTIKA, merupakan kesalahan metodologis yang sangat PARAH, dengan menggunakan metode linguistik modern Ferdinand de Saussure, Arkoun menyamakan teks Al-Qur’an sebagaimana teks-teks sastra lain yang tidak lagi SAKRAL dalam pengertian BENAR SECARA ABSOLUT/MUTLAK. Dengan mengkaji sinkronis dan diakronis dalam memahami Al-Quran dan asbabun nuzulnya, Arkoun merekonstruksi tanzil Al-Quran secara subjektif dan tanpa parameter yang kokoh. Begitu juga ketika ia meminjam pendekatan antropologi Saussure, antropologi strukturalisme ala Claud, logika simbolis ala Levi Strauss. Dan metode ini diikuti Nasr Abu Zaid di kemudian hari.

Hal terpenting dari semua kesalahan westernisasi METODOLOGI pemikir-pemikir Islam ini adalah; APAKAH TUJUAN METODOLOGI TERSEBUT..?

1. Apakah untuk meningkatkan keimanan seorang muslim..?

2. Apakah untuk memodernisasi tafsir..?

3. Apakah untuk meningkatkan intelektual muslim…?

Tidak sama sekali, mereka hanyalah orang-orang yang euforia terhadap metodologi filsafat hermeneutika tanpa memahami fungsi dan tujuan dalam pengayaan interpretasi AL-QURAN. Yang lebih dan sangat berbahaya, upaya yang mereka lakukan MENJUSTIFIKASI subjektifisme INTERPRETASI dengan tanpa METODOLOGI YANG YANG BISA DIPERTANGGUNG JAWABKAN. Tidak dapat dipungkiri, adanya subjektifitas interpretasi, yang diakibatkan dari KEDALAMAN ILMU, WAWASAN, PENGUASAAN SASTRA dll, namun bukan menjadi pembenaran SUBJEKTIFISME INTERPRETASI yang melahirkan interpretasi LIAR.

Sebaliknya, justifikasi atas TAFSIR ILMIAH BUKAN BERARTI BERJALAN TANPA MASALAH. Setidaknya ada 3 gambaran implementasi TAFSIR ILMIAH yang telah berkembang :

1. Menjadikan bukti-bukti science yang bersifat aksiomatis untuk selanjutnya dilakukan induksi atas INTERPRETASI AL-QURAN. Hal ini walau dikatakan kurang tepat, namun masih dalam koridor yang diperbolehkan, mengingat demikianlah fungsi TAFSIR ILMIAH, yaitu agar kita, Muslim di masyarakat modern, senantiasa memahami aktualitas AL-QURAN.

Contoh QS 96:2

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ

khalaqal insaana min ‘Alaq

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Para penafsir sejak zaman sahabat mengartikan ‘alaq dengan sesuatu yang menempel di tenggorokan yang seperti LINTAH. Namun, penerjemah Indonesia tampaknya merasa kesulitan jika harus menerjemahkan seperti lintah, akhirnya mereka memilih menerjemahkan dengan arti : SEGUMPAL DARAH. Maka bisa kita katakan, INTERPRETASI segumpal darah, adalah interpretasi DENGAN RO’YU/RASIO, yang dalam penalaran mereka adalah mustahil memaknai dengan LINTAH, hingga mereka mengambil makna terjauh yang sangat lemah. Maka setelah terbukti secara EMBRIOLOGI, bahwa memang terdapat fase di mana janin mirip LINTAH, sudah sewajibnya kita kembalikan makna sebagaimana KATA DASARNYA.

‎2. Menafsirkan secara ilmiah UNTUK MENJUSTIFIKASI diskursus perdebatan ilmiah. Ini termasuk teknik tafsir yang diharamkan. Hal ini karena jika suatu studi ilmiah masih belum mampu menetapkan secara aksiomatis atas suatu masalah, maka terlibat dan menjustifikasi salah satu dengan menegasikan pandangan yang belum tentu salah, adalah suatu kekeliruan yang sangat fatal, di mana hal ini dapat menodai KESAKRALAN AL-QURAN jika terbukti hasil yang dinegasikanlah yang berada dalam kebenaran.

Contoh : Sejak dahulu para ahli tafsir menyatakan bahwa BUMI LEBIH DAHULU DICIPTAKAN SEBELUM PENCIPTAAN LANGIT, berdasarkan pada QS 2:29 :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

huwaladzii khalaqa lakum maa fil ardhi Jami’aan tsummastawaa ‘ilaa as-Samaa’i fasawwaahunna sab`a samaawaati wa huwa bikulli shay’in `aliimun

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Hal ini karena pada saat itu pandangat BUMI SEBAGAI PUSAT TATA SURYA sangat dominan dan menjadi kepercayaan umum masyarakat, karenanya mereka mencoba menjustifikasi pemahaman umum ini dalam bentuk interpretasi yang bersifat RO’YU dengan tanpa melakukan pembahasan sebagaimana mestinya, yaitu mengumpulkan suatu permasalahan/teks yang berbicara atas tema tersebut, untuk selanjutnya mengkaji dengan ilmiah. Karena faktanya, jika berpegang dengan ayat tersebut, maka mereka akan terbentur dengan QS 21:30

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

‘awalam yaraladzÄ«na kafaruu ‘annasamaawaati wal ‘arÄ‘a kaanataa ratqaan fafataqnaahumaa wa ja`alnaa minal maa’i kulla shay’in hayyin ‘afalaa yu’minuuna

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Jika Al-Quran secara EKSPLISIT menyatakan bahwa LANGIT DAN BUMI DAHULUNYA adalah satu kesatuan, lalu, bagaimana mungkin bisa bumi lebih dulu tercipta dari langit…?

2. Bahwa tafsir ‘ulama pertengahan tersebut tidak menghiraukan kaidah bahasa yang benar, di mana di QS 2:29 dinyatakan :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ

huwalladzii khalaqa lakum maa fil ardhi, yang secara literal berarti : Dialah Allah, yang menjadikan APA APA YANG ADA DI BUMI.

Jadi ayat di atas bukan berbicara tentang penciptaan bumi, tapi penciptaan KESEMPURNAAN BUMI/APA-APA SAJA YG ADA DI BUMI, karenanya maka makna istawa ilaa (bedakan dengan makna istawa ‘ala) berarti : ‘menuju PENCIPTAAN LANGIT dunia, bukan langit dalam arti ALAM SEMESTA’ dan jelas yang dimaksud adalah ATMOSFER yang 7 tingkat.

3. Melakukan tafsir ilmiah, berdasarkan metodologi TAFSIR yang baku, berdasarkan kosa kata yang jelas, plus metodologi yang sesuai peruntukannya, artinya :

a. Jika dalam memahami ilmu fisika, maka metodologi empiris adalah yang benar dan tepat.

b. Jika dalam memahami psikologi, maka dengan ekperimen, deskriptif, korelasional, komparatif, eksperimen, quasi-eksperimen, intuitif, dll yang sesuai dengan spesifikasi cabang ilmu tersebut.

Pada tahap ini maka bisa kita katakan, pendekatan TAFSIR ILMIAH telah sampai pada satu tingkatan menuju kedewasaan/peak, di mana metodologi tertinggi TAFSIR ILMIAH adalah dengan menemukan metode-metode baru yang disampaikan AL-QURAN, baik secara eksplisit maupun secara implisit, sebagaimana penemuan metodologi ilmu KHUDURI dalam ilmu psikologi Islam, yang merupakan khasanah Islam tersendiri. Teknik TAFSIR ILMIAH seperti inilah yang harus mendapat perhatian khusus UMAT ISLAM dalam rangka merealisasikan AKTUALISASI AL-QURAN, meningkatkan keimanan berdasarkan pembuktian, menggali science berdasarkan metodologi yang mapan dengan menjadikan AYAT-AYAT AL-QURAN, AL-HADITS sebagai sumber epistemologisnya.

Contoh sederhana dalam tafsir ilmiah jenis ini adalah :

1. GUNUNG YANG BERJALAN

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, 27:88)

Harun Yahya, dengan mengambil beberapa pandangan AHLI GEOLOGI seperti WEGENER, menyatakan bahwa hakikat GUNUNG BERJALAN adalah fakta ilmiah. Sebenarnya hasil kesimpulan ini pun tidak dapat disalahkan, karena memang AL-QURAN berbicara dengan makna LITERAL, namun yang harus kita fahami, bahwa ADA QORINAH di ayat tersebut yang menghalangi penggunaan makna LITERAL, yaitu, BERJALANNYA GUNUNG SAMA DENGAN BERJALANNYA AWAN. Jika kita kaji, bahwa sering kali AL-QURAN menyebut sebagian untuk menunjukan KESELURUHAN, contoh : pengharaman daging BABI pada QS 6:145 :

قُل لَّا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ

qul laa ‘ajidu fii maa ‘uhiya ‘ilayya muÄ¥arramaan `alaa taa`imin yaÅ£`amuhu ‘illaa ‘Ayyakuuna maytatan ‘aw damaan masfuuÄ¥aan ‘aw laÄ¥ma khinziirin

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi (Note : lahman = daging, khinziir = babi)

Padahal yang dikehendaki adalah KESELURUHAN BABI. Hal ini sebagaimana larangan memakan DAGING BABI, bahwa benar-benar yang dimaksud adalah larangan makan DAGING BABI, walau maksudnya lebih UMUM, yaitu KESELURUHAN ELEMEN BABI bahkan HINGGA bulunya..

atau pada QS 55:27

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ

wa yabqaa wajhu rabbika dhuul jalaali wal ‘ikraami

Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Note : wajhu = wajah, rabbika = Tuhanmu)

Disebut WAJAH, padahal yang dikehendaki adalah ZAT ALLOH itu sendiri. Karenanya, maka sangat mudah difahami bahwa MAKSUD GUNUNG BERJALAN ADALAH BUMI ITU SENDIRI. Dalam hal ini, walau kesimpulan Harun Yahya kurang tepat, namun tidak dapat DISALAHKAN juga.

Karenanya, tidak dapat dipungkiri, bahwa KEBENARAN DALAM MEMAHAMI AL-QURAN memiliki JENJANG, yang bagi spesialisasinya akan menemukan makna yang lebih dalam ketimbang pembacaan umum.

Contoh: Bagi orang awam, maka ayat QS 59:7

مَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ۚ

maa ‘afaa’allahu `alaa rasuulihi min ‘ahlil quraa falillaahi wa lirrasuuli wa lidzhiil qurbaa wal yataamaa wal masaakiini wabnissabiili kaylaa yakuuna duulatan baynal ‘aghniyaa’i minkum

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.

hanyalah memiliki makna PEMBAGIAN HARTA FAI dengan adil, namun bagi para ekonom yang terbiasa berdebat mengenai KESEJAHTERAAN VS PERTUMBUHAN, maka akan langsung menyadari bahwa AYAT INI ADALAH KAIDAH ISLAM DALAM KONSEP EKONOMI PEMBANGUNANNYA.

About AbuBMR

Loading Facebook Comments ...

7 comments

  1. Hmmm…..subhaanallaahh…terimakasih ilmunya….terutama yang ini sangat2 jelas penjelasannya

    “huwalladzii khalaqa lakum maa fil ardhi, yang secara literal berarti : Dialah Allah, yang menjadikan APA APA YANG ADA DI BUMI.

    Jadi ayat di atas bukan berbicara tentang penciptaan bumi, tapi penciptaan KESEMPURNAAN BUMI/APA-APA SAJA YG ADA DI BUMI, karenanya maka makna istawa ilaa (bedakan dengan makna istawa ‘ala) berarti : ‘menuju PENCIPTAAN LANGIT dunia, bukan langit dalam arti ALAM SEMESTA’ dan jelas yang dimaksud adalah ATMOSFER yang 7 tingkat.”

    Jadi ayat disitu bukan sedang menjelaskan awal penciptaan bumi ya, tapi menjelaskan penciptaan/penyempurnaan isi di dalam bumi….

    yang jelas Alquran masih banyak sekali ilmu yang bisa digali…..
    Saya sendiri juga tertarik sekali dengan surat Annaml 38 – 40,
    Bismilaahirrohmaanirrohiimm:

    27:38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”
    27:39. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”
    27:40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

    Kira2 menurut bung taimiyah, terjemahan diatas tsb gimana ya?? Apakah berarti Quran mengisyaratkan bahwa teknologi teleportasi adalah sangat mungkin, sebagaimana seorang manusia dalam ayat 40 hanya dengan menggunakan ilmu bisa memindah orang/barang?

    Jika benar suatu saat teknologi teleportasi diciptakan, subhaanallaah makin terbukti kebenaran Quran, bagaimana seorang nabi muhammad pada abad 7 bisa mengetahui info tersebut kalau tidak diberi tahu sang penciptaNya (Allah SWT) sendiri

    Selain itu ayat tersebut juga menunjukkan puncak peradaban manusia di zaman nabi sulaiman yang info tersebut tidak ada kitab lain, dan bagaimana lgi nabi saw mengetahui info tsb kalau bukan dari sang pencipta Allah SWT sendiri??
    Sementara teknologi teleportasi sendiri saat ini masi dalam penelitian dan masih jauh hasilnya…sementara di zaman nabi sulaiman hal tersebut sudah terjadi

  2. Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

    Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

    • Subhanallah,

      bahkan pernyataan tentang gerakan gunung tersebut telah ada sebelum jaman singasari dan majapahit …

      Subhanallah …

    • Subhaanallah luar biasa yaaa….mungkin masih ada lagi kali ya penemuan2 baru lainnya yang belum terungkap dari Quran….sepertinya tidak akan pernah ada habisnya…

      • seperti apa yang tertulis di artikel diatas

        “Al-Quran sebagai mu’jizat abadi, tidak seperti mu’jizat para nabi sebelumnya, yang lekang oleh waktu”

        “Apakah mu’jizat Al-Quran terhenti dan mencukupkan diri menjawab zaman JAHILIYYAH KAUM QURAISH SAJA….?. Tentu akan kita jawab, TIDAK, Al-Quran akan selalu mampu menjawab TANTANGAN ZAMANNYA.”

      • Ya, saya yakin bahwa Al Quran adalah solusi. Semua persoalan kehidupan saat ini, kalau semua mau menyelesaikan dengan tata cara yang tertuang dalam Al Quran, pasti menyelesaikan masalah tanpa bermasalah.

Tinggalkan Balasan