Dr. Viacheslav
Polosin adalah lulusan Universitas Moskow, Fakultas Filsafat, jurusan sosiologi, tahun 1978.
seorang pater yang masuk dalam jajaran pejabat tinggi di Gereja Ortodoks Rusia. Pria kelahiran Moskow, 26 Juni 1956 mulai bekerja untuk Gereja Ortodoks pada tahun 1980 sebaga seorang “Reader” (orang yang bertanggung jawab untuk membacakan kutipan-kutipan kitab suci dalam peribadatan).
Ia kemudian belajar teologi di sebuah seminari di Moskow. Setelah lulus dari seminari tahun 1983, Polosin ditunjuk sebagai diaken (mengerjakan tugas-tugas pelayananan gereja), lalu diangkat menjadi pater.
Polosin bertugas menjadi pater di sejumlah paroki di kawasan Asia Tengah sampai tahun 1985. Ia pernah menjadi kepala gereja di kota Dushanbe, tapi kemudian dideportasi dari wilayah itu oleh otorita pemerintahan Soviet atas tuduhan membangkang pemerintahan komunis Soviet. Polosin lalu bekerja sebagai penerjemah paruh waktu di departemen penerbitan Kantor Keuskupan di Moskow. Continue reading
Sebelum mengenal Islam, Abdullah Drury hidup di tengah keluarga dengan beragam agama. Ibunya menganut aliran Saksi Yehovah, ayahnya ia sebut sebagai “mantan Katolik”, seorang pamannya penganut apostolik dan beberapa anggota keluarganya memeluk agama Kristen Anglikan. Meski demikian, lelaki asal Selandia Baru itu, dibesarkan dengan atmosfir toleransi yang kental.
Perjalanan saya ke Islam adalah sangat sensitif sejak keluarga Yunani Ortodoks saya tinggal di Turki untuk sebagian besar hidup mereka. Meskipun saya lahir di Athena, Yunani, ayah saya, yang lahir dan dibesarkan di Istanbul untuk keluarga kaya dan berpendidikan, seperti orang lain yang tinggal di negara Muslim – dia memegang erat-erat identitas agama.
Data terbaru (MASK) menyebutkan selama rentang bulan Januari-Juli 2011, individu yang memutuskan masuk Islam mencapai 176 orang. Jadi, secara keseluruhan semenjak tahun 1993, individu yang memutuskan masuk Islam di MASK. mencapai 16.178 orang. “Bulan Juni lalu saja mencapai 32 orang,” papar Kepala Bidang Pembinaan Mualaf, MASK, Anwar Sujana kepada Republika.co.id, Jum’at (8/7).
Aisha Bhutta, yang juga dikenal sebagai Debbie Rogers, duduk dengan tenang di sofa di ruang depan rumah petak besarnya di Cowcaddens, Glasgow Skotlandia. Dinding rumahnya digantung dengan kutipan dari ayat Alquran, sebuah jam khusus untuk mengingatkan keluarganya waktu shalat dan poster Kota Suci Mekkah.