Agu 03

Jangan Percaya Janji Manisnya

Didalam sloka agama Hindu dikatakan bahwa menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak diketahui bagaimana bentuk dan fisikNya dianggap sukar bagi manusia, maka Krisna menawarkan diri sebagai berhala yaitu bentuk fisik Tuhan yang bisa digambarkan yang menjadi tujuan penyembahan bagi umat Hindu agar mereka bisa berkonsetrasi dengan sebuah gambaran bentuk fisik. Dari sloka tersebut dapat ditangkap bahwa sebelumnya memang sudah ada penyembahan kepada Tuhan yang benar, namun karena dianggap sukar maka pemberhalaanpun terjadi.

Menyembah Tuhan yang tidak diketahui bagaimana wujud dan rupaNya memang sukar. Diriwayatkan dalam sebuah hadist, Ali menerima tantangan Nabi Muhammad untuk sholat dengan khusyuk dengan hadiah sebuah sorban. Namun pada rakaat terakhir ternyata Ali teringat akan hadiah sorban yang akan Rasulullah berikan, akhirnya Ali mengakui bahwa dirinya tidak mampu Khusyuk 100% dalam sholat. Walau sukar, namun Islam tidak pernah terjebak dengan pemberhalaan. Continue reading

Feb 01

Dialog tentang : Tuhan yang menyesal dan umur bumi

dialog ini adalah berasal dari dialog seorang Muslim dengan seorang kristian disebuah Forum diskusi(forum-swaramuslim.net) , seorang muslim yang menggunakan nickname Jones dan Kristian yang bernickname True-Faith

True-Faith menulis :

“Menyesalnya” Allah adalah gaya bahasa yang dipakai Musa untuk menggambarkan perasaan Allah ketika melihat kejahatan manusia.”
penyebab utama dari “penyesalan” Allah pada ayat diatas adalah kejahatan manusia, BUKAN penciptaannya…..bla bla bla.

Jones merespon :

Gen 6:6 wa yinachem yahweh ki ‘asah et ha adam be`aretz wa yite’asseb el libo.
6:7 Wa yo’mer yahweh emacheh et ha adam aser bara`ati me`al panei ha adamah me adam ‘ad behemah ‘ad remes we’ad ‘ouf ha samayim ki nichameti ‘asitim.

nacham (Hebrew) a primitive root; properly, to sigh, i.e. breathe strongly; by implication, to be sorry, i.e. (in a favorable sense) to pity, console or (reflexively) rue; or (unfavorably) to avenge (oneself):–comfort (self), ease (one’s self), repent(-er,-ing, self).

Kebanyakan bible versi Inggris menterjemahkan nacham = to repent, ada juga yang menterjemahkan to be sorry .

v. intr.
To feel remorse, contrition, or self-reproach for what one has done or failed to do; be contrite.
To feel such regret for past conduct as to change one’s mind regarding it: repented of intemperate behavior.
To make a change for the better as a result of remorse or contrition for one’s sins.

v. tr.
To feel regret or self-reproach for: repent one’s sins.
To cause to feel remorse or regret.

http://dictionary.reference.com/browse/repent

Mas TF, berupa apapun dan kepada siapapun penyesalan itu anda alamatkan, tidak mengubah pengertian bahwa oknum yang menyesal tidak tahu apa yang akan terjadi, itu berlawanan dengan sifat Allah Yang Maha Mengetahui.

Pengertian saya, yang dimaksud “menyesalnya” Yahweh oleh para pengarang bible adalah memang para to regret= konotasinya mengakui kesalahan diri sendiri atas perbuatan sendiri menciptakan manusia bukan karena kejahatan manusia,

Dalam bible Tuhan/Yahweh berkali-kali menyesal.
Contoh:
Exo 14 wayinachem yahweh ‘al-ha ra’ah aser diber la-asot le ammo
32:14 Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya

1 sa 15:35 ……… wayhwâ nichām ki-himalika ’et-sa’ul ‘al-yisrael
15:35 ……….. Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel.

jer 15:6 …………nila`ati hinachem
15:6 …………… Aku sudah jemu untuk merasa sesal.
Dll.

Apakah semua penyesalan diatas bukan karena tindakan sediri??

Sorry mas, analogi yang anda pakai tidak tepat, jelas yang membuat sang ibu menyesal adalah ia telah melahirkan seorang anak yang durhaka. Kalau ia tidak melahirkan anak itu ia tidak akan pernah didurhakai.
Andaikata sang ibu mengucapkan tulah, siapakah yang akan ditulahi sang ibu: anak yang dilahirkannya atau sifat durhaka anak itu???

Saya kira ada baiknya anda mengikuti pandangan rekan seiman anda tentang “penyesalan Tuhan” dan apa yang disesali.

The King James English translation uses archaic English that didn’t have the same meaning 400 years ago as it does now. So, the archaic translations indicating that God “repented” really indicated that God was sorry or “changed His mind.”
http://www.godandscience.org/apologetics/does_god_repent.html

“Repent” simply means to change one’s mind or to change one’s course of action.
http://wiki.answers.com/Q/Does_God_repent

it means that he regretted making man.
We find, in just about every book of the Bible, that repentance is a change of heart.
http://www.relijournal.com/Christianity/The-True-Meaning-of-Repentance.426733

Continue reading

Jan 28

TAUHID ADALAH PRINSIP DASAR AGAMA SAMAWI

Kalau kita menengok ke belakang, mempelajari kepercayaan umat manusia, maka yang ditemukan adalah hampir semua umat manusia mempercayai adanyaTuhan yang mengatur alam raya ini. Orang-orang Yunani Kuno menganut paham politeisme (keyakinan banyak tuhan): bintang adalah tuhan (dewa), Venus adalah (tuhan) Dewa Kecantikan, Mars adalah Dewa Peperangan, Minerva adalah Dewa Kekayaan, sedangkan Tuhan tertinggi
adalah Apollo atau Dewa Matahari.

Orang-orang Hindu -masa lampau juga mempunyai banyak dewa, yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Keyakinan itu tercermantara lain dalam Hikayat Mahabarata. Masyarakat Mesir, tidak terkecuali. Mereka meyakini adanya Dewa Iziz, Dewi Oziris, dan yang tertinggi adalah Ra’. Masyarakat Persia pun demikian, mereka percaya bahwa ada Tuhan Gelap dan Tuhan
Terang. Begitulah seterusnya. Continue reading

Jan 17

Islam dihujat : Unitas atau Trinitas?

III. ALLAH
Jangan berkata tentang Allah

Kecuali yang Haq…

ALLAH, TUHANKU DAN TUHANMU

Oleh : Irene handono

menjawab buku islamic Invation (robert morey)

Unitas atau Trinitas?

Pada bab “Jangan berlebih-lebihan” kita telah membahas doktrin trinitas berdasarkan kronologis pemunculannya berikut koreksi al-Qur’an atas kesalahan-kesalahan paham tersebut.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang paham trinitas ini, maka akan kami ketengahkan beberapa penjelasan yang berkembang dalam tradisi Kristen. Pengalaman salah satu penulis buku ini (Irena Handono) pada saat menjadi suster di Biara, dapat mernberikan gambaran tentang tradisi Kristen dalam memahami trinitas.

Pada usia anak-anak Irena kecil dididik dilingkungan Kristen Katolik. Tradisi gereja diterimanya seperti anak-anak Kristen lainnya. Namun ketika menginjak dewasa -apalagi sebagai biarawati yang selalu mengkaji masalah keagamaan­doktrin Trinitas yang selama ini ia pahami membuat dirinya kebingungan untuk menalarnya. Kebingungan dalam memahami doktrin Trinitas dan masalah ketuhanan -yang menjadi dasar dari sebuah keyakinan keagamaan- mendorongnya untuk mencari sumber lain, yang akhirnya bertemu al-Qur’an. Karena tidak mengerti cara membuka kitab suci Al-Qur’an, maka ayat Al-Qur’an yang pertama kali dipelajari adalah yang letaknya di belakang, yaitu surat A1 Ikhlas. Surat pendek yang mengajarkan masalah ketuhanan dengan sangat jelas dan tegas, tanpa analogi yang bertele-tele. Surat al-Ikhlas inilah yang kelak merubah kehidupannya secara drastis. Continue reading

Jan 17

Islam dihujat : dewa bulan

III. ALLAH
Jangan berkata tentang Allah

Kecuali yang Haq…

DEWA BULAN

oleh :Irene handono

menjawab buku the islamic invasion (robert morey)

Tradisi Kristen yang telah kita bahas diatas rupanya ingin diimbaskan kepada ajaran Islam dengan mengembalikan ajaran Islam pada paganisme Arab dan menghilangkan fakta sejarah bahwa paganisme Arab tersebut adalah paham yang diperangi habis-habisan oleh Rasulullah dan umatnya. Oleh sebab itu maka Dr. Morey menyudutkan Islam dengan mengemukakan poin-poin hujatan berikut :

1. Bahwa Umat Islam menyembah dewa bulan.

2. Tentang Allah dalam Islam dan Tuhan dalam Bibel.

Pada hujatan pertama, Dr. Robert Morey ingin mengelabuhi masyarakat bahwa umat muslim adalah masyarakat pagan, sehingga negaranya mendapatkan pembenaran atas segala apa yang mereka perbuat terhadap negara-negara Islam yang ia nyatakan pagan. Sedang dalam poin kedua ia ingin memisahkan antara kepercayaan Kristen dengan Islam. Jika yang dimaksud adalah Kristen Trinitas maka adalah benar tidak sama, karena umat Islam menESAkan Tuhan sementara Kristen Trinitas “menyekutukan” Tuhan. Tapi kalau yang dimaksud adalah Kristen Unitarian (Nazaren/Nashoro) tentu saja masalahnya lain, karena mereka berpaham monoteisme. Suatu upaya pembuktian Class of Civilization yang ujung-ujungnya adalah kekuasaan dan Ekonomi (Minyak).

Dr. Robert Morey menyatakan bahwa Allah adalah nama dari Dewa Bulan yang disembah di Arab sebelum Islam. Hal ini ia kuatkan dengan pernyataan bahwa :

  • Nama Allah sudah dikenal masyarakat Arab sebelum kenabian Muhammad.

  • Adanya nama-nama seperti Qomaruddin, Syamsuddin.

  • Kepercayaan Jahiliyah (PraIslam), agama Astral.

  • Berhala yang ada di Ka’bah.

  • Simbol bulan sabit.

Yang agak memalukan bahwa dalam membuktikan tuduhan-tuduhannya tersebut Pak Doktor ini banyak memanipulasi pernyataan dari penulis-penulis yang menjadi rujukannya. Sebagai Contoh :

- Untuk menguatkan pendapatnya bahwa “dewa bulan dipanggil dengan berbagai nama, salah satunya adalah Allah’” ia merujuk pada halaman 7 dari Buku Guillame yang berjudul Islam. Tetapi sebenarnya Guillame mengatakan di halaman yang sama : “Di Arab Allah telah dikenal dari sumber umat Kristen dan Yahudi sebagai Tuhan yang Esa, dan tidak ada keraguan meslvpun dia telah dikenal oleh Pagan Arab di Mekkah sebagai yang Tertinggi.”1

- Dr. Morey juga mengutip dari penulis non-Muslim Caesar Farah di ha128. Tetapi pada saat dirujuk dalam buku tersebut didapati bahwa Dr. Morey hanya mengutip sebagian dan meninggalkan pokok bahasan dari buku tersebut. Buku tersebut sebenarnya menyatakan bahwa Tuhan yang dipanggil il oleh orang Babilon dan EI oleh orang Israel telah dipanggil ilah, al-ilah, dan Allah di Arab. Farah mengatakan lebih lanjut pada halaman 31 bahwa sebelum Islam orang pagan telah mempercayai bahwa Allah adalah dewa tertinggi. Dikarenakan mereka sudah mempunyai 360 berhala, tetapi Allah bukan salah satu dari 360 berhala tersebut. Sebagaimana Caesar Farah menyatakan di halaman 56, bahwa Nabi Muhammad saw, telah menghancurkan berhala-berhala tersebut.

Nama Allah sebelum Islam

Adanya kata Allah sebelum masa Islam, seperti yang dikatakan Robert Morey bahwa Ayah Rasulullah bernama Abdullah (hamba Allah), tidak sepantasnya dijadikan alasan bahwa Allah tersebut adalah dewa bulan.

Seperti yang pernah kita bahas sebelum ini bahwa El, Eloy, Allah, Yahweh, Ya Hua, Elohem,Allahumma; adalah kata-kata yang dipakai oleh masing-masing bangsa -saat itu- untuk menyebut Tuhan. Dan kata Allah adalah kata yang dipakai oleh bangsa Arab untuk menyebut Tuhan khususnya oleh para Ahnaf (masyarakat Arab yang mengikuti tradisi Ibrahim). Dan nama itu tidak termasuk dalam jajaran nama-nama berhala dan dewa­dewa Arab. Permasalahannnya bukan hanya pada kata-kata itu saja, kemudian kita menilai paham suatu masyarakat. Tapi pada cara penyikapan kepada “Tuhan” yang disebut menurut bahasa mereka sendiri-sendiri. Bangsa Israel yang menggunakan kata Yahweh untuk merefleksikan pemahaman mereka tentang konsep “Tuhan” dibimbing oleh rasul dan nabi mereka untuk meluruskan pemahaman dan penyikapan terhadap Tuhan yang mereka sebut Yahweh. Begitu juga masyarakat Arab yang pada masa jahiliyah memakai kata Allah untuk menyebut Tuhan dibimbing oleh Rasulullah Saw untuk menyikapi dan memahami apa yang mereka sebut Allah itu. Cara penyikapan inilah yang diajarkan oleh masing-masing rasul dan nabi kepada umatnya, yaitu meng-ESA-kan. Kalau ukurannya hanya pada tataran kata saja untuk menilai paham suatu umat, maka Yahudi dan Kristen luga pagan, karena nama “EL’ yang dipakai IsraEL adalah Tuhan dari bangsa Kan’an yang menurut mereka pagan.

Qomaruddin dan Syamsuddin

Pembaca dari kalangan Muslim mungkin akan tertawa ketika dikatakan bahwa nama-nama Cak Qomar dan Cak Udin luga kang Najam dijadikan bukti adanya penyembahan terhadap dewa bulan. Menurut Dr. Robert Morey :

  • Agama Penyembah Bulan disebut Komaruddin.
    Komarun = Bulan; Dinun = Agama.2

Begitu juga dengan nama Syamsuddin dan Najmuddin, keduanya diterjemahkan dengan cara yang sama.

Komarun berarti bulan dan dinun berarti agama maka arti dari nama tersebut adalah “bulannya agama”, maksudnya seorang yang dengan agamanya berkiprah di masyarakatnya seperti bulan yang bersinar terang benderang, membawa nama baik agamanya. Begitu syamsuddin, di harapkan oleh orang tuanya agar lebih bersinar seperti matahari yang selalu memberi manfaat kepada manusia. Nama-nama muslim yang dinisbatkan kepada dien (agama) memiliki makna senada, seperti saifuddin (pedang agama), adalah harapan orang tuanya agar anaknya mampu membela agamanya ibarat sebuah pedang yang siap dipakai kapan saja. Sedang “penyembah bulan” kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Arab abid al-Qomar. Begitu juga dengan dua nama lainnya.

Masyarakat Arab pada masa pra Islam seringkali menamakan budaknya dengan nama-nama yang dapat menyenangkan hati mereka seperti nama Qomar dan Syams, diharapkan agar budaknya dapat menerangi mereka seperti namanya. Sedang untuk mereka sendiri, mereka memakai nama­nama yang menyeramkan, untuk menakuti musuh-musuhnya, seperti Kilab (anjing-anjing), Asad (singa), Namir dan Fahd (harimau). Pada masa Rasulullah nama-nama jahiliyah banyak dinisbatkan langsung pada Allah, seperti Saifullah (pedang Allah), Asadullah (Singa Allah) dan lain sebagainya. Rasulullah meluruskan kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah bahkan pada masalah nama.

Pada masa selanjutnya ketika perbudakan sudah terhapuskan, dan para mantan budak yang membentuk komunitas tersendiri, tampil dalam pemerintahan. Mereka dikenal sebagai kaum Mawali (orang-orang yang meminta perlindungan). Untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat yang sebelumnya adalah tuan-tuan mereka, maka mereka menisbatkan nama-nama, mereka kepada kata din (agama). Hal ini sejalan dengan perkembangan zaman yang tidak lagi menisbatkan nama-nama kepada tuan-tuannya, sebab zaman perbudakan sudah berakhir, dan semua mereka adalah sama dalam urusan agama. Maka kita melihat bahwa nama-nama seperti Qomaruddin dan Syamsuddin tidak pernah kita temukan pada masa jahiliyah, ataupun pada masa Rasulullah, nama-nama itu baru muncul kemudian pada saat mantan budak memegang tampuk pemerintahan.

Pada masa sekarang nama-nama di atas tidak dipakai untuk menyenangkan tuan, tidak juga untuk legalitas kekuasaan. Nama-nama itu dipakai umat muslim dengan maksud yang berbeda, karena mereka hanya melihat arti dari nama-nama itu, yang diharapkan pemiliknya dapat menjadi seperti namanya.

Kepercayaan masa Jahiliyah (Pra Islam)/Agama Astral

Menurut Dr. Morey : “Allah, dewa bulan, kawin dengan dewa matahari. Mereka berdua mempunyai tiga orang puteri yang disebut putri-putri Allah. Ketiga putri tersebut AI-Lata, AI­Uzza, dan Manat”. Untuk memperkuat anggapannya ia memanipulasi pernyataan Guilluame seperti yang kita ungkap sebelum ini.

Bahwa masyarakat Arab pra Islam memiliki kepercayaan terhadap bintang dan bulan juga matahari memang benar, hanya saja Dr. Morey berhenti sampai disini untuk menyatakan bahwa yang disembah oleh umat Muslim adalah dewa bulan, padahal kepercayaan yang semacam inilah yang diserang dengan keras oleh Rasulullah tanpa kompromi sedikitpun. Itulah sebabnya maka masa tersebut dikatakan sebagai masa Jahiliyyah (zaman kebodohan). Terjemah ayat-ayat berikut ini akan menggambarkan bagaimana Rasulullah secara radikal menyerang kepercayaan masyarakatnya :

Maka apakah patut bagi kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al- Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan; Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama­nama yang kamu dan bapak-bapak karnu mengada­adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan rnereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita­citakannya (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. ” (QS. An-Najm 19-25).

Berhala di dalam Ka’bah

Berikut ini adalah salah satu dari pernyataan tidak berdasar yang dilontarkan oleh Robert Morey : Ada satu berhala Allah ditempatkan di ka’bah bersama dengan semua ilah-ilah berhala lain. Penyembah-penyembah berhala sembahyang menghadap Mekah clan Kaabah karena di sanalah dewa-dewa mereka disemayamkan”. Kita tidak tahu dari mana pak Doktor mendapatkan sumbernya, tapi yang jelas tidak pernah melihat Ka’bah secara langsung apalagi masuk di dalamnya.

Pada Masa Jahiliyah -tradisi menyebut demikian untuk membedakan antara masa kebenaran dan kebodohan-, banyak berhala ditempatkan di Ka’bah tapi tidak ada satupun berhala disebut Allah. Dan berhala-hala yang amat banyak tersebut telah dihancurkan oleh Rasulullah saat memasuki Makkah, setelah sebelumnya umat Islam diusir dari Makkah. Rasulullah sendiri pada saat sebelum menjadi nabi, pernah bersumpah dihadapan Khadijah istrinya bahwa beliau “tidak akan menyembah uzza selamanya”, hal ini jelas membedakan antara Allah dan ilah­ilah lainnya, sebab saat itu agama Hanifah (jalan lurus) ajaran Ibrahim As. masih bertahan di Makkah, walaupun pengikutnya tidak sebanyak para pagan. Kini jangankan di Ka’bah di rumah seorang muslim saja tidak akan ada berhala. Sangat berbeda dengan Rumah dan Kantor Robert Morey yang mungkin memasang patung salib di sudut ruang atau kamarnya.

Dewa bulan dan Simbol Bulan Sabit

Simbol bulan sabit yang sering dipakai umat muslim dianggap sebagai simbol penyembahan dewa bulan oleh Dr. Robert Morey. la menyatakan : “Simbol penyembahan dewa bulan dalam budaya Arab dan di tempat-tempat lain di seluruh timur tengah adalah bulan sabit”. Gambar bintang yang biasa berada ditengah bulan sabit tidak disebut, karena Amerika memakai simbol bintang.

Dr. Robert Morey dan para orientalis Barat menuduh dengan bertanya kenapa umat Islam memakai simbol bulan sabit untuk agama mereka? Atau kenapa bulan dipakai untuk menandai bulan baru?. Mereka sengaja bertanya dengan logika yang salah dari sesuatu yang tersembunyi, sejak saat umat Islam memakai bulan sabit sebagai simbol, maka dikatakan bahwa umat Islam menyembah “dewa bulan”. Ini tidak benar sebagaimana anggapan bahwa sejak umat Yahudi mengambil bintang David sebagai simbol, maka umat Yahudi menyembah bintang, berarti umat Kristen juga menyembah patung salib saat mereka memakai simbol tersebut, atau menyembah matahari saat menggunakan tanda silang dari sinar matahari.

Islam tidak pernah mengajarkan untuk menyembah bulan. Dalam firman Allah disebutkan:

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. ” (QS. Fushshilat 37)

Ayat ini diperkuat dengan ayat lain, bahwa bulan bukanlah object penyembahan.

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalarn siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (QS. Luqman 29).

Jika Allah adalah “dewa bulan” seperti yang dituduhkan oleh Dr. Morey, apa mungkin “dewa bulan” menciptakan bulan untuk dipakai oleh manusia?. Dengan bukti di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa umat Islam hanya menyembah `Allah” saja, dan bukan menyembah dewa bulan. Kepercayaan terhadap kekuatan benda-benda angkasa yang pernah berkembangan di Mesir, Babilonia, serta Asiria, mungkin saja mempengaruhi Jazirah Arab, sebab secara geografis letaknya tidaklah berjauhan; Hanya saja pada masa Rasulullah kepercayaan tersebut diluruskan dengan menempatkan benda-benda tersebut pada tempat dan fungsinya. Seperti bulan -misalnya-, seperti yang pernah ditanyakan oleh masyarakatArab kepada Rasulullah, ditempatkan sebatas untuk menandakan pergantian waktu. Sebagaimana Firman Allah di Surat Al Baqarah 189:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”.

Dari riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: Untuk apa diciptakan bulan sabit?” maka turun ayat tersebut yang

memerintahkan Rasulullah untuk menjawab bahwa bulan adalah untuk menunjukkan waktu kepada manusia kapan mereka harus memakai pakaian ihram pada waktu haji dan kapan harus menanggalkannya, atau kapan mereka harus memulai puasa dan kapan harus mengakhirinya. Dari sini, dapat kita ketahui bahwa tidak ada kepentingan penyembahan kepada bulan, tetapi hanya sebagai Penunjuk pergantian waktu, seperti Haji clan Puasa. Pada masa Khalifah Umar umat Muslim membuat penanggalan berdasarkan hitungan bulan, yang dimulai sejak masa Hijrah.

Yang menarik untuk dicatat bahwa umat Yahudi juga memakai Penanggalan Hijriah untuk menandai perayaan suci mereka. Penanggalan keagamaan Umat Yahudi, yang aslinya dari Babilonia, terdiri dari 12 bulan Qomariah/Hijriah, terhitung 354 hari. Dan penghitungan hari dimulai dari tenggelamnya matahari sampai tenggelam lagi.3

Maka bila dikatakan bahwa Islam menyembah “dewa bulan” dikarenakan memakai penanggalan yang berdasarkan bulan, maka apakah agama orang Yahudi, yang juga memakai penanggalan yang berdasarkan bulan ? berdasarkan “logika” Dr. Robert Morey maka umat Yahudi ” juga “penyembah bulan”. Demikian juga bila umat Kristen memakai penanggalan yang berdasarkan perputaran matahari, apakah mereka juga menyembah matahari ? Mari kita simak keterangan berikut ini. Penanggalan yang pertama adalah penanggalan yang berdasarkan bulan. Kebudayaan kuno, seperti Siria, Babilonia, Egypt, dan Cina telah memakai penanggalan bulan, sebagaimana budaya Semit juga mengambil penanggalan bulan untuk menandai waktu mereka. Setelah kita ketahui kenyataan bahwa umat Yahudi dan Islam, dalam tradisi budaya Semit, sama-sama memakai penanggalan Qomariah untuk menandai bulan mereka. Maka kenapa umat Kristen memakai penanggalan yang berdasarkan matahari menggantikan penanggalan bulan. Hal ini berkaitan erat dengan rekayasa perayaan natal tanggal 25 Desember clan pengaruh pemikiran-pemikiran pagan yang berporos pada penyembahan dewa Re (dewa matahari) dalam Kristen. Untuk melengkapi bahasan ini, maka akan kami sertakan secara ringkas kajian tentang perayaan natal 25 Desember oleh umat Kristen.

Asal Usul Perayaan Natal 25 Desember

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari; day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/ penyem-bahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan=Yesus). Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, Juga diputuskan: Pertama , hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke- 4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang. Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang dewa matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?

Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).

Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi “Mesiah palsu”, berupa dewa “13a-al” anak dewa matahari dengan obyek penyembahan “Ibu dan Anak” (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia bernama “Cybele dan Deoius”, di Roma disebut Fortuna dan Yupiter”, bahkan di Yunani. “Kwan Im” di Cina, Jepang, dan Tibet. Di India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan lain-lain.

Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa):

  1. Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.

  2. Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.

  3. Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.

  4. Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana’an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.

  5. Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.

Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates (bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus, Yupiter, Minersa, Easter.

Jadi, konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba4.

Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada Jemaat di Roma:

“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya; mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Roma 3:7) “.

Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:

Jawab Yesus kepada mereka : “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang”. (Matius 24:4-5)”.

NOTES

1.Mohd Elfi Nieshaem Juferi, www. Bismikallahumma.org.

2. Ibid 56.

3. lihat http://www.webear.com/reliengl.htm#*top4, dalam Mohd Elfi Nieshaem Juferi, www. Bismikallahumma.org.

4. Keterangan lebih jelas lihat buku saya, Hj. Irena Handono, Perayaan Natal 25 Desember -Antara Dogma dan Toleransi”, Bima Rodheta, 2003


Nov 13

Menjawab Tuduhan Duladi :Analisa Kritis ,Siapakah Allah-nya Kabah ?

Oleh : Montir kepala

Allah yang diyakini oleh masyarakat pre Islamic dan masyarakat islamic age sebagaimana kita tahu adalah Allah yang diyakini oleh ahli KItab.
hal ini bisa dibuktikan dgn adanya ibadah kunjungan (alias ibadah haji) dari orang2 ahli kitab ke kabah.
seorang sejarawan Barat menulis begini :

Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization, University of Chicago Press, p.156 :
According to Marshall Hodgson, it seems that in the pre-Islamic times, some Arab Christians made pilgrimage to the Kaaba, a pagan temple at that time, honoring Allah there as God the Creator.
Merujuk pada Marshall Hodgson, terlihat bahwa dalam masa sebelum Islam, beberapa orang kristen Arab melakukan ibadah kunjungan (haji) ke Kabah, kuil pagan (musyrikin) saat itu, untuk mengagungkan Allah di sana sebagai Sang Khalik.

ilmuwan selevel Marshall ini tentunya lebih bisa masuk akal dibanding ilmuwan gereja bulukan yang telah kita kenal yaitu Prof. Dr. Pdt. DULADOWI yang melakukan analisa kritis tapi akut ..

dalam literatur Islam klasik yakni Sahih Bukhari, pendapat Marshal ini didukung oleh hadits berikut :

Sahih Bukhari,Volumn 004, Book 055, Hadith Number 570.
Narated By Ibn Abbas : The Prophet entered the Ka’ba and found in it the pictures of (Prophet) Abraham and Mary. On that he said’ “What is the matter with them (i.e. Quraish)? They have already heard that angels do not enter a house in which there are pictures; yet this is the picture of Abraham. And why is he depicted as practicing divination by arrows?”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas : Nabi Memasuki Kabah dan menemukan di dalamnya gambar2 Nabi Ibrahim dan Maria (ibu Yesus). melihat itu beliau bersabda “Kenapa dengan mereka ini ? (Quraisy) mereka sudah mendengar bahwa malaikat2 tdk memasuki sebuah rumah yang ada gambarnya; dan ini gambar Ibrahim. dan mengapa dia menggambarnya mengundi dgn panah ???”

oleh karena itu sejarawan Barat lain juga menyatakan kesimpulan yang sama :

Columbia Encyclopedia, Allah :
Arabic-speakers of all Abrahamic faiths, including Christians and Jews, use the word “Allah” to mean “God”.
Arabic speakers dari seluruh agama ibrahim, termasuk kristen dan yahudi, menggunakan kata “ALLAH” yang bermakna “God”

Lewis, Bernard; Holt, P. M.; Holt, Peter R.; Lambton, Ann Katherine Swynford (1977). The Cambridge history of Islam. Cambridge, Eng: University Press, 32 :
The Christian Arabs of today have no other word for ‘God’ than ‘Allah’.
Kristen2 Arab hari ini tidak punya kata lain untuk “God” selain “ALLAH”

jadi kalo begini adanya …bgm mungkin dagangan si Duladi (antek FFI) bakalan laku ???

sumber : Answering-ff.org

Nov 12

TUHAN KEBAIKAN, TUHAN KEJAHATAN

sumber : http://forum.swaramuslim.net/more.php?id=3940_0_15_0_M

Tulisan ini saya angkat kembali menjadi topik baru, merupakan hasil diskusi dengan beberapa netters Kristen disini yang menyangkut tentang ‘gugatan’ mereka terhadap konsep ketuhanan dalam ajaran Islam yang mengatakan Tuhan menciptakan segalanya termasuk kejahatan. Padahal disisi lain, ajaran Kristen mempunyai konsep bahwa Tuhan tidak menciptakan kejahatan, tapi kejahatan muncul karena adanya penyimpangan dari kehendak Tuhan. Namun sebenarnya tulisan saya sekaligus juga merupakan tanggapan terhadap tulisan tokoh Jaringan Islam Liberal, sdr. Ulil Abshar Abdalla dalam website mereka bebarapa tahun yang lalu :

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=571

Kedua pemikiran ini saya simpulkan merupakan dua ‘kutub ekstrim’ kiri dan kanan, mencoba memikirkan tindakan Tuhan dalam perspektif kemanusiaan, dan keduanya bermuara kepada kesimpulan yang salah. Yang satu berkesimpulan bahwa ada sesuatu yang eksis/ada/wujud tanpa diciptakan oleh Tuhan, yang lainnya beranggapan bahwa Tuhan adalah wujud yang sedang berproses dan mempunyai dua aspek yang paradoksal, yang ‘memancar’ dalam kehidupan manusia. Apa yang terjadi dalam kehidupan merupakan gambaran tentang wujud Tuhan.

Apa itu kejahatan..?? apa itu kebaikan..??, Sesuatu hal kita bilang sebagai ‘jahat’ atau ‘baik’, karena KEMANUSIAAN KITA MEMBERI NILAI kepada sesuatu sebagai jahat dan baik. Mengapa perbuatan menipu, merampok, berzina, mencaci-maki, dikatakan sebagai perbuatan jahat..?? sebaliknya mengapa perbuatan : menolong, membantu, ramah, sopan, dikatakan sebagai perbuatan baik??? Karena dalam batas kemanusiaan kita, semua hal tersebut sudah kita beri nilai baik dan jahat.

Ketika semua atribut itu kita ‘cantelkan’ kepada Tuhan, apakah anda pikir masih mempunyai ‘nilai’ yang sama..?? makanya saya bilang : apakah sesuatu yang kita nilai sebagai baik, adalah baik dan apakah sesuatu yang kita nilai sebagai jahat akan bernilai sama kalau itu kita kaitkan dengan tindakan Tuhan..?? Maka semua tindakan Tuhan tidak tepat kalau dibagi kepada dikotomi baik dan buruk, kita hanya bisa mengatakan bahwa apapun yang dilakukann oleh Tuhan itu adalah tindakan yang Ilahiyah (Godly thing) dan Tuhan tidak mungkin melakukan tindakan yang tidak Ilahiyah (Ungodly thing). Tindakan Keilahian tidak sama dengan kebaikan dalam perspektif manusia, sebaliknya tindakan Tidak Ilahiyah tidak sama dengan keburukan dalam perspektif kemanusiaan. Dalam Al-Qur’an disampaikan bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia, dengan hikmah, bukan main-main dan dengan hak :

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran)

27. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shaad)

38. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. 39. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Ad Dukhaan)

Tuhan menciptakan segala-galanya, apakah itu dinilai baik atau buruk dari sisi kemanusiaan, dan semuanya adalah tindakan yang Ilahiyah, dan Tuhan tidak mungkin berbuat yang tidak Ilahiyah (Ungodly thing), apa contohnya : misalnya Tuhan tidak mungkin menciptakan Tuhan yang lain yang sama besar dan sama berkuasa, atau tidak mungkin menciptakan suatu benda yang sangat berat sehingga Tuhan sendiri tidak sanggup untuk mengangkatnya, atau Tuhan berniat membuang manusia keluar dari kekuasaan-Nya, semua itu adalah tidak mungkin dilakukan oleh Tuhan, karena kalau itu yang terjadi maka tuhan tersebut bukanlah Tuhan. Contoh-contoh tindakan yang Tidak Ilahiyah tersebut tidak bisa diatributkan kepada perbuatan baik atau jahat, apakah contoh tersebut adalah perbuatan jahat dari Tuhan..?? sekalipun dikatakan tidak Ilahiyah..??

Lalu darimana manusia bisa membedakan mana yg baik dan yg jahat? Ketika Allah menciptakan manusia maka kemampuan untuk menilai sesuatu sudah ditanamkan Allah dalam hati (qalbu)

. Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Al Mu’minuun).

Qalbu (diterjemahkan dengan hati, sebenarnya yang lebih tepat adalah ‘jiwa = soul) merupakan ‘jembatan’ antara manusia dengan Allah, Melalui qalbu ini Allah kemudian memberikan petunjuknya, mana perbuatan yang digolongkan sebagai kebaikan dan kejahatan DALAM PERSPEKTIF KEMANUSIAAN. Penjelasan mengenai qalbu ini bisa anda baca pada tulisan saya :

http://forum.swaramuslim.net/threads.php?id=3855_0_14_0_C

Al-Qur’an juga menyebut tentang kejahatan, maka itu artinya Allah ‘berbicara’ kepada manusia dan memberikan petunjuk (ini diartikan betul-betul petunjuk, yaitu aturan-aturan dan pedoman hidup sesuai yang tercantum dalam Al-Qur’an). Apa yang diperintahkan Allah, itulah kebaikan, apa yang dilarang itu menjadi kejahatan atau keburukan. Tapi kebaikan dan kejahatan tersebut berada dalam ruang lingkup kemanusiaan kita, dan tidak terkait dengan Tuhan, karena seperti yang sudah saya sampaikan, apabila kita mencoba ‘mengukur’ Tuhan dari nilai baik buruk kemanusiaan kita, maka Tuhan sudah menjadi objek kemanusiaan kita tersebut, maka kesimpulan apapun yang dihasilkan pasti ngawur. Contohnya seperti doktrin Kristen : “Tuhan adalah baik, dan tidak mungkin menciptakan kejahatan”, itu artinya kita telah ‘mengukur’ Allah dengan nilai-nilai kemanusiaan kita. Mungkin pernyataan yang lebih tepat adalah : “Apapun yang telah diciptakan Allah bagi manusia adalah baik, sekalipun dalam nilai-nilai kemanusiaan mungkin tidak baik”. Tapi yang lebih tepat lagi seperti apa yang disampaikan Allah dalam Al-Qur’an melalui do’a hamba-Nya yang berpikir :”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia”. Seorang Muslim tidak menyibukkan dirinya menilai perbuatan Allah, tapi lebih fokus kepada memikirkan apa hikmah dibalik ciptaan Allah tersebut.