Minggu , 26 Oktober 2014
INFO
Home / BERITA / Tantangan / Kolonialisme Dan Misi Kristen Dalam Sejarah Indonesia (2)

Kolonialisme Dan Misi Kristen Dalam Sejarah Indonesia (2)

Jemaat Kristen Protestan Kota Ambon usai beribadah minggu di Gereja Protestan pada tahun 1923. Lokasi gerejanya saat itu di kawasan Pecinaan (China Town). Sekarang daerah ini adalah kawasan perdagangan A.Y. Patty. Lokasi gerejanya tepatnya adalah Gedung Puskud Ambon saat ini (depan eks Toko LilyOleh, Muhammad Isa Anshory

(Peneliti Pusat Studi dan Peradaban Islam)

Selain di Maluku, Kristen Katolik juga menyebar di Nusa Tenggara Timur mulai tahun 1556 serta di Sulawesi Utara dan kepulauan Sangir-Talaud mulai tahun 1560-an. Akan tetapi, mereka gagal menyebarkan Kristen Katolik di wilayah barat Indonesia. Portugis sempat melakukan Kristenisasi di ujung timur pulau Jawa, tepatnya di Blambangan dan Panarukan pada 1585-1598. Mereka membaptis sejumlah orang, termasuk dari kalangan keluarga raja Blambangan.

Pada akhir abad XVI, penyebaran Kristen Katolik berakhir ketika Blambangan diserang dan diislamkan dari jurusan Pasuruan dan Surabaya. [26] Semenjak itu, tidak ada komunitas Kristen di pulau Jawa hingga datang orang-orang Belanda dalam beberapa gelombang memasuki abad XVII.

Pada 1595 orang-orang Belanda mulai datang ke Indonesia. Angkatan pertama ini segera disusul oleh beberapa angkatan berikutnya sehingga jumlah mereka semakin banyak. Tujuan kedatangan mereka itu adalah ikut serta berdagang. Untuk menyatukan orang-orang Belanda yang mengadakan pelayaran dan perdagangan di negeri seberang, pada 1602 dibentuklah organisasi dagang swasta yang bernama Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).

Selain mengejar keuntungan ekonomis dan ikut membangun imperium Belanda, VOC juga mempunyai tugas untuk menyebarkan agama Kristen. VOC mengatur dan menetapkan bahwa di kapal-kapal dan wilayah-wilayah yang mereka kuasai harus diselenggarakan pemeliharaan ruhani meskipun sangat sederhana. VOC juga harus memelihara orang-orang Kristen yang merupakan warisan Portugis di daerah-daerah yang baru saja ditaklukkannya. Selain itu, sebagai pemerintah Kristen, VOC mempunyai tugas untuk menyebarkan Kristen kepada penduduk-penduduk kafir dan Islam. [27]

Sebagaimana Portugis yang mendapatkan mandat dari Paus Alexander VI untuk menyebarkan Kristen di daerah yang ditaklukkan, VOC juga mendapatkan mandat dari Gereja Protestan Belanda (Gereformeerde Kerk), yang waktu itu berstatus sebagai gereja negara, untuk menyebarkan Kristen, sesuai dengan isi pasal 36 Pengakuan Iman Belanda tahun 1561, yang antara lain berbunyi, “Juga jabatan itu (maksudnya tugas pemerintah) meliputi: mempertahankan pelayanan Gereja yang kudus, memberantas dan memusnahkan seluruh penyembahan berhala dan agama palsu, menjatuhkan kerajaan Anti-Kristus, dan berikhtiar supaya kerajaan Yesus Kristus berkembang.” [28]

Akan tetapi, selama 200 tahun menguasai beberapa wilayah di Indonesia, pertumbuhan agama Kristen pada zaman VOC mempunyai hasil minim. VOC hanya memprioritaskan daerah-daerah bekas koloni Portugis dan Spanyol, seperti Maluku, Minahasa dan lainnya. Kegiatan para pendeta terbatas pada melayani orang-orang Eropa dan orang-orang pribumi yang telah masuk Kristen. Orang-orang Maluku yang sudah beragama Katolik dipaksa untuk berpindah ke Protestan aliran Calvinisme. [29] VOC lebih memedulikan keamanan keuntungan komersial yang diraih daripada mengonversikan orang-orang Indonesia. Upaya-upaya konversi terhadap pribumi, terutama di Jawa, dihindari karena mereka takut akan pengaruh negatifnya terhadap perolehan keuntungan ekonomi. [30]

Setelah VOC runtuh pada 1799, Indonesia tidak lagi milik suatu badan perdagangan, tetapi menjadi wilayah jajahan negara Belanda. Sejak 1795, Belanda diduduki oleh tentara Perancis. Hal ini mendorong pemerintah Inggris menginvasi Jawa dan mengambil alih kekuasaan dari tangan pemerintah Belanda. Masa peralihan sementara ini berlangsung dari 1811 hingga 1816. Di bawah Thomas Stamford Raffles, Gubernur Inggris yang ditunjuk untuk memerintah di Indonesia, agama Kristen –khususnya Kristen Protestan– mulai bisa menghirup udara segar. Orang-orang Kristen Inggris memainkan peran menonjol dalam kerja-kerja misionaris, dan Masyarakat Misionaris London (London Missionary Society) kemudian mendirikan Gereja Baptis Inggris pertama di Batavia (kini Jakarta). [31]

Dengan berakhirnya pelbagai perang yang disulut Napoleon, Indonesia kembali jatuh ke tangan pemerintah Belanda. Sejak saat itu dan selanjutnya, agama Kristen mulai mengakar di Indonesia. Memang pada abad XIX, misi Kristen Protestan kepada kaum Muslim mulai digalakkan secara serius dengan bangkitnya gerakan evangelis. [32]

Sekembalinya pemerintah Belanda ke Indonesia pada 1816, Raja William I dari Belanda mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa para misionaris akan diutus ke Indonesia oleh pemerintah. Pada 1835 dan 1840, dekrit lain dikeluarkan yang menyatakan bahwa administrasi gereja di Hindia Belanda ditempatkan di bawah naungan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial di Indonesia. Pada 1854, sebuah dekrit lain dikeluarkan, yang mencerminkan bahwa kedua badan di atas saling berkaitan. Dekrit itu menyebutkan bahwa administrasi gereja antara lain berfungsi mempertahankan doktrin agama Kristen. Oleh karena itu, sejumlah fasilitas diberikan kepada para misionaris, termasuk subsidi dan sumbangan finansial serta keringanan pajak. [33]

Berbagai lembaga misionaris juga dibentuk dan berlomba-lomba mengembangkan agama Kristen di kalangan pribumi. Lembaga misionaris itu tidak hanya berasal dari negara Belanda, namun juga dari negara-negara Eropa lainnya. Menurut Stephen Neill, lembaga misionaris dari negara Eropa lain memang sengaja datang untuk membantu lembaga-lembaga misionaris Belanda. Pertimbangannya adalah karena Belanda negeri kecil, sedangkan Indonesia negeri yang sangat besar. Apabila Indonesia ingin dikristenkan, maka usaha ini tidak akan dapat dicapai oleh Belanda saja. [34] Di antara lembaga misionaris tersebut, misalnya, adalah sebagai berikut:

- Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG). Dibentuk pada 1797 di Belanda. Organisasi ini menyebarkan Kristen di Tanah Karo (Sumatra Utara), Jawa Timur, Poso (Sulawesi Tengah), dan Bolaang Mongondow.

- Nederlandsche Bijbelgenootschap. Dibentuk pada 1814. Organisasi ini menyebarkan dan menerjemahkan Bibel ke dalam berbagai macam bahasa di Indonesia.

- Nederlandsche Zendings Vereeniging. Dibentuk pada 1858. Organisasi ini menyebarkan Kristen di kalangan kaum Muslim dan penganut agama suku di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

- Het Rijnsche Zendingsgenootschap te Barmen. Dibentuk pada 1829. Organisasi ini menyebarkan Kristen di Tapanuli (Tanah Batak dan Nias), pulau Enggano, kepulauan Mentawai, Simalungun, dan Tanah Karo.

- De Utrechtsche Zendingsvereeniging. Berdiri pada 1859 dan menyebarkan Kristen di Maluku.

- De Indische Advent Gemeente menyebarkan Kristen kepada keturunan Cina di Jawa, Tapanuli, dan Ambon.

- The Missionary Society of the Metodhist Episcopal Church menyebarkan Kristen di Palembang dan Sumatra Selatan.

Penduduk pribumi yang masuk Kristen mendapatkan hak-hak istimewa dari pemerintah Hindia Belanda. Menurut Ketetapan Umum Perundang-undangan (Algemeene Bepaling van Wetgeving) tahun 1849, golongan Kristen termasuk kategori Eropa, sehingga penduduk pribumi yang beragama Kristen menikmati hak hukum yang sama dengan saudara-saudara mereka seagama dari kalangan bangsa Eropa. Walaupun posisi anak mas ini segera ditarik kembali dan peraturan pemerintah (Regeeringsreglement) tahun 1854 menempatkan posisi hukum mereka dalam kategori yang sama dengan penduduk pribumi lain pada umumnya, namun hal ini belum menghilangkan kenyataan bahwa penganut Kristen pada umumnya menikmati berbagai keuntungan dari pemerintah Belanda, umpamanya dalam mencari lapangan kerja serta dalam memperoleh kenaikan pangkat dalam pekerjaan mereka. Anak-anak mereka pun, dibandingkan dengan anak-anak orang Islam, mudah mendapat tempat di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah. [35]

Apabila para zendeling dan misionaris cukup berhasil mengkristenkan penduduk di daerah-daerah luar Jawa yang masih menganut agama primitif, namun tidak demikian halnya di Jawa. Meski mereka telah mengerahkan tenaga dan dana yang besar, namun hanya sedikit penduduk Jawa yang masuk Kristen. Perkembangan komunitas Kristen di Jawa sangat lambat. Pengaruh Islam sangat kuat di kalangan pribumi Jawa sehingga menjadi penghalang kokoh bagi upaya Kristenisasi. Dalam suratnya kepada Pengurus Pusat Nederlandsche Zendings Vereeniging pada 8 Mei 1863, D.J. van der Linden mengatakan, “Agama Islam di Pulau Jawa ini bukan seperti pohon yang tidak berbunga lagi. Bahkan sebaliknya, tahun demi tahun buahnya bertambah banyak. Orang Jawa masih merasa yakin bahwa agama Islam memenuhi kebutuhannya. Dia belum siap. Itulah sebab utama kurang berhasilnya perkabaran Injil di Pulau Jawa selama ini.” [36] Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Th. van den End,

“Akhirnya, di daerah-daerah di luar Jawa pun waktu panen yang berlimpah tiba; kalau di Jawa Barat masa panen itu tidak kunjung datang. Yang demikian itu karena di sana beton adat, yang membuat masyarakat begitu tertutup, masih diperkuat lagi oleh besinya Islam.” [37]

Pertarungan Identitas

Agama Kristen bagi pribumi Muslim dipandang sebagai agama penjajah Belanda karena agama ini dianut, disebarkan ke kalangan pribumi, dan didukung oleh orang-orang Belanda. Maka dari itu, pribumi yang masuk agama Kristen bukan hanya dikucilkan dari lingkungannya, tetapi juga dianggap telah menjadi “Belanda” atau antek Belanda. Dengan demikian, rasa bangga berdasarkan kebangsaan akan terusik. [38] Pada masa itu Islam adalah identik dengan kebangsaan. [39] Pandangan ini muncul akibat kuatnya pengaruh Islam dalam diri penduduk pribumi. Bagi mereka, Islam berfungsi sebagai titik pusat identitas untuk melambangkan keterpisahan dari dan perlawanannya terhadap penguasa-penguasa Kristen dan asing. [40] Politik kolonial Belanda sesudah 1850 memang tidak hanya bermotif ekonomi, namun juga perluasan militer, pegawai, politik dan agama. [41] Dalam hal ini, kegiatan zending dan misi turut memperkokoh kekuasaan politik kolonial Belanda.

Desa-desa Muslim menjadi benteng pertahanan yang kokoh untuk menjaga indentitas keislaman warganya dan melawan penyebaran agama Kristen. Dalam suratnya kepada Pengurus Pusat Nederlandsche Zendings Vereeniging pada 15 Desember 1884, J. Verhoeven menulis,

Dengan memperhatikan pengalaman banyak teman, dan karena banyak bergaul di desa-desa kaum Muslimin di daerah pedalaman, saya menjadi yakin bahwa untuk sementara waktu tidak mungkin mengharapkan kaum penganut Kristus dapat tinggal sedesa bersama kaum penganut Muhammad. Belum lama berselang telah dikemukakan suatu contoh yang membuktikan bahwa susunan pemerintah desa serta keseluruhan tatanan hidup perekonomian dalam suatu desa Muslim merupakan suatu benteng pertahanan yang kokoh, yang untuk sementara waktu tak tertaklukkan, melawan penyebaran agama Kristen. Olehnya juga ditimbulkan keadaan yang menyebabkan setiap individu yang telah masuk Kristen hampir tidak mungkin tetap setia dan mencapai pertumbuhan rohani yang membuat kita dapat menyaksikan kehidupan jemaat yang sehat dan kuat. [42]

Untuk menyelamatkan jemaat Kristen dari pengaruh Islam, sekaligus sebagai basis gerakan Kristenisasi, maka didirikanlah desa-desa Kristen. Beberapa desa Kristen di Jawa antara lain adalah Mojowarno di Jombang, Pangharepan di Sukabumi, Cideres di Majalengka, dan Palalongan di dataran Cihea di Priangan. Sebagaimana desa kaum Muslim yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap identitas keislaman warganya, desa Kristen juga diharapkan bisa berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap identitas kekristenan warganya. Mengenai harapannya di Mojowarno, A. Kruyt mengatakan,

Maka kami berikhtiar untuk di Mojowarno membentuk jemaat inti yang sungguh sehat. Melalui inti ini, kami berupaya untuk mempengaruhi masyarakat Islam di sekitar kita, seperti halnya ragi meragi tepung terigu tiga sukat. Apabila waktu yang ditetapkan Allah sudah tiba, maka orang banyak, bahkan para pembesar pun, akan datang kepada Tuhan, lalu pulau Jawa ini akan memasuki masa yang serba indah dan serba gemilang. [43]

Sementara itu, J. Verhoeven menjelaskan alasan keinginannya mendirikan desa Kristen sebagai berikut:

1. Agar orang-orang yang sudah dibawa masuk ke dalam jemaat dapat tetap menjadi anggota, dengan melepaskan mereka dari ikatan yang menghimpit mereka jika terpaksa tetap menjadi warga desa Muslim, dan memindahkan mereka ke dalam lingkungan dimana Roh Kudus dapat berkuasa untuk menyegarkan hati sanubari, keluarga, serta lingkungan mereka.

2. Agar kaum Kristen bumiputra tidak lagi harus tunduk kepada pemerintahan desa yang antara lain beranggotakan tokoh-tokoh yang harus kita pandang sebagai musuh wajar orang-orang Kristen, dan juga agar mereka akan dapat menjauhi oknum-oknum yang keberadaannya merusak bagi kaum muda dan kaum tua pula.

3. Agar mereka dapat sungguh-sungguh tumbuh sebagai jemaat; agar dapat diadakan pengaruh yang baik terhadap pendidikan anak-anak warga jemaat, dan agar dengan demikian kaum muda dan kaum dewasa dapat bertumbuh dalam takwa terhadap Tuhan.

4. Agar dalam melakukan usaha pertanian dan usaha pencarian halal lainnya, dapat diusahakan kerja sama dan jiwa gotong royong yang diperlukan, agar tangan-tangan yang rajin dapat menghasilkan lebih daripada hanya kebutuhan yang paling pokok saja, serta juga agar lama-lama jemaat ini dapat berswadaya dalam memenuhi segala kebutuhannya, termasuk alat-alat dan barang keperluan sekolah, yang kini masih menjadi tanggungan utusan Injil atau perhimpunan yang mengutusnya, ataupun sama sekali tidak dapat diperolehnya.

5. Agar kami (para zendeling) dapat menunjukkan dengan lebih tegas kepada kaum Muslim di sekitar kami –kami sungguh-sungguh ingin hidup dalam kedamaian dan kerukunan dengan mereka—bahwa kaum Kristen merupakan sahabat-sahabat mereka, dan bahwa agama Kristen menginginkan kesejahteraan sejati untuk semua bangsa

6. Agar Zending Injili paling sedikit mengupayakan, agar dalam lingkungan desa-desa Kristen disediakan lapangan, dimana pihak pemerintah dengan berangsur-angsur akan dapat melaksanakan “pembaruan-pembaruan” yang dibutuhkan oleh kaum bumiputra Kristen kami, yang dikehendaki pemerintah, namun dianggap “belum sampai masanya”. [44]

Masalah identitas merupakan masalah penting. Identitas menjadi faktor pemersatu. Selama Islam masih menjadi identitas penduduk pribumi, sulit untuk mengharapkan mereka masuk Kristen. Agaknya hal ini disadari oleh sebagian misionaris maupun zendeling. Oleh karena itu, mereka tidak hanya mendirikan desa-desa Kristen, namun juga berusaha memisahkan identitas keislaman dari penduduk pribumi. Strategi ini terutama dilakukan di Jawa pada abad XX, seperti yang akan dibicarakan nanti. (Bersambung)

Catatan Kaki

26. Th. Muller Kruger, Sedjarah Geredja di Indonesia, (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1959), hlm. 25. Lihat juga Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan, hlm. 44.

27. Th. Muller Kruger, Sedjarah Geredja di Indonesia, hlm. 31.

28. Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan, hlm 49–50.

29. C. Guillot, Kiai Sadrach; Riwayat Kristenisasi di Jawa, (Jakarta: Grafiti, 1985), hlm. 4-5.

30. Alwi Shihab, Membendung Arus; Respons Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 33.

31. Ibid, hlm. 35.

32. Jane I. Smith, “Christian Missionary Views of Islam in The Nineteenth and Twentieth Centuries”, dalam Islam and Christian-Muslim Relations, Volume 9, Number 3 (Oktober 1998), hlm. 357.

33. Alwi Shihab, Membendung Arus, hlm. 39–40. Lihat juga H. Berkhof, Sedjarah Geredja, Jilid II, hlm. 160

34. Stephen Neill, Colonialism and Christian Missions, hlm. 188.

35. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942, (Jakarta: LP3ES, 1996), hlm.9–10.

36. Th. van den End, Sumber-Sumber Zending Tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858–1963, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 100.

37. Th. van den End, Ragi Carita 2; Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an–Sekarang, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hlm. 223.

38. Th. van den End, Sumber-Sumber Zending, hlm. 100.

39. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam., hlm. 8.

40. Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit; Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), hlm. 32.

41. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional; Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme, Jilid II, (Jakarta: Gramedia, 1999), hlm. 5.

42. Th. van den End, Sumber-Sumber Zending, hlm.219.

43.Th. van den End, Ragi Carita 2, hlm.250.

44. Th. van den End, Sumber-Sumber Zending, hlm.221–222.

Sumber :Eramuslim.com

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

38 comments

  1. Dan yang paling kacau adalah agama yang tuhannya adalah 100% manusia dan 100% juga tuhan.

  2. Anak Domba=Anak Manusia=Anak Allah=Allah itu sendiri, ini apalagi……suangat kacau !!!

  3. sok benar ‘n Sok Suci.. itulah yg mereka anggap benar..

    membunuh aja ga dosa, anggap agama lain kafir..
    koq masih mnyalahkan ‘Sopir’..

    smua harusnya Berkaca.

    • gak perlu debat hal2 yang gak penting tuk dibahas,,org jahat bukan karena agamax but karena orangx aja yang jahat,,jangan suka menghakimi orang lain karena belum tentu diri kita lebih baik dari orang lain..!! kamu islam ya jalani aja perintah agama kamu,begitupun dengan agama lain..!!! agama apapun pasti mengajarkan kebaikan,,harusnya baca sejarah lebih dalam lagi deh tentang agama pertama di tanah air. kan,sebenarnya agama yang ada di tanah air adalah hindu dan budha. islam blakangan lalu di ikuti oleh kristen..!! kalau ada islam menghina Yesus itu sama saja menghina nabi mereka sendiri Yesus kan Isa almasih,,Yahudi,Kristen, dan islam kan agama Abrahamik

  4. Menurut kalian apakah agama Katolik itu baik? Bagi mata orang yang beragama lain?

  5. agama ku, agama ku, agama mu,agama mu..

    Fenomena di Amerika sangat menarik. Sangat tidak masuk di akal pemerintah George Bush dan tokoh-tokoh Amerika, dimana masyarakat Amerika berbondong-bondong masuk Islam justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 yang dikenal dengan 9/11. Padahal awalnya sangat memburukkan citra Islam itu. Dan memang terbukti bahwa pasca 9/11 adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah pemboman itu. Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya.

    Atas fakta inilah, ditambah dengan gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa dan beberapa negara lain, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya. The Population Reference Bureau USA Today sendiri menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group.” Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan: “Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,” kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times.

    Shalat berjamaah di depan Gedung Putih – Washington DC

    Atas daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak menulis buku-buku tentang Islam di Amerika.

    Konferensi itu sendiri merupakan seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu, jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas dominan di negara super power itu.

    Dari banyak wawancara yang dilakukan televisi Amerika, Eropa maupun Timur Tengah terhadap mereka yang masuk Islam atau video-video blog yang banyak menjelaskan motivasi para new converters ini masuk Islam, menggambarkan konfigurasi latar belakang yang beragam. yaitu:

    Pertama, kejenuhan hidup yang hanya money, music and fan. Sehingga hati terus gelisah, merasa hampa, hidup tidak terarah dan tidak pernah bahagia. Namun ketika mengenal Islam baik dari Al-Qur`an, buku atau teman yang Muslim, maka hidup mereka menjadi lebih tenang dan bahagia.

    Kedua, merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya dalam agama sebelumnya yaitu Kristen. Dalam Islam mereka merasakan hubungan dengan Tuhan itu langsung dan dekat. Beberapa orang Kristen taat bahkan mereka sebagai church priest mengaku seperti itu ketika diwawancarai televisi. Allison dari North Caroline dan Barbara Cartabuka, seorang diantara 6,5 juta orang Amerika yang masuk Islam pasca 9/11, seperti diberitakan oleh Veronica De La Cruz dalam CNN Headline News, Allison mengaku “Islam is much more about peace.” Sedangkan Barbara tidak pernah merasakan kedamaian selama menganut Katolik Roma seperti kini dirasakannya setelah menjadi Muslim.

    Demikian juga yang dirasakan oleh Mr. Idris Taufik, mantan pendeta Katolik di London, ketika diwawancara televisi Al-Jazira. Mantan pendeta ini melihat dan merasakan ketenangan batin dalam Islam yang tidak pernah dirasakan sebelumnya ketika ia menjadi mendeta di London. Ia masuk Islam setelah melancong ke Mesir. Ia kaget melihat orang-orang Islam tidak seperti yang diberitakan di televisi-televisi Barat. Ia mengaku, sebelumnya hanya mengetahui Islam dari media. Ia sering meneteskan air mata ketika menyaksikan kaum Muslim shalat dan kini ia merasakan kebahagiaan setelah menjadi Muslim di London.

    Ketiga, menemukan kebenaran yang dicarinya. Beberapa konverter mengakui konsep-konsep ajaran Islam lebih rasional atau lebih masuk akal seperti tentang keesaan Tuhan, kemurnian kitab suci, kebangkitan (resurrection) dan penghapusan dosa (salvation) ketimbang dalam Kristen. Banyak dari masyarakat Amerika memandang Kristen sebagai agama yang konservatif dalam doktrin-doktrinnya. Eric seorang pemain Cricket di Texas, kota kelahiran George Bush, berkesimpulan seperti itu dan memilih Islam. Sebagai pemain cricket Muslim, ia sering shalat di pinggir lapang. Di Kristen, katanya, sembahyang harus selalu ke Gereja.

    Seorang konverter lain memberikan kesaksiannya yang bangga menjadi Muslim. Ia menjelaskan telah berpuluh tahun menganut Katolik Roma dan Kristen Evangelik. Dia mengaku menemukan kelemahan-kelemahan doktrin Kristen setelah menyaksikan debat terbuka tentang “Is Jesus God?” (Apakah Yesus itu Tuhan?) antara Ahmad Deedat, seorang tokoh Islam dari Afrika Selatan dan seorang teolog Kristen. Argumen-argumen Dedaat dalam diskusi menurutnya jauh lebih jelas, kuat dan memuaskan ketimbang teolog Kristen itu. Menariknya, misi awalnya ia menonton debat agama itu justru untuk mengetahui Islam karena ia bertekad akan menyebarkan gospel ke masyarakat-masyarakat Muslim. Yang terjadi sebaliknya, ia malah menemukan keunggulan doktrin Islam dalam berbagai aspeknya dibandingkan Kristen. Angela Collin, seorang artis California yang terkenal karena filmnya Leguna Beach dan kini menjadi Director of Islamic School, ketika diwawancarai oleh televisi NBC News tentang mengapa ia masuk Islam, ia mengungkapkan: “I was seeking the truth and I’ve found it in Islam. Now I have this belief and I love this belief,” katanya bangga.

    Lalu, banyak kaum perempuan Amerika Muslim berkesimpulan ternyata Islam sangat melindungi dan menghargai perempuan. Dengan kata lain, perempuan dalam Islam dimuliakan dan posisinya sangat dihormati. Walaupun mereka tidak setuju dengan poligami, mereka melihat posisi perempuan sangat dihormati dalam Islam daripada dalam peradaban Barat modern. Seorang convert perempuan Amerika bernama Tania, merasa hidupnya kacau dan tidak terarah jutsru dalam kebebasannya di Amerika. Ia bisa melakukan apa saja yang dia mau untuk kesenangan, tapi ia rasakan malah merugikan dan merendahkan perempuan. Setelah mempelajari Islam, awalnya merasa minder. Setelah tahu bagaimana Islam memperlakukan perempuan, ia malah berkata “Women in Islam is so honored. This is a nice religion not for people like me!” katanya. Dia masuk Islam setelah mempelajarinya beberapa bulan dari teman Muslimnya.

Tinggalkan Balasan