Persoalan perbedaan tentang terdapatnya seorang tokoh yang bernama Haman antara Al-Qur’an dan alkitab bisa kita temukan dalam ayat-ayat ini :
Al-Qur’an :
Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (Al-Qasas: 38)
Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (Ghaafir: 36)
Alkitab :
Ester 3:1 Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda.
Perbedaan yang sangat bertentangan tentang tokoh ini adalah, kalau Al-Qur’an menyatakan Haman merupakan salah seorang pejabat penting di istana Fir’aun, maka Alkitab menyebut tokoh ini merupakan pejabat penting di kerajaan Persia. Perbedaan ini pada mulanya dijadikan ‘bahan ejekan’ oleh pihak Kristen dengan menyatakan Al-Qur’an sudah salah mencatat fakta sejarah karena berbeda dengan alkitab, dengan suatu alasan bahwa alkitab sudah ditulis jauh lebih awal dibandingkan Al-Qur’an, maka yang ditulis belakangan jelas mengandung cacat sejarah dan telah mengalami penyimpangan.
Continue reading →