Mei 20

Berburu di Kebun Binatang

Di tengah berbagai skandal korupsi, polisi aktif menangkap dan menembak teroris. Ada yang membandingkannya dengan pemberantasan Komando Jihad Orde Baru

oleh: Amran Nasution*

BETAPA lancar Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menyebut nama para tersangka teroris yang ditangkap, yang sudah ditembak mati, atau yang masih buron. Tapi di antara banyak nama yang berhamburan dalam konprensi pers Kapolri Jumat, 14 Mei lalu, ada satu nama yang istimewa: Abdullah Sunata.

Pria kelahiran 4 Oktober 1978 di Bambu Apus, Jakarta inilah yang memimpin pelatihan militer sekelompok orang yang dituduh teroris di Aceh yang menyebabkan “hantu” terorisme kembali menakutkan masyarakat. Sebelumnya orang sudah lega setelah tokoh teroris Noordin Muhammad Top dan para pelaku pengeboman J.W.Marriott dan Ritz Carlton – dua hotel bermodal Amerika Serikat di Jakarta — berhasil diringkus mau pun ditembak mati polisi. Continue reading

Mei 17

Gara Gara dicurigai Teroris,seorang Sopir akan Gugat FBI

Seorang sopir Long Island yang sakit hati mendapat pesan bagi lima anak-anaknya yang masih kecil: Ayah bukan teroris.

Muhammad Iqbal mengancam akan menggugat FBI setelah agen mereka menanyainya terus-menerus tentang pengeboman di Times Square selama lima jam karena anak-anaknya yang ketakutan melihat dari dalam rumah mereka.

“Saya tidak ingin anak-anak saya dikatai ayahnya seorang teroris,” Iqbal yang masih marah itu mengatakan di Shirley, L.I., rumahnya.

Iqbal, 45 tahun, menuntut permohonan maaf atas apa yang dianggapnya penggambaran rasial setelah agen FBI menghantam pintu depan kediamannya di pinggir kota sekitar jam 6 pagi hari Kamis. Continue reading

Mei 16

Tindakan Densus 88 yang Main Tembak Dikecam Berbagai Pihak

Beberapa hari yang lalu berita yang paling Hangat di Media Massa adalah Penggrebekan orang orang yang diduga terkait dengan kelompok jaringan Teroris.

dan seperti penggrebekan penggrebekan sebelumnya dalam penggrebakan tersebut ada beberapa orang yang harus ditembak mati

Wakil Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS), Haris Azhar, mengritik tindakan Densus 88 yang ringan tangan menembak hingga mati tersangka teroris. Tindakan brutal itu dinilai tak membuahkan solusi untuk mengentaskan terorisme.

”Penembakan terhadap mereka yang diduga teroris justru akan meniadakan info untuk membongkar jaringan teroris,” sesalnya Haris,Ahad (16/5).

Apalagi,imbuhnya, korban yang tertembak itu masih diduga sehingga belum terbukti lewat proses peradilan yang adil. Ia menilai, tindakan aparat keamanan yang semena-mena, justru hanya membuat Polri krisis profesionalisme dan kredibilitas. Continue reading

Mei 03

“Semua ‘teroris’ itu muslim… kecuali yang 99,6%

Islamofobia telah mempopulerkan istilah “tidak semua Muslim itu teroris, tapi (hampir) semua teroris itu Muslim.” terlepas dari ide ini menjadi aksioma di beberapa lingkungan, hal ini sungguh tidak faktual. Dalam artikel berjudul “Semua teroris itu muslim… kecuali 94% saja yang bukan”, catatan resmi FBI menunjukkan bahwa hanya 6% saja dari serangan teroris di tanah Amerika Serikat dari tahun 1980 hingga 2005 dilakukan oleh ekstrimis Muslim. Sisanya yang 94% itu berasal dari kelompok lain (42% orang Latin, 24% dari kelompok sayap kiri, 7% dari ekstrimis Yahudi, 5% dari komunis, dan 16% dari kelompok yang lain lagi). Continue reading

Mar 30

Kelompok ‘Teroris Kristen’ dibekuk FBI setelah Mengancam Komunitas Muslim

Sembilan orang anggota milisi Kristen di wilayah Midwest ditangkap dalam pengerebekan Joint Terrorism Task Force yang dipimpin  FBI di Michigan, Ohio dan Indiana.

Hari Ahad, seorang sumber yang dekat dengan penyelidikan di Washington, D.C. membenarkan bahwa agen-agen FBI berada di  kota kecil Washtenaw and Lenawee selama akhir pekan untuk memantau gerak-gerik Hutaree, sebuah kelompok milisi Kristen. Agen Khusus FBI di Detriot, Sandra Berchtold, kepada The Detroit News mengatakan, perintah penangkapan dikeluarkan oleh pengadilan dan dia menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut. Continue reading

Mar 11

Tim Densus 88 dinilai pengamat tidak profesional?

Penggrebekan sejumlah orang yang diduga “teroris” di Pamulang dan beberapa titik lainnya oleh tim Densus 88 dinilai pengamat masih tidak profesional. Hal itu tidak lain karena korban dengan status baru, sudah dibunuh di tempat.

Tak pelak, cara itulah yang menurut pengamat terorisme Sapto Waluyo, Densus 88 masih menggunakan strategi lama, yaitu represif atau direct action. Padahal, cara seperti itu bisa berbahaya.

“Cara direct action seperti itu akan menimbulkan boomerang effect di masyarakat,” sebagaimana yang diberitakan Hidayatullah.com

Lebih jauh, Direktur Center for Indonesian Reform ini menjelaskan, dengan menggunakan cara seperti itu, justru akan memicu tindakan terorisme baru. Kendati tidak ada hubungannya dengan terorisme, setidaknya akan menimbulkan kebencian kepada aparat. Continue reading

Mar 09

Inilah Kronologis Lengkap Penggrebekan Densus 88 di Pamulang

Tiga orang tewas dalam penggerebekan di dua lokasi di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (9/3/2010). Dalam penggerebekan di Ruko Multiplus di Jalan Siliwangi, pasukan Densus 88 menembak mati seorang lelaki. Lelaki itu ditembak di lantai dua di Ruko Multiplus.Sementara dalam penggerebekan di Gang Asem, Jalan Setiabudi, tidak jauh dari Jalan Siliwangi, pasukan Densus 88 menembak mati dua orang, yaitu laki-laki dan perempuan. Keduanya terkapar di tengah jalan. Keduanya bersimbah darah dan tergeletak tertelungkup di tengah gang.

Berikut Kronologi Penggrebekan tersebut :