Oleh : Ibnu Taimiyyah – facebooker, aktivis diskusi masalah Islam dan diskusi lintas agama.
Saat ini kita berada di penghujung peradaban modern, di mana setiap KLAIM KEBENARAN dituntut pembuktiannya secara EMPIRIS, ilmiah dan faktual. HAL ini tidak terkecuali menjadi tantangan tersendiri dalam pembacaan INTERPRETASI AL-QURAN, mengingat ALLOH menantang manusia untuk membuat yang semisal AL-QURAN, mengingat bahwa tantangan ALLOH terhadap manusia melampaui zaman, yang artinya akan selalu menantang tiap-tiap zamannya. Al-Quran sebagai mu’jizat abadi, tidak seperti mu’jizat para nabi sebelumnya, yang lekang oleh waktu, di saat bangsa ARAB merasa bangga dengan SASTRAnya yang tinggi, AL-QURAN mampu menundukkan kesombongan SASTRA ARAB dengan bentuk sastra yang sangat unik, bukan syair, bukan arudh, bukan sajak dll, mudah dihafal, dalam maknanya, memiliki keserasian, tidak berat dalam pengucapan, tinggi rendah selaras, dll. Hal inilah yang menyebabkan kaum Quraish menganggap AL-QURAN adalah SIHIR, hal ini karena mereka sangat menyadari tidak akan ada manusia yang mampu menandingi keunggulan sastranya, plus, nabi MUHAMMAD bukanlah seorang penyair.
Namun, ini adalah zaman di mana MANUSIA MENDEWAKAN SCIENCE…
Apakah mu’jizat Al-Quran terhenti dan mencukupkan diri menjawab zaman JAHILIYYAH KAUM QURAISH SAJA….?. Tentu akan kita jawab, TIDAK, Al-Quran akan selalu mampu menjawab TANTANGAN ZAMANNYA. Namun masalahnya adalah : SCIENCE bersifat evolutif, temporal, tentative, sedangkan apa yang disampaikan AL-QURAN adalah kebenaran MUTLAK AKSIOMATIS yang tentu sangat mungkin, apa yang ditemukan hari ini, belum mampu menggambarkan apa yang AL-QURAN inginkan.
Continue reading →