Di tengah berbagai skandal korupsi, polisi aktif menangkap dan menembak teroris. Ada yang membandingkannya dengan pemberantasan Komando Jihad Orde Baru
BETAPA lancar Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menyebut nama para tersangka teroris yang ditangkap, yang sudah ditembak mati, atau yang masih buron. Tapi di antara banyak nama yang berhamburan dalam konprensi pers Kapolri Jumat, 14 Mei lalu, ada satu nama yang istimewa: Abdullah Sunata.
Pria kelahiran 4 Oktober 1978 di Bambu Apus, Jakarta inilah yang memimpin pelatihan militer sekelompok orang yang dituduh teroris di Aceh yang menyebabkan “hantu” terorisme kembali menakutkan masyarakat. Sebelumnya orang sudah lega setelah tokoh teroris Noordin Muhammad Top dan para pelaku pengeboman J.W.Marriott dan Ritz Carlton – dua hotel bermodal Amerika Serikat di Jakarta — berhasil diringkus mau pun ditembak mati polisi. Continue reading
Seorang sopir Long Island yang sakit hati mendapat pesan bagi lima anak-anaknya yang masih kecil: Ayah bukan teroris.
Beberapa hari yang lalu berita yang paling Hangat di Media Massa adalah Penggrebekan orang orang yang diduga terkait dengan kelompok jaringan Teroris.
Islamofobia telah mempopulerkan istilah “tidak semua Muslim itu teroris, tapi (hampir) semua teroris itu Muslim.” terlepas dari ide ini menjadi aksioma di beberapa lingkungan, hal ini sungguh tidak faktual. Dalam artikel berjudul “Semua teroris itu muslim… kecuali 94% saja yang bukan”, catatan resmi FBI menunjukkan bahwa hanya 6% saja dari serangan teroris di tanah Amerika Serikat dari tahun 1980 hingga 2005 dilakukan oleh ekstrimis Muslim. Sisanya yang 94% itu berasal dari kelompok lain (42% orang Latin, 24% dari kelompok sayap kiri, 7% dari ekstrimis Yahudi, 5% dari komunis, dan 16% dari kelompok yang lain lagi). 
Penggrebekan sejumlah orang yang diduga “teroris” di Pamulang dan beberapa titik lainnya oleh tim Densus 88 dinilai pengamat masih tidak profesional. Hal itu tidak lain karena korban dengan status baru, sudah dibunuh di tempat.