Perjalanan Shrawan Nayak dari rumah ke tempat kerja pp. setiap harinya dihiasi perasaan sedih dan frustasi. Bekerja sebagai buruh harian, Nayak harus melewati sebuah pabrik bubuk mineral yang berdiri di atas lahan luas, termasuk 7 hektar lahan pertanian milik Nayak dan ayahnya dulu.
Tidak lama setelah Coca-Cola mendirikan pabrik itu, Kala Dera, sebuah wilayah di Rajastan yang kering, semakin kekeringan. Pabrik milik Coca-Cola yang berada di tengah pertanian rakyat itu mengeksploitasi persediaan air tanah, sehingga lahan-lahan pertanian rakyat menjadi tandus.
“Permukaan air tanah sangat dalam, sehingga hampir mustahil untuk pertanian. Seperti kebanyakan petani lainnya di Kala Dera, kami terpaksa menjual tanah kepada pabrik pembuat bubuk mineral itu, delapan tahun lalu,” kata Nayak, 41, yang dulu bertani gandum, padi-padian dan sayuran. Dia juga terpaksa menjual sapi dan kerbaunya. Continue reading →