Sabtu , 25 Oktober 2014
INFO
Home / ISLAM / Renungan / Debat Lintas Agama, Apakah Perlu?

Debat Lintas Agama, Apakah Perlu?

Oleh : Arda Chandra

Beberapa tahun lalu saya membeli kitab tafsir Al-Mishbah karya ustadz ahli tafsir Quraish Shihab, lengkap 15 jilid. Maksudnya tentu untuk dibaca, dipahami isinya, agar pengetahuan agama Islam yang saya miliki bisa lebih mendalam, agar kualitas keimanan saya bisa lebih hebat. Ketika saya mulai membaca dari jilid 1, mulai dari surat Al-Fatihah, hasilnya cuma mengantuk dan bosan. Kalau waktu itu anda ada disamping saya lalu menyuruh untuk mengulangi apa yang dibaca, kemungkian besar anda akan berhadapan dengan muka yang bengong, karena saya sendiri bingung mau menjelaskan apa. Kurang dari 10 halaman tafsir tentang Al-Fatihah tersebut, mungkin hanya 10 persen yang masuk ke otak. Alhasil diwaktu berikutnya, kitab tafsir Al-Mishbah yang sudah dibeli dengan mahal hanya menjadi pajangan di rak buku, berdebu karena lama tidak disentuh. Tahukah anda kapan akhirnya saya kembali membolak-balik kitab tersebut dan sampai sekarang tidak pernah berhenti membacanya..? 15 jilid tafsir Al-Mishbah sekarang ini ada disamping komputer, sering dibaca dan dibolak-balik mencari ayat-ayat tertentu. Bukan cuma itu, saya bahkan menambahnya dengan serangkaian kitab tafsir yang lain, ada tafsir Ibnu Katsir, tafsir Fi Zilali Qur’an karangan Sayyid Qutb, tafsir Jalalain, ditambah buku-buku Islam lain yang membahas soal hadits, sejarah Islam, Shirat Nabawiyah bahkan kamus bahasa Arab


‘Kegilaan’ ini dimulai ketika saya terpancing terjun terlibat dalam debat di forum-forum lintas agama yang banyak tersedia di internet. Awal mulanya hanya karena emosi disaat secara kebetulan saya iseng-iseng membaca-baca debat yang ada. Sebelumnya saya tidak begitu tertarik, alasannya karena ‘takut terpengaruh’ dan bisa menjadi murtad membaca argumentasi dari non-Muslim yang kelihatannya sudah terlatih mempelajari agama Islam di gereja mereka, mungkin materi pelajaran ‘memelintir ayat Al-Qur’an’ sudah menjadi kurikulum wajib di seminari-seminari sehingga pemahaman dan referensi mereka jauh lebih lengkap dibandingkan pengetahuan saya terhadap ajaran agama sendiri. Sekalipun saya tergolong Muslim ‘asal-asalan’ dengan pemahaman agama yang ‘ala kadarnya’, namun hati tidak rela membaca tulisan non-Muslim yang secara sembarangan menghina Allah, nabi Muhammad, ajaran Islam, Al-Qur’an dan hadits.

Banyak dari tulisan yang saya baca telah memperlakukan ajaran islam secara tidak adil, memfitnah dan dari sudut pandang pengetahuan agama saya yang sangat kurang, jelas merupakan pelintiran. Belum lagi hujatan dan caci-maki yang menghina Allah serta nabi Muhammad dengan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal, sampai saya membathin sendiri :”Kalau apa yang dituduhkan mereka tersebut memang benar, pasti saat ini ajaran Islam sudah lenyap karena ditinggalkan orang. Sebusuk-busuknya manusia, mereka tidak mungkin mengikuti suatu ajaran yang dituduh menyuruh memancung leher musuh dimanapun ditemui, menyiksa wanita, menghalalkan berbohong dan menipu, dst..”, mana ada yang mau mengikuti ajaran seperti itu..? bahkan bandit yang paling keji-pun mikir-mikir mau jadi pengikutnya. Faktanya, bahkan gelombang manusia yang beralih memeluk Islam justru datang dari kalangan intelektual yang berpendidikan di Eropah dan Amerika, kebanyakan bukan melalui paksaan ataupun motivasi duniawi, tapi karena mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an, hadits dan nilai-nilai Islam yang dipraktekkan oleh pemeluk-pemeluknya.

Berdasarkan pengamatan, ajaran Islam memang menghasilkan pemeluk yang unik. Seorang Muslim bisa saja merupakan pengikut yang ‘payah’, mengaku beragama Islam tapi rajin berbuat maksiat, jarang shalat dan puasa, namun begitu mendengar Islam dihina dan diserang orang, mereka tidak berpikir panjang mau mengorbankan nyawa untuk membelanya. Kita ingat dulu saat lagi panas-panasnya tragedi di Bosnia Herzegovina, ketika berita dan gambar-gambar penyiksaan umat Islam disana menyebar ke seluruh dunia sehingga membangkitkan kemarahan umat Islam, lalu muncul gerakan-gerakan untuk menerima pendaftaran pengiriman relawan mujahid ke wilayah tersebut. Salah seorang teman yang saya tahu berkategori ‘preman pasar’, tukang mabok dan jarang terlihat melakukan shalat, langsung ikut mendaftarkan diri. Ketika ditanya, dia menjawab :”Saya ini memang bajingan dan bukan orang baik-baik, tapi kalau Islam dihina dan diserang, saya tidak terima..”.

Lebih-kurang begitulah ‘kondisi psikologis’ saya ketika mulai terjun dalam forum debat lintas agama. Dengan modal pengetahuan agama yang sangat minim, boleh dikata hanya tahu bacaan Al-Fatihah dan beberapa surat pendek ‘triqul’ – Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, berusaha ikut menyanggah tuduhan-tuduhan yang saya nilai tidak benar dan tidak adil terhadap Islam. Serangan dan jawaban balik lalu memaksa saya untuk akhirnya membolak-balik kitab tafsir, mencari-cari ayat yang dipermasalahkan, bagaimana pendapat para ulama, dimana letak melencengnya tuduhan, lalu berusaha memperkaya referensi dari sumber hadits, dilihat derajatnya apakah shahih atau tidak, bahkan mendalami kosakatanya dengan membuka kamus Arab. Istilahnya melakukan apologi iman. Secara perlahan pemahaman saya bertambah sejalan dengan makin intensnya bergiat dalam forum debat lintas agama tersebut.

Disisi lain, saya yang dulunya sama sekali tidak mengenal kitab suci agama lain menjadi terdorong untuk mulai membaca-baca sebagai bahan perbandingan. Ini dilakukan karena biasanya selain melakukan serangan terhadap ajaran Islam, pihak non-Muslim tidak lupa melakukan ‘jualan obat’ tentang kehebatan ajaran agama mereka, dan sesuai karakter orang jualan obat, berlaku prinsip memperlihatkan bagian yang indah, menutup bagian yang jeleknya. Pengalaman selanjutnya memang memunculkan hal positif bagi diri sendiri. Banyak pertanyaan logis yang disampaikan terkait kitab suci agama lain menjadi sesuatu yang tidak berjawab sampai sekarang, kalaupun ada jawaban biasanya disertai ‘mata yang membelalak’ dan seolah-olah mengatakan :”Ente sudah mengerti khan..??”.

Berdebat dalam soal perbandingan agama sebenarnya tidak ada urusannya dengan keimanan. Jangan sampai berpikiran bahwa pihak yang merasa memenangkan perdebatan otomatis akan beranggapan lawan yang ‘mati kutu’ akan terpengaruh dan keimanannya menjadi goyah, lalu pindah agama. Allah sendiri menyatakan :

Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (An-Nisa 88)

Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? (Az-Zumar 37)

Kesesatan dan petunjuk semata-mata menjadi urusan Allah. Anda mungkin saja akan terpengaruh dengan argumentasi lawan debat, lalu linglung dan bahkan murtad. Kalau didalami baik-baik semuanya pasti ada penyebabnya, bahwa dalam diri anda sudah ada bibit-bibit untuk menjadi sesat, bisa jadi karena kesombongan, atau juga ada prasangka buruk kepada Allah. Sebaliknya mungkin juga pihak lawan ada yang terpengaruh lalu menjadi mualaf karena debat. jangan sampai punya pikiran bahwa keimanan yang muncul dalam qalbunya gara-gara ‘kehebatan’ argumentasi anda. Itu disebabkan karena dalam dirinya memang sudah ada bibit-bibit kebaikan, rasa ingin tahu, kejujuran untuk menyelamatkan diri, tidak ingin tersesat, lalu Allah menyelamatkannya dengan memberikan hidayah.

Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan debat atau diskusi lintas agama..

Masalahnya muncul ketika ragam debat yang tersedia menyajikan ‘menu yang bervariasi’, ada ‘full’ caci-maki, pakai gaya ‘bolotisme’ – mengulang-ulang permasalahan dan pertanyaan yang sudah dijawab lawan, lalu adu stamina untuk saling ngotot siapa yang bakalan memberikan ‘pukulan terakhir’, forum yang lain bisa sedikit menahan diri dengan menyampaikan pertanyaan santun berdasarkan sumber referensi yang jelas dan lengkap, termasuk hasil analisa ‘ala’ orang kafir.

Secara garis besar terdapat beberapa kategori pihak non-Muslim yang terlibat dalam diskusi dengan pihak Islam :

1. Melulu berusaha mengajak lawan agar bisa menerima kebenaran ajaran mereka. Biasanya karakter pendebat seperti ini tidak begitu menggubris soal ayat-ayat Al-Qur’an, hadist atau juga sejarah Islam, mereka rajin mengutip ayat-ayat kitab sucinya yang berisi ajakan kepada kebaikan, sekalipun secara tidak langsung ada juga yang isinya membantah dan menolak materi yang ada dalam Islam, misalnya soal kebaikan hidup dengan perkawinan monogami, pasti akan mengkoreksi konsep poligami.

Untuk kategori ini, kita sebaiknya tidak perlu ‘mengadakan perlawanan’. Hormati hak orang lain untuk berdakwah. Ataupun kalau mau menanggapi, ajukan pertanyaan untuk memperdalam apa yang dilontarkannya, tanyakan dalil-dalilnya lalu sampaikan argumentasi logis tentang kaitan-kaitannya. Kalau anda menemukan adanya ayat-ayat dalam kitab sucinya yang bertolak-belakang dengan apa yang disampaikan, tanyakan kontradiksinya, dan biarkan dia menjelaskan sendiri argumentasinya selogis yang dia mampu.

2. Kategori pendebat berikut adalah orang-orang yang sering mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits ataupun sumber ajaran Islam lain, dengan tujuan untuk ‘membongkar kesesatannya’. Termasuk dalam kategori ini adalah hujatan kepada Rasulullah, tentang pernikahan beliau, kepemimpinan yang dianggap kejam dan suka berperang, sampai peristiwa wafatnya Rasulullah juga bakalan diungkit-ungkit. Materinya sebenarnya sudah banyak yang usang dan penjelasan yang lengkap dari umat islam sudah banyak juga disampaikan, namun dipastikan pertanyaan dengan gaya ini akan selalu muncul.

Untuk yang beginian, anda bisa menjadikan mereka sebagai ‘sparring partner’, perlu dipelihara karena dengan keaktifan merekalah anda bisa membolak-balik Al-Qur’an dan kitab tafsir, googling di internet mencari materi jawaban, mendalami kosakata bahasa Arab, membongkar-bongkar kitab hadits. Mereka bisa berfungsi sebagai ‘minyak’ yang membakar api semangat anda untuk makin intens mendalami ajaran islam.

Beberapa aktivis debat saya perhatikan melengkapi tanggapan mereka dengan mengajukan pertanyaan balik dengan thema yang sama, misalnya ketika pihak Muslim ditanya :”Mengapa dalam ajaran agama anda dikatakan Allah menyesatkan manusia..?”, lalu setelah dijelaskan maka diajukan pertanyaan balik ;”Memangnya dalam agama anda Tuhan tidak menyesatkan manusia..?”, dan kemudian disampaikan kutipan ayat-ayat dalam kitab suci mereka yang mengindikasikan hal tersebut. bagi saya hal ini bisa saja dipraktekkan, namun sebenarnya tidak begitu bermanfaat buat pemahaman kita terhadap ajaran agama kita sendiri.

3. Ada lagi karakter pendebat non-Muslim, yaitu ‘mencatut’ ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist dengan tujuan untuk membenarkan klaim-klaim yang ada dalam ajaran agama mereka, biasanya ini khusus dilakukan oleh kaum Kristen karena banyak isi ajaran dari Islam dan Kristen yang bersinggungan. Cara yang dilakukan adalah dengan memotong-motong ayat, menyambung-nyambungnya agar sesuai dengan pernyataan kitab sucinya tentang hal tertentu. Contoh yang paling sering adalah mengutip surat al-Faatihah ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus’, lalu dicantelkan kepada ayat alkitab ‘Yesus berkata akulah jalan menuju Bapa’. Atau pernyataan Al-Qur’an yang menyebut Isa Almasih adalah ‘kaalimah’ dari Allah, dikaitkan dengan konsep ‘Yesus adalah firman yang menjelma menjadi manusia’.

Untuk meladeni karakter model ini, maka selain kita harus rajin membuka-buka Al-Qur’an dan hadist, mencari dan melengkapi ayat-ayatnya supaya bisa diungkapkan isi yang sebenarnya, dilihat konteksnya, dilihat ayat-lain yang menjelaskannya, juga sedikit banyak harus mempelajari ayat-ayat yang ada dalam alkitab juga dengan tujuan sama, melihat ayatnya secara utuh sehingga bisa diungkap apa tujuan dari pernyataan-pernyataannya, karena kelakuan Kristen memotong dan menyambung ayat Al-Qur’an dan hadits sering juga dilakukan mereka untuk ayat alkitab mereka sendiri.

Yang harus ditanamkan dalam pikiran kita ketika memulai debat lintas agama adalah :

1. Jangan sampai terlalu berambisi untuk membuat lawan debat mengerti dan mengakui pendapat anda, apalagi bermimpi untuk meng-Islamkan kafir. Sering para pendebat sudah mematok sikap :”Pokoknya tidak paham..”, sebelum mereka terjun dalam suatu perdebatan. yang penting buat anda adalah : ambil pointnya, lalu dalami materi dan referensinya UNTUK MENAMBAH PEMAHAMAN BAGI DIRI SENDIRI. Banyak kalangan umat Islam sendiri yang alergi dengan debat seperti ini, mereka biasanya mengatakan :”Tidak ada gunanya, urusan keimanan adalah urusan masing-masing, tidak perlu mengobok-obok ajaran agama lain..”, namun pada sisi lain mereka juga tidak mau mendalami ajaran agama mereka sendiri, yang penting hidup damai dan tidak saling mengganggu. Perdebatan antar agama adalah suatu keniscayaan, tidak diladenipun pertanyaan dan gugatan akan selalu dilontarkan orang, begitu yang terjadi sejak dahulu kala sejak jaman Rasulullah. Dijaman sekarang ini, materi debat akan langsung masuk sampai keruangan rumah melalui internet, mau diabaikanpun bakalan tetap terbaca. Maka diperlukan sebagian umat yang mau mengimbangi arus informasi tersebut, menyediakan jawaban-jawaban untuk menjelaskan ajaran agama mereka yang dipertanyakan pihak lain.

2. Jangan terpancing ketika lawan debat mengeluarkan kata-kata tidak pantas, misalnya dengan kalimat penghinaan kepada Allah dan Rasulullah, anda lalu balas mencaci-maki Tuhan mereka. Allah dan Rasul-Nya tidak akan menjadi hina karena dihina, namun anda bisa menjadi hina karena hinaan yang keluar dari mulut anda sendiri, itu berlaku bagi semua pihak. maka biarkan saja mereka melakukan hujatan untuk mempertontonkan kebusukan yang ada dalam diri mereka, anda jangan ikut-ikutan. Sekali lagi : ambil pointnya..!!. Misalnya pihak lawan melontarkan soal pernikahan Rasulullah dengan Aisyah, tidak lupa hujatan soal pedofilia, atau gambaran surga yang dipenuhi bidadari lalu dituduh merupakan iming-iming seksual. Fokuslah kepada dalil dan sumber yang mereka kutip, jangan kepada ‘bumbu-bumbu penyedapnya’ berupa penilaian pribadi yang dilontarkan dengan kata-kata kotor. Itulah yang harus didalami sehingga melalui hujatan tersebut, anda malah ‘terbakar’ untuk memahami lebih dalam apa yang dipermasalahkan.

3. Selalu konsisten untuk mengajukan referensi dan argumentasi logis yang akan memperkaya wawasan semua pihak yang membacanya. Dalam debat yang dilakukan di internet, jawaban-jawaban kedua belah pihak tidak hanya dibaca oleh berdua saja. Sebenarnya terdapat ratusan bahkan ribuan ‘silent readers’, yaitu mereka yang ‘mengintip dalam diam’, mengikuti debat seru dan berusaha mencerna setiap argument apakah logis atau tidak, mengecheck referensi yang diberikan apakah palsu atau tidak, kuat atau lemah, lalu membuat kesimpulan sendiri. Tanamkan dalam pikiran, ketika anda mengetik setiap kata dan kalimat untuk menjawab lawan debat, tujukanlah jawaban tersebut kepada ribuan ‘silent readers’ ini, merekalah yang sebenarnya membutuhkan jawabannya, bukan lawan debat anda. Nilai dakwah dalam Islam adalah berdasarkan proses, bukan hasil. Allah sendiri menyatakan : Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran 20). ‘Argo’ pahala anda sudah jalan ketika jari mulai mengetik, tangan mulai menulis kalimat, terlepas apakah pihak lain mau menerimanya atau tidak, soal hasil bukan urusan anda, itu adalah urusan Allah.

4. Maka debat yang paling efektif adalah ketika dilakukan secara tertulis di internet, dan dilakukan secara terbuka. Kalau anda hanya melakukannya ‘face to face’ dan tidak bisa diikuti oleh orang banyak, maka bisa jadi tindakan anda untuk berdakwah hanyalah sia-sia, karena hanya akan ‘ditelan’ oleh lawan yang memang sudah mematok dirinya untuk tidak mau mengerti. Debat dengan cara ini juga membuka kesempatan kita untuk mengecheck setiap materi yang diajukan apakah benar atau salah, merenungkan dan memikirkan panjang, memperkaya dan menyempurnakan tanpa dibatasi waktu. Kecil kemungkinan melakukan ‘silat lidah’ dan usaha untuk mengintimidasi lawan seperti yang sering terjadi dalam debat langsung.

5. Jangan merasa ‘minder’ dengan pengetetahuan yang terbatas dalam soal agama Islam. Percayalah.., ajaran Islam itu sangat sempurna, jalinan doktrin antara satu dengan yang lain merupakan sesuatu yang masuk akal dan logis. Anda tidak perlu menjadi jenius ketika menjelaskan soal Allah yang Maha Esa, atau keberadaan surga dan neraka. Ibarat menjual produk, yang anda jual adalah produk berkualitas, bendanya sendiri sudah ‘self explanatory’, menjelaskan kehebatannya sendiri. Tidak perlu menjadi saleman handal untuk memasarkan suatu produk berkualitas, apalagi harus melakukan ‘make-up’ untuk menutupi bagian yang cacat, lalu berimprovisasi dengan berbusa-busa menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak terkandung didalamnya. Anda hanya tinggal mendalami, lalu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an terkait pertanyaan yang relevan, mendukungnya dengan hadits-hadits dan pendapat para ulama.

Jadi kalau anda bertanya :”Apakah debat lintas agama perlu atau tidak..?”, saya jawab dengan pasti :”Perlu…”.

About MUSLIM

Loading Facebook Comments ...

90 comments

  1. teon53gw

    akubywrm

    insurance

    p5x3dxkh

    y7fkt6ak

  2. @ Sulhandayani :
    Walah2, ktemu wong Jowo rek !
    Mbak yg namanya HAM = Hak Azasi Manusia ; ada di mana2 termasuk di indonesia .
    Bacalah kisah teteh Dewi Kanti dari Sunda =wong Indonesia ;
    Yang HAM nya-” agama Sunda Wiwitan ” di langgar oleh orang2 shariah ; Shariah itu – ajarannya wong WAHHABI;
    Wahhabi itu wong warga ARAB – pencipta shariah dari timur tengah.( Kalao “anti lam fahm”= anda belum tahu.- bhs Indonesia nya.)- Sekrg anda dah tahu kan ? Jadi jangan pura2 ngga tahu yaa.

    Bacalah al baqoroh ayt 62 ; Wong Indonesia itu termasuk kaum SHABIIN; setara dg Yahudi , Nasrani dan ARAB; Gitu lho mbak.!
    Shariah itu dari luar negeri , jadi bukan keharusan kita-( yg dipaksakan).
    Kalo kita2 punya filsafat sendiri ya di hargai dan di pakai kan ?
    Tapi oleh orang2 Indonesia yg mualaf, yg suka Wahhabi , nggak boleh dipakai, karena akan menyaingi DAGANGAN filsafat mereka; Takut rugi, omzetnya turun.- Gitu lho mbak !
    Tahu nggak apa dagangan mereka ?
    Plis nanjak’o , ntar tak kasi tau . he he.
    Jan 21 2014.
    bersambung.

  3. yeyer4om

    qmgfvi8l

    insurance

    zj6d95oq

    tu9tph1k

  4. “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi org yg meninggalkan debat meskipun dia berada dlm pihak yg benar. Dan aku menjamin sbuah rumah di tengah surga bagi orang yg meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi org yg membaguskan akhlak nya.” (HR. Abu Dawud)

  5. Mohon maaf belum terbaca semuanya karena terlalu panjang dan sedikit bukti ayat yang direfrensikannya sehingga lebih banyak pemikiran manusia nantinya dibanding pemikiran Quran itu sendiri.

    Sehingga di akhir dari artikel ini langsung terlihat anda mengunggulkan ajaran agama Islam bukan ajaran ALLAH. saat anda mengatakan ajaran Islam sempurna maka silahkan baca kembali dengan teliti Quran yang anda miliki bahwa banyak ajaran Islam tidak selaras dengan ajaran Quran itu sendiri.

    Contoh kasus, ini adalah ajaran Islam bukan ajaran ALLAH yaitu TAKDIR, agama Islam telah memutuskan bahwa takdir dibagi 2 dan bahkan ada 4 tingkatan. namun kesimpulan dari agama Islam adalah takdir itu berarti segala sesuatu telah di tetapkan oleh ALLAH.

    namun silahkan baca QS 1:1,3; 4:40,79; 35:11; 11:108; 7:20; 4:122; 15:36-38; 30:41

    maka jika anda memiliki pemahaman (QS 2:269) maka dari ayat-ayat tadi anda dapat merangkai kebenaran yang sesungguhnya bahwa ALLAH itu Maha Pengasih dan tidak menetapkan segala sesuatunya. Namun ALLAH memberikan banyak sarana dan petunjuk kepada manusia agar dapat hidup selama-lamanya menemani ALLAH.

    TAKDIR adalah ajaran Islam dan tidak sempurna malah memfitnah ALLAH yang Maha Pengasih.

    Yang sempurna adalah ajaran ALLAH yang tertulis (QS 96:4) karena apa yang tertulis dapat diperiksa benar atau salahnya (QS 4:82) sehingga semua orang yang membacanya tidak akan tertipu. Karena kesuksesan harta duniawi tidak bisa menjadi tolak ukur kebenaran (QS 35:5)

    • @ JC:
      Anda menggunakan Referensi dari Qurán mengenai masalah Ajaran Allah dan Ajaran Islam. Jadi anda berkesimpulan bahwa ajaran Allah itu benar dan ajaran islam itu salah menurut Qurán?

      Begini jika ternyata Allah meridhai ajaran/agama Islam di Qurán apakah anda bisa menarik kata2 bahwa ajaran islam dan ajaran Allah itu bersebrangan atau ajaran islam itu salah? Jika Allah ridha pada ajaran agama tersebut maka tidak mungkin ajaran tersebut bersebrangan dengan ajaranNya dan tidak mungkin ajaran itu salah.

      coba baca ayat2 ini:

      “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” QS. 3:19

      Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi. (Ali ‘Imran ayat 85).

      Wahai Orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. (Ali ‘imran ayat 102)

      Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.( AlMaidah: 3)

      Jadi masih mengatakan ajaran islam bukan dari Allah? ajaran islam dan ajaran Allah bersebrangan?

  6. Menyelidiki kebenaran tidak harus berdebat tetapi dengan kerendahan hati ingin belajar dari berbagai sumber, niscaya Rahmat Allah dicurahkan untuk membuat kita mengerti maksud Sabda-nya

  7. DEBAT MENGENAI AGAMA SANGAT TIDAK PERLU DAN MALAH BISA DIANGGAP SEBAGAI BODOH.KARENA HAL INI MENYANGKUT SOAL KECOCOKAN ATAU SELERA. JUGA KITAB AGAMA HANYA BERLALU UNTUK KALANGAN SENDIRI.TIDAK BERLAKU UNTUK UMUM ATAU MANUSIA BIASA/LAIN.

    • DEBAT MENGENAI AGAMA SANGAT TIDAK PERLU DAN MALAH BISA DIANGGAP SEBAGAI BODOH.KARENA HAL INI MENYANGKUT SOAL KECOCOKAN ATAU SELERA. JUGA KITAB AGAMA HANYA BERLALU UNTUK KALANGAN SENDIRI.TIDAK BERLAKU UNTUK UMUM ATAU MANUSIA BIASA/LAIN.
      ====
      maka dari itu, salah satu tujuan debat n diskusi itu untuk menguji kebenaran sebuah agama, apakah benar2 berasal dari Tuhan Pencipta Alam Semesta, yang berlaku/ditujukan bagi seluruh makhluq dan alam semesta, dengan iman dan akal kita. Jika ini dianggap bodoh, maka itu adalah anggapan yang paling bodoh.

      • MAAF JAWABAN INI LEBIH B ODOH LAGI KARENA SEMUA PENGANUT AGAMA DARI SEMUA AGAMA AKAN NGOTOT BAHWA AGAMANYA YG PALING BAIK DAN BENAR.PADAHAL INI SOAL KECOCOKAN ATAU SELERA.ORANG YG SUKA GADO-GADO TIDAK DAPAT MENGATAKAN PALING ENAK DAN SEHAT KALAU MAKAN GADO-GADO.KETIMBANG M AKANAN LAIN . JUGA AGAMA. YG SENDIRINYA MENGATAKAN HANYA BISA DITERIMA DENGAN HATI ATAU PERASAAN.TIDAK DENGAN OTAK KARENA ITU PARA PEMELUK AGAMA HARUS MENARUH OTAKNYA DI DENGKUL KALAU MAU BERAGAMA.SEKALI LAGI SILAHKAN BERAGAMA MASING-MASING SAMPAI BOSAN SENDIRI .YG PENTING JANGAN MENYEBARKANNYA SEPERTI AGAMA YG PUNYA GOSPEL DAN DAKWAH YG MEMPUNYAI DOKTRIN DAN PRINSIP KOMUNIS BAHWA SEMUA ORANG DI DUNIA MEMELUK AGAMA YG DIPROPAGANDAKAN DENGAN ALASAN DAN CARA BERMACAM-MACAM..

  8. Assalamualaikum admin. Artikelnya bagus. Menurut saya yang perlu dikomentari disini adalah tentang perlu tidaknya debat. Saya lebih setuju istilah debat itu diganti dialog. Karena demikianlah yang dianjurkan. Debat itu sendiri adalah keadaan yang muncul secara alami ketika ada perbedaan. Mohon koreksi jika saya keliru…

  9. KITAB AGAMA TERMASUK QUR’AN, ITU BERLAKU HANYA UNTUK KALANGAN SENDIRI. DAN TIDAK BERLAKU UMUM.

Tinggalkan Balasan